
ππππππππππ
"Pulang malem lagi?" tanya Hujan saat suaminya meringsek naik ketempat tidur setelah membersihkan dirinya sepulang berkerja.
Entah pekerjaan apa yang harus membuat sang direktur dalam empat hari ini pulang lebih dari jam sebelas malam.
"Iya, baru selesai" jawab Air sambil meraih bantal pisangnya untuk di usel usel lebih dulu sebagai Ritual wajibnya sebelum terlelap.
"Dari kemarin-kemarin juga jawabnya gitu, tapi malam besoknya pulang malam lagi" cetus ibu hamil yang minggu depan sudah memasuki usia kehamilan tujuh bulan.
Hujan tidur meringkuk membelakangi suaminya yang tidur terlentang di balik punggungnya, berharap ada jawaban namun suara dengkuran halus lah yang ia dengar.
Malam ini tepat satu minggu Air tak menyentuhnya sama sekali. Jangankan menyatukan tubuh mereka, sekedar singgah pun tidak sama sekali padahal biasanya Air begitu senang main basah-basahan, malah hampir tak ada liburnya hanya demi menggali kenikmatan di kebun kecil milik sang istri.
Satu tetes air mata mengalir lagi di pipi bulat Hujan, di dalam kamar yang gelap karna hanya ada lampu tidur yang menyala Hujan mengusap perut besarnya yang sedikit ada pergerakan.
"Tidur ya sayang, kita susul papamu ke alam mimpi" gumam Hujan sebelum ia pun akhirnya terpajam masih meringkuk menunggu pelukan dari belakang oleh sang suami.
******
Hujan yang sudah bangun lebih dulu tentu langsung me menyiapkan segala sesuatu kebutuhan Suaminya.
Tubuh kecil berperut buncit itu hanya duduk di sisi ranjang menunggu Air keluar dari kamar mandi.
"Nanti jangan pulang malem ya, aku mau jalan-jalan" pinta Hujan saat ia memasangkan dasi yang melingkar di leher pria tampan yang menikahinya empat tahun lalu itu.
"Hem, aku usahakan" jawab Air langsung tanpa berfikir lagi.
Hujan menatap sang suami begitu intens, ia rindu kekonyolan dan kemanjaan yang biasa Air lakukan padanya. Hujan tak pernah mempermasalahkan soal kesibukannya jika sikap Air tak berubah padanya seperti ini.
__ADS_1
Salahkan jika aku curiga?
.
.
Sarapan pagi hanya ada mereka berdua karna Melisa dan Reza menginap di rumah utama begitu pun dengan Bumi.
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut masing-masing selain suara dentingan sendok dan garpu yang berada di atas piring.
"Kakak mau nambah?" tawar Hujan saat melihat makanan di hadapan suaminya tandas tak tersisa.
"Enggak, ini udah cukup!" jawab Air yang lalu menegak Air putihnya hingga setengah gelas.
"Mau aku buatin bekal makan siang?, takutnya kamu sibuk" tawarnya lagi meski sebenarnya Hujan sedikit menyindir.
Hujan akhirnya mengangguk pasrah, Ia bangun dari kursi mengikuti suaminya yang sudah lebih dulu bangkit dan bergegas berangkat ke kantor di jam seperti biasanya.
"Ingat, aku memintamu untuk pulang tepat waktu" pinta Hujan lagi penuh penegasan dan tak ingin ada penolakan.
"Aku gak janji, kalo semua beres aku pulang" sahutnya tanpa membalas tatapan mata sang istri.
"Atau aku yang ke kantor?, kita jalan jalan dari sana, Gimana?"
Air mengernyitkan dahinya dan sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Jangan, kamu gak boleh capek" tuturnya sambil meraih jas hitamnya di atas kursi.
"Aku gak capek, nanti biar aku minta mama siapi supir buat anter aku ke kantor kamu, kita ketemu disana" ucap Hujan lagi yang kini sedikit antusias.
__ADS_1
"Terserah, yang penting aku udah larang tadi" cetus Air yang akhirnya melengos begitu saja pergi meninggalkan wanita yang kini tengah mengandung buah hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bahkan pagi ini dia tak menciumku!!!
ββββββββββββ
Mungkin dia bosen π€£π€£π€£π€£π€£
Mau yang lain π€π€π€π€
kompor banget dah ah...
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1