
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Di lorong rumah sakit Hujan yang di gandeng tangannya oleh Air tak hentinya tersenyum membuat sang suami juga ikut menyunggingkan sedikit ujung bibirnya, mereka yang baru saja usai menjenguk seseorang kini berniat untuk pulang.
"Kamu nyaman sama Alena?" Tanya Air saat keduanya sudah berada di dalam kotak besi rumah sakit.
"Iya, dia lebih muda dariku, tapi sikapnya jauh lebih dewasa" jawab Hujan sambil mendorong wajah Air yang ingin mencium lehernya.
"Dewasa gak bisa di liat dari umur, sayang" Air terkekeh saat tubuhnya juga didorong sampai mundur selangkah.
"Pelit banget deh, ampun!"
Hujan hanya tertawa kecil lalu bergegas keluar saat pintu lift terbuka.
Air yang berjalan di belakang Hujan tentu segera menyusulnya dan membawa kembali gadis halalnya itu kedalam pelukannya.
.
.
"Mau kemana lagi?"
"Pulang" jawab Hujan yang sudah bersandar di jok mobil mewah suaminya.
"Tapi aku main, gimana?" tanya Air lagi, ini adalah hari liburnya bekerja tentu ia ingin menghabiskan banyak waktunya untuk bersenang senang dengan istrinya.
"Kemana?, udah sore loh"
"Yang jelas bukan ke hatimu, karna memang aku sudah ada disana" Sahutnya sambil terkekeh lalu meringis karna Hujan memukul Lengan kirinya.
.
.
.
Pilihan jatuh ke tempat wisata cagar Alam yang menghadirkan suasana yang begitu asri, Air terjun yang menjulang tinggi membuat riak air yang jatuh seakan menggelitik ke telinga.
"Mandi gih" goda Air saat Ia dan Hujan duduk di salah satu batu besar.
__ADS_1
"Gak ah, dingin" tolak Hujan sambil mengusap telapak tangannya sendiri.
"Tar aku angetin, banyak villa tuh diatas" ujarnya dengan senyum menyeringai dan sorot mata penuh arti.
Hujan yang kini mulai kembali pada sosok Hujan yang dulu tentu membuat Air semakin senang menggoda karna setidaknya kini rayuannya mulai di respon dan tak di abaikan seperti awal awal sang istri mengalami trauma.
Ia hanya ingin hubungan yang saling melengkapi yaitu menutup kekurangan dan menyempurnakan kelebihan.
Puas merendam kaki di air terjun, kini kedua beranjak naik menuju salah satu kedai makanan untuk mengisi perut mereka yang sedikit kelaparan.
"Nasi sama ayam bakar aja dua tanpa sambal ya" pesan Air pada salah satu pelayan.
"Minumnya Air mineral botol aja" tambahnya lagi yang dibalas anggukan paham.
Hujan selalu mengalihkan pandangannya saat Sang suami menatapnya intens sambil trsenyum, sungguh itu sangat tak baik untuk jantungnya yang akan selalu berdegup kencang berkali-kali lipat. Semakin Hujan salah tingkah semakin Air memperhatikannya.
PLAAAKKK
"Bisa gak jangan gitu liatinnya!" pinta Hujan antara kesal dan senang juga berdebar.
"Kenapa? Liatin istri sendiri kan gak apa-apa. kenapa kamu protes!" sahut Air mencoba menahan tawa.
"Senyum kamu tuh kecil tapi bisa bikin hati aku acak-acakan, Ay" keluh Hujan kesal.
"Aku jujur loh, kamu tuh nyebelin kalo lagi begitu"
"Aku juga selalu jujur sama kamu, Jan Hujan deres" balasnya sambil menagkis tangan Sang istri yang hendak memukulnya dengan sendok.
"Liatinnya biasa aja, Gak usah pake senyum!" oceh Hujan lagi karna ia tak kuasa menahan debaran jantungnya.
"Siap 69, Komandan!"
Hujan yang mendengar sedikit bingung, tapi ia yang memang tak mengerti akhirnya memilih diam.
Ditariknya tangan sang istri oleh Air, ia genggam dengan bsa sangat halus dan lembut.
"Kamu tau gak, persamaannya kamu sama hujan beneran?"
Gadis itu menggeleng, karna dijawab pun biasanya akan tetap salah.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Sa**ma-sama bikin nyaman dan bikin gak mau*
kemana-mana....
ππππππππππ
Cukup kak..
Gue ambil lap dulu buat ngelap iler..
__ADS_1
Bawaannya ngeces mulu dah kalo lo gombal π€€π€€π€€π€€
Like komennya yuk ramaikan. ππ