
πππ
Sampai di tempat yang di tuju, Ketiganya keluar dari mobil. Hujan yang bergelayut manja di lengan sang suami tetap memfokuskan matanya pada Sam yang berjalan lebih dulu di depan mereka.
Senyum tak lepas dari wajah sang putra mahkota Rahadian, anak yang di tunggu selama empat tahun kini sudah tumbuh besar menjadi pribadi yang ramah, baik hati dan pintar tapi tentunya sangat manja. Terlahir menjadi anak pertama, cucu pertama dan cicit pertama membuat ia mendapat banyak limpahan kasih sayang dari keluarga yang bukan hanya orangtuanya saja.
"Gak berasa ya, dede udah gede. Apa karna aku gak seharian sama dia jadi ngerasa semuanya kaya cepet banget, gitu?" lirih Hujan.
"Aku aja yang berasa baru kemarin jadi anak anak sekarang udah punya anak, moy" jawab Air mencoba menenangkan istrinya.
Keduanya saling pandang sambil tersenyum, bayangan pertama kali bertemu pun seakan kembali terlintas di kepala mereka masing-masing, Tabrakan tak di sengaja yang berujung perdebatan siapa sangka malah lahirnya samudera errainly rahardian wijaya.
"Secepat apapaun waktu berlalu, tapi akan ku pastikan kita akan menua bersama, kita saksikan selucu apa anak anak hasil si tutut nanti, Moy"kekeh Air.
"Pikiranmu terlalu jauh, kak. Dede aja masih sekolah taman kanak kanak" balas Hujan sambil tertawa kecil.
"Disini kecil, disana udah punya dua anak kecil, Jan Hujan deres yang takut petir"
.
.
.
__ADS_1
Sam yang sudah lelah berlari dan bermain bola dengan Air meminta perutnya di isi oleh masakan Ammanya yang lezat tak ada bandingannya.
"Nih, habiskan ya" titah Hujan pada Samudera.
"Keh, moy" balas bocah tampan itu sambil menerima piring kecil berisi nasi dengan ayam bakar.
"PapAy mau sayur?" tawar Hujan sambil terkekeh.
"Jangan cari gara gara, kamu mau beresin muntahan aku?" jawab Air dengan kesal.
"Aku bawa kantong plastik kok, tenang aja" tawa Hujan semakin pecah saat melihat raut wajah suami tercintanya.
Ketiganya makan siang dengan sangat lahap sambil mendengarkan banyak hal yang di ceritakan oleh Sam, entah itu tentang sekolahnya, teman temannya dan juga gajahnya yang sampai saat ini belum meneleponnya.
Air dan Hujan hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Appa belum bangun ya, Appa masih bobo?" tanyanya lagi yang kini raut wajahnya berubah masam dan sedih.
"Iya, Appanya lagi butuh banyak istirahat capek dia de" jawab Air sambil tertawa, otaknya kini sedang melanglang buana kearea yang sangat rawan karna akan sulit untuk pulang.
"Capek abis apa? kan semalam dede cuma minum susu dua kali" jawab Sam, ia yang lelah menjelang tidur memang sangat nyenyak saat mengarungi mimpi.
"Abis... "
__ADS_1
Plaak..
"Gak usah jadi racun!" sentak Hujan setelah mendaratkan pukulan kecil di lengan suaminya.
Sam yang menunggu jawaban dari papAnya yang terpotong, hanya bisa merengut kesal.
"Emang kamu tahu aku mau bilang apa?" tanya Air sambil mengusap bagian yang sakit.
"Otak mesum kaya kamu tuh udah kebaca banget, Kak" cetus Hujan dengan tangan mulai membereskan sisa makan siang mereka.
Sam yang pusing dengan perdebatan kedua orang tuanya akhirnya bangun dari duduk, ia berdiri tepat di depan Air dan Hujan yang menatap kearahnya dengan ekspresi bingung.
"Mau ngapain?"
.
.
Dede mahu olah raga, biar gak capek pak naik naik putak gunung masuk utan biantala tembus surga Dunia...
__ADS_1