Air Hujan

Air Hujan
bab 86


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚



"Cium ya?" goda Air, saat keduanya sedang menikmati cemilan aneka cake sambil bercanda di salah satu cafe sepulang kuliah.


"Berani?" tantang Hujan walau jauh didasar hatinya ia merasa takut jika Air akan benar-benar menciumnya.


"Berani lah, kecuali gue cium istri orang, baru gue takut!" balasnya sambil tersenyum menyeringai.


"Takut apa?" tanya Hujan.


"Takut nagih, hahahaha"


Niat hati hanya bercanda namun nyatanya ia harus ikhlas mendapatkan banyak cubitan di bagian perut, dada pinggang dan lengan.


Hujan tak perduli meski suaminya merintih menahan sakit.


"Lo spesies apa, sih? manusia apa kepiting tajem banget cubitannya!" sentak Air yang tak tahan menerima serangan bertubi-tubi dari gadis halalnya itu.


Baru Hujan mau membalas ucapan Air ternyata ponselnya berdering diatas meja.


Bunda


"Ada apa?" tanya Air yang di Jawab gelengan kepala oleh Hujan.


"Gak tau, belom juga gue angkat" cibirnya pada sang suami.


Hujan langsung menggeser layar benda pipih miliknya untuk menerima panggilan telepon dari bunda.


"Iya, Bun" sapa Hujan lembut.


"Kamu dimana, Jan?" tanya Bunda langsung tanpa basa basi.


"Lagi makan sama Air, kenapa?"


"Bisa mampir kerumah?, ada bibi Nur disini" pinta Bunda dengan nada memohon.

__ADS_1


Hujan melirik kearah suaminya, ia menjauhkan ponselnya agar pembicaraan ia dan Air tak terdengar oleh Bunda di seberang sana.


"Apa?" tanya Air yang sudah menebak, tapi pura-pura tak tahu.


"Ada saudaraku, bunda minta kita mampir" pinta Hujan pelan yang hanya di balas anggukan kecil oleh sang suami.


Hujan kembali berbicara dengan bunda setelah mendapat izin dari suaminya, ia mengiyakan permintaan Bunda untuk mampir kerumahnya nanti.


Pasangan suami istri itu segera membereskan barang-barang mereka kemudian berlalu pergi.


.


.


"Jan"


Gadis itu menoleh setelah memakai setbelt, kini keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Apa?"


"Saudara Lo banyak banget ya perasaan, gak berenti berenti dateng kerumah Bunda, mau ngapain sih?" tanya Air yang kadang bosan sering di minta pulang dengan alasan yang sama.


"Banyak Pahala ya berarti kita, haha" kekeh Air yang sepertinya sudah tak terhitung berapa kali ia bersalaman dengan para saudara istrinya itu.


"Hem, Lo juga harus hati-hati, jangan sampe macem macem kalo gak mau di keroyok saudara gue, Ay" ancam Hujan dengan bangganya.


"Eh, iya ya! maaf kanjeng ratu" kekeh Air sambil menangkup kan kedua tangannya membuat keduanya tertawa bersama.


Sampai di rumah bunda, Air dan Hujan langsung bersalaman pada seorang paruh baya yang di sebut bibi oleh Hujan. Raut wajahnya manis dan keibuan berbeda dengan Bunda walau cantik tapi jarang sekali tersenyum jika tak terpaksa maka dari itu Air jarang sekali mengobrol dengan Bunda jika bukan hanya menyapa.


"Ini suamimu?" tanya Bibi Nur sambil melirik Air yang berdiri tepat di sisi Hujan.


"Iya, Bi" Jawab Hujan yang langsung melingkar kan tangannya di lengan Air, Hujan selalu bangga dan senang jika sedang memperkenankan suaminya di depan orang lain.


Bibi Nur hanya tersenyum kecil, mata teduhnya seakan menyiratkan ke khawatiran yang luar biasa sampai Air dan Hujan harus saling pandang kebingungan.


"Ada apa?" tanya Air penasaran, ia tak nyaman dengan cara bibi Nur melihatnya.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan ceroboh, kadang kebaikan mu sering di salah artikan oleh orang lain dan akhirnya itu akan menjadi luka bagi dirimu sendiri...


Berhati-hatilah jika kalian ingin tetap bersama!


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Dih... Naha atuh tiba tiba Aya Mbah dukunπŸ˜‚πŸ˜‚


Eits... 🀭🀭🀭

__ADS_1


Jangan-jangan si oray koneng yang lagi hitz 🀣


Like komen nya yuk ramai kan ❀️


__ADS_2