
ππππππππ
Air dah Hujan akhirnya memilih mencari tempat makan lain yang tak begitu banyak pengunjung agar keduanya bisa menikmati makan siang mereka dengan nyaman
Pilihan jatuh pada salah satu kedai makan lokal di luar area bazar, Air menggandeng tangan sang istri saat keduanya keluar dari mobil untuk segera masuk memesan makanan.
Dan kini pasangan suami istri itu sudah duduk saling berhadapan di sebuah meja dengan dua kursi.
"Napa sih, Jan Hujan dereeeeeees?" goda Air karna pemilik hatinya itu masih tak menampakkan wajah manisnya.
"Tiap pergi kemana aja pasti ketemu sama mantan Lo, bahkan ke luar kota pun masih ketemu, hebat Lo ya itu mantan kayanya lebih lebih panjang dari deretan pemilihan Miss universe tingkat dunia" ejek Hujan dengan nada kesal.
Air tertawa kecil mendengar dan melihat ekspresi marah istrinya yang sangat menggemaskan itu.
"Bisa kok kita ketempat yang gak ada mantannya" kata Air dengan senyuman menggoda.
"Kemana?, kuburan!" sentak Hujan.
"Eh, ada loh mantan gue yang udah gak ada, ntar lo di datengin, mau!" kekehnya semakin gemas saat Hujan sedikit terkejut.
"Dunia akhirat mantan Lo banyak ya" cibir sang istri lagi.
"Makanya kita tuh di kamar aja, di jamin gak ketemu mantan gue Jan Hujan dereeeeeees" Air berbicara Sambil tertawa.
"Siapa bilang! itu pisang Lo apa?, dia emang bukan mantan Lo tapi dia bagai selingkuhan gue" ketus Hujan.
Air meraih tangan Hujan di atas meja namun di tepisnya oleh gadis itu.
"Lo salah, Jan" kata Air dengan nada sedikit serius.
"Salah apa?" tanya Hujan bingung.
"Justru Lo yang jadi selingkuhan, hahahaha".
Air kembali tertawa, ia benar-benar menikmati rasa kesal yang di rasakan istrinya itu.
Hujan belum mau menatapnya ada rasa cemburu terselip di hati gadis itu setiap ada orang lain yang menyapa atau mengulurkan tangan untuk suaminya.
__ADS_1
"Lo itu Jodoh gue banget, Jan" seru Air masih mencoba merayu.
"Tau gak kenapa?" tanya Air.
Gadis itu menggelengkan kepala, kali ini ia benar tak tahu bukan pura-pura tak tahu lagi.
"Tuhan kasih gue jodoh yang namanya Hujan biar perasaan gue ke Lo itu sama banyaknya kaya Hujan"
"Dan gue dikasih jodoh yang namanya Air biar gue juga punya perasaan yang banyak kaya air juga, gitu?" timpal Hujan.
"Kita itu gak bisa di sentuh tapi cuma bisa dirasain" balas Air yang langsung membuat Hujan tersenyum simpul.
"Cuma Lo doang yang susah banget di rayu, ampun deh gue!" cetusnya asal namun kembali memancing amarah Hujan.
"Ngomong apa Lo tadi?" omel Hujan sambil menodong Air dengan garpu.
"Hah?, emang Lo denger ya?" Air yang terkejut hanya bisa mengusap tengkuknya, malu.
Hujan hanya membulatkan kedua matanya sempurna, baru saja ia dilambung kan ke langit ketujuh namun sedetik kemudian ia dihempas lagi ke kerak bumi terdalam.
"Jan.. dimakan dong, kan sayang" rayu Air saat sang istri sama sekali tak memakan makanannya.
"Marah ya, kan bukan salah gue kalo ketemu mantan" ucapnya pelan.
"Gak. Cuma kesel aja" dengus Hujan kesal.
"Maaf"
"Jan.. maaf ya! ok.." rayunya lagi semakin memohon.
"Tau ah.. "
Hujan langsung bangun dari duduknya pergi meninggalkan Air yang tersentak kaget melihat pawangnya itu melengos tak memperdulikannya.
"Jan, tunggu! gue bayar dulu, woy...." teriak Air di meja kasir.
BUGH..
__ADS_1
Gadis cantik yang sedang sangat marah itu membanting pintu mobil suaminya saat Air sudah menekan tombol di remote yang ia pegang.
"Gue kan udah minta maaf, Jan"
Air yang tak menyerah terus meraih tangan sang istri meski berkali-kali di tepis.
"Kalo marah gak usah diem, mending Lo ngomel atau marahin gue sekalian!" pinta pemuda itu sambil membuka kaos yang ia kenakan.
"Lo mau apa?" tanya Hujan kaget saat melihat Air sudah bertelanjang dada.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terserah deh Lo mau ngapain. Gue ikhlas...
ππππππππ
Ehem
Emang Lo mau di apain kak? ππ
Sini ma gue yuk π€π€π€π€
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ.