
ππππππππππ
"Naik kursi roda, Mau?" tawar Air pada sang istri yang tak bersuara apapun sedari tadi.
"Emang ada?" tanya Reza pada putranya.
"Belilah!"
Melisa yang kesal dengan perdebatan dua pria tampan itu hanya bisa membuang nafas kasar, Ia usap terus perut Hujan yang di sandarkan di punggung ranjang.
"Tas buat perlengkapan babynya udah siap, kak?"
"Udah, Mah. Ada di mobil, udah aku taro disana tiga hari lalu" jawab si sulung sambil memakai kan Hujan sendal di kakinya yang lumayan bengkak itu.
Ia dan Reza mulai memapahnya secara perlahan keluar dari kamar sedang kan Melisa sudah lebih dulu berjalan untuk membuka pintu.
Satu demi satu tangga mereka turuni dengan pelan pelan karna tak ingin sesuatu terjadi pada malaikat kecil yang sebentar lagi siap menyambut dunia halu.
Keluar dari apartemen semuanya langsung menuju lift yang akan mengantar mereka ke lobby tempat dimana mobil mewah sudah menunggu sedari tadi untuk cepat melesat menuju rumah sakit.
Hanya Lima belas menit keluarga Rahardian itu akhirnya sampai dan di sambut langsung oleh team dokter dan petinggi rumah sakit yang lainnya.
Hujan langsung di baringkan ke brankar untuk di bawa ke kamar pemeriksaan lebih dulu lewat jalur khusus yang sudah di sterilkan sejak seminggu lalu.
Hujan yang hanya di temani sang suami terus saja meringis kesakitan sambil memeggangi tangan Air yang tak Sedetikpun ia lepas. Lelehan keringat dan Air mata sudah bercampur jadi satu.
"Masuk ke pembukaan delapan ya, ini hitungannya cepet banget. Jadi yang sabar ya kita tunggu dua pembukaan lagi agar sempurna" ucap dokter perempuan yang menangani Hujan sedari awal kehamilan.
__ADS_1
"Masih lama?" tanya Air yang sudah sangat tak tega.
"Mudah-mudahan gak lama, Kita berdoa bersama"
Hujan yang tinggal menunggu dua pembukaan lagi pun langsung di pindah ke ruang persalinan, Ia yang masih di temani Air dan juga Melisa semakin meringis menahan sakit.
"Sabar ya, sebentar lagi. Kamu boleh cubit aku atau pukul aku, Jan. kamu mau teriak pun gak apa-apa, gak akan ada yang larang" bisik Air yang berada di sisinya.
"Ini sakit banget, Ay" balasnya pelan nyaris tak terdengar
"Maaf ya, aku udah bikin kamu sakit. Aku janji gak akan minta Baby lagi sama kamu. Aku gak kuat liat kamu kesakitan begini, kamu tau, 'kan seberapa sayangnya aku sama kamu." tutur Air di sela isak tangsinya yang ikut pecah.
Kali ini Melisa membiarkan putranya menangis karna itu bagian dari rasa sayangnya yang luar biasa. Air matanya kali ini adalah air mata cinta yang tulus dari hati.
"Kamu kuat dan pasti bisa. Aku yakin itu sayang. Kamu istri dan ibu terbaik untuk kami. Aku mencintaimu"
"Maaf jika aku selalu merepotkanmu, tapi ini benar benar sakit, Kak" jawab Hujan dengan nafas tersengal.
"Pembukaanya sudah sempurna, Saya harap Nona muda bisa bersiap sekarang ya menyambut Babynya" ujar dokter yang membuat semuanya lega bercampur tegang.
Air bangkit dari duduknya, mendekatkan wajahnya di perut sang istri yang membuncit besar.
"Jangan nakal ya, gak boleh lama lama di dalam" bisik Air yang kemudian menciuminya berkali-kali.
Dokter yang sudah bersiap meminta Hujan berbaring dengan kedua kaki di tekuk dan terbuka lebar untuk memudahkan saat proses melahirkan.
"Nanti kalau dirasa ada sesuatu seperti ada hal yang ingin keluar, bisa angkat sedikit punggungnya hingga posisi agak terbangun ya" pesan sang dokter sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
"Selipkan juga dagu di bagian dada, kemudian tarik napas dalam dalam lalu buang sambil mendorong tubuh dengan mengejan seperti layaknya sedang membuang air besar, Ok" tambahnya lagi yang hanya di jawab anggukan paham oleh Hujan.
Air yang semakin erat menggenggam tangan sang istri justru di buat gusar dan resah, rasa takut kini meyelimuti hatinya meski ia yakin jika Hujan akan bisa melewatinya.
Ini adalah pengalaman yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya, mendampingi sang pemilik hati menaruhkan nyawanya demi keturunan Rahardian.
"Fokus ya, Nak. Mama disini , sayang" bisik Melisa ikut menguatkan.
Proses pun akhirnya di mulai saat Hujan tak lagi kuat menahan gejolak dorongan yang begitu kuat dalam dirinya.
Ia menangis sambil mengejak sekuat dan semampunya.
"Ayo, sayang. Sedikit lagi" ujar sang suami yang seakan menguatkannya.
"Ingat semua kenangan dan perjuangan kita, aku kamu dan sebentar lagi akan ada Baby dalam pelukan kita, aku mencintaimu"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
OOOAAAAAAKKKKKKK...
πππππππ TAMAT ππππππ