
πππππππππ
Deg..
Hujan diam mematung di kamar mandi, niat hati ingin membersihkan diri, namun, justru di kagetkan dengan adanya flek yang jelas ia lihat di ****** ******** sendiri.
"Kok gini? dulu pas hamil Samudera aku gak pernh flek" gumam Hujan yang duduk di atas closet dengan tubuh polos tak memakai apapun.
Rasa takut mulai menyelimutinya mana kala ia ingat betul apa saja yang dikatakan dokter selama ini.
"Kamu gak apa-apa, 'kan di dalam rahim MiMoy?" ucapnya sambil mengusap perutnya yang lumayan sedikit besar.
Jaaaan.
Teriakan Air sambil mengetuk pintu membuyarkan lamunannya.
"Iya, Kak. Aku belum selesai" jawab Hujan dengan sedikit tergagap karna sedikit terkejut.
Hujan bangun dari duduknya bergegas menuju shower untuk membersihkan tubuhnya.
"Lama banget" seru Air saat istrinya baru saja keluar dari kamar mandi.
"Gak ah, kamunya aja yang gak sabaran"
Air tak menyahut lagi, ia peluk istrinya dari belakang sambil memanggil Samudera agar menoleh kearah mereka, bayi montok yang baru saja bangun tidur itu sedang berguling di atas karpet.
"De' MiMoy nya cium ya" goda Air yang langsung mendapa cubitan di bagian perut.
Samudera hanya berjingkrak saat mendengar PapAy nya meringis kesakitan.
"Sam udah gatel banget kayanya pengen gigit tuh" kekeh Hujan saat melihat anaknya mengadukan gigi atas dan bawahnya.
"Greget banget dia, gigit Appa aja sana, Hahahaha"
__ADS_1
Appaaaa
Rasa tak nyamannya membuat Hujan tak keluar kamar seharian ini semenjak suaminya berangkat ke kantor, rasa khawatir masih terus mengganjal dalam hatinya. Ia terus bolak balik masuk ke kamar mandi untuk mengecek dalam annya.
"Moga gak apa-apa" Bathin Hujan yang berbaring di sisi Samudera.
Ia yang takut keluarga suaminya panik belum berkata apapaun termasuk pada Air, tak ada nyeri yang ia rasakan membuat Hujan bingung untuk mengadukan apa yang terjadi padanya tadi pagi.
Tok..tok.. tok..
Ketukan pintu membuat Hujan dengan cepat menoleh lalu bangun untuk membukanya.
"Kamu sakit?" tanya Melisa di ambang pintu dengan menangkup wajah sang menantu.
"Enggak, Mah, aku gak apa-apa kok"
Hujan langsung memeluk Melisa, ia tumpahkan tangis dan rasa sesak dalam hatinya.
"Kenapa? ayo masuk. Kita bicarakan di dalam" ajak Melisa sambil membawa Hujan untuk masuk kedalam kamar.
Keduanya duduk bersama di atas karpet bulu depan TV sambil menemani Samudera yang sedang bermain.
Hujan menceritakan apa yang ia alamin tadi pagi dan itu tentu membuat Melisa begitu panik.
"Kita kerumah sakit sekarang!" tegasnya tak ingin di bantah.
"Tapi, Mah"
"Gak ada tapi tapian, Mama gak mau ada kejadian apapun dengan kalian" ucapnya lagi sembari bangun dari duduk.
"Cepat siapakan dirimu, mama akan bicara dengan Papa."
__ADS_1
Hujan sedikit tercengang, yang ia takutkan akhirnya terjadi. Membuat mertuanya panik dan membawanya ke rumah sakit belum lagi jika Air juga sampai tahu, sudah bisa ia bayangkan jika pria tampan itu pasti langsung datang ke rumah sakit dengan cepat.
.
.
Reza dan Melisa yang kembali masuk kedalam kamar Hujan memastikan jika sang menantu sudah siap untuk memeriksakan kandungannya.
"Berangakat sekarang?" tanya Hujan saat kedua mertuanya sudah berdiri di dekatnya yang sedang menyusui Samudera.
"Lebih cepat lebih baik" timpal Reza, namun senyum dan matanya tentu tertuju pada sang cucu yang sudah merentangkan kedua tangannya.
"Hati-hati dijalan ya, Ra. Cepat hubungi aku jika terjadi sesuatu" pesan Reza pada istri dan menantunya sebelum pergi.
"Aku titip Samudera ya, Pah."
.
.
.
.
.
.
.
Tenang... Sesama Gajah AMAN..
__ADS_1