
πππππππ
"Yang, bangun dong" Air mengguncang bahu istrinya yang tidur begitu lelap.
"Sayang, yang.. Jan Hujan deres!" Panggilnya lagi sedikit keras.
Hujan hanya bergeliat tanpa ingin membuka matanya yang sudah teramat berat, permainan suaminya yang selalu menghabiskan waktu lebih dari satu jam membuat seluruh tubuhnya bagai remuk. Ia yang kini mudah lelah tentu hanya ingin beristirahat tanpa gangguan.
"Ya ampun, ini tidur apa pingsan sih mentang-mentang udah di kasih enak" rutuk Air yang sudah duduk disisi Hujan dengan ponsel masih di dalam genggamannya.
Ia yang bingung hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam, Air yang memang belum tertidur malah justru mendapat pesan dari salah satu penjaga kos-kosan jika ada ada masalah disana.
Ia lagi lagi melirik jam di di dinding yang memang belum terlalu larut malam.
"Di tinggal ngambek gak ya" gumamnya pelan sambil mengusap kepala sang istri.
" Kalo ngoceh bahaya juga, males debat karna pasti ngabisin tenaga, kalo udah lemes pasti laper" ocehnya lagi sambil mengelus perutnya sendiri, ia yang memang kini dalam posisi duduk tentu semakin membuat perutnya semakin membuncit dalam keadaan tubuh polos.
Air akhirnya memilih untuk mengurusnya esok pagi sebelum pergi ke kantor, ia tak ingin mengambil resiko yang akan berujung keributan dengan Hujan karna wanita itu kini sudah kembali pada sifat aslinya yang galak dan keras kepala di tambah posesif yang luar biasa.
Hujan yang semakin terlelap akhirnya di tarik oleh Air masuk kedalam dekapannya. Ia akan menyusul sang istri menuju mimpi indah hingga ujung malam nanti,
****
Bunda yang sedang berada di dapur langsung menoleh saat ada suara derap langkah datang menghampirinya. Hujan yang sudah membawa handuk malah menarik kursi meja makan.
"Ada apa?" tanya Bunda yang ikut duduk di sisi keponakannya itu.
"Gak apa apa, cuma masih lemes" jawab Hujan setelah ia menegak setengah gelas air putih.
"Mual gak? Bunda buatkan air lemon ya" tawar wanita yang masih betah dalam kesendirian itu.
__ADS_1
"Enggak, Bun. aku gak apa-apa, badanku cuma sedikit sakit kalo pagi" keluhnya yang selalu merasa nyeri di bagian bawah perut.
"Minta pada suamimu untuk pelan dan berhati hati, Jan"
"Air pelan banget, cuma lama, Bun" tambahnya lagi yang mengerti apa yang di maksud Bunda.
Satu hal yang tak pernah berubah adalah durasi permainan yang sang suami lakukan dari awal mereka menikah sampai saat ini.
Hujan yang terkadang sudah pelepasan berkali-kali harus menuggu Air sampai di puncaknya.
Itulah yang membuat badannya terasa remuk seketika.
"Ya sudah, kamu mandi lalu bangunkan suamimu"
"Iya, Bun" jawabnya sambil bangkit dari duduknya menuju kamar mandi sedangkan Bunda meneruskan lagi menyiapkan sarapan.
Usai membersihkan diri, Hujan duduk di sisi ranjang mengguncang bahu Air agar cepat bangun.
"Hem..."
Air hanya membuka sedikit matanya, rasa kantuk masih ia rasakan yang baru saja terlelap lewat tengah malam tadi.
"Aku mau ke kos'an sebentar" ucapnya yang masih berbaring dan malah justru menarik selimut untuk menutup tubuh polosnya.
"Ada apa?" tanya Hujan, Air yang sudah jarang sekali mengontrol semua usaha sampingannya hanya akan datang jika ada masalah saja.
"Gak tau juga, makanya aku mau cek kesana"
"Ya udah cepet mandi terus sarapan, aku tunggu di dapur"
Air hanya mengangguk meski sebenernya ia sangat malas sekali untuk bangun.
__ADS_1
.
.
"Nih sarapan kamu" ucap Hujan sambil menyodorkan piring kearah Air.
Pria yang sudah sangat rapih dan tampan itu tertegun dengan apa yang ia lihat di depannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Cuma nasi uduk, Laba-laba sama kepuruk doang, Yang?
ππππππππ
Sarapan jangan banyak banyak kak π€ͺπ€ͺπ€ͺπ€ͺ
__ADS_1
Like komenny yuk ramaikan.