Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 32


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Melisa yang masuk kedalam kamar langsung tertawa saat


melihat Samudera di tutupi selimut oleh suaminya, ia tergelak dan meringsek ikut naik ke tempat tidur.


"Sayangnya Amma, ngapain?"


Appa.. Appa..


Sahutan Samudera sambil menunjuk kearah Reza membuat ia terlihat semakin menggemaskan, pipi bulatnya semakin melembung saat Reza dan Melisa menciumi nya secara berbarengan.


"Dede mau ke MiMoy Nda?"


Nda...


"Wah, parah nih anak" kekeh Reza, Melisa meraih Samudera untuk ia gendong saat bayi montok itu merentangkan kedua tangannya.


"Hujan gimana? kok lama."


"Tadi di infus satu botol, Hujan keliatan pucet banget mungkin karna takut dan khawatir" jawab Melisa sambil memberikan botol susu.


"Tapi kandungannya gak apa-apa, 'kan?"


Melisa menggelengkan kepalanya, Ia melihat Samudera sudah mulai menutup matanya karna kantuk.


"Dede belom bobo?" tanyanya pada sang suami.

__ADS_1


"Gak mau, main terus gak mau diem"


"Bukan gak mau, pasti mas Reza gangguin terus deh, gak di ajak tidur, 'kan?!" protes Melisa lagi yang membuat Reza hanya mengusap tengkuknya.


Melisa menidurkan Samudera di tengah ranjang setelah meminta suaminya untuk keluar dari kamar, ia tak ingin Cucu tampannya itu akan terganggu tidur siangnya karna Samudera terlihat sangat lelah.


********


Beda kamar tentu berbeda juga aktivitas di dalamnya. Begitu pun di dalam kamar Air dan Hujan yang masih merasakan kekhawatiran dengan keadaan calon bayi mereka.


Hujan yang sedang istirahat mencoba memejamkan matanya, ia yang tidur dalam dekapan sang suami berusaha sekuat tenaga membuang pikiran buruknya.


"Tidur, gak usah banyak pikiran, Ok" pinta Air sambil menciumi pucuk kepala Hujan.


"Ini juga lagi usaha banget buat terbang ke alam mimpi"


Hujan langsung mendongakkan wajahnya, ia liat kedua mata sang suami yang begitu teduh penuh dengan cinta yang tulus untuknya.


"Kalau kakak mau gak apa-apa, Ayo" ajak Hujan begitu antusias karna tak bisa ia pungkiri jika memang hanya cara itulah ia bisa terbang ke surga dunia kemudian berlanjut ke alam mimpi dalam waktu yang bersamaan.


"Enggak, aku gak setega itu, cantik"


Air mendekap tubuh Hujan semakin erat, Ia menceritakan apapun yang pernah ia alami. Mulai dari masa kecilnya, masa remaja yang penuh warna bersama deretan para mantanya yang dulu, hingga masa sekarang yang begitu sangat membahagiakan hidupnya karna hadirnya Hujan yang secara tiba tiba sampai mereka akhirnya memilki anak yang begitu pintar yaitu Samudera ErRainly Rahardian Wijaya.


"Tidur juga, 'kan?" ucapnya pelan yang lalu mencium kening sang istri begitu Lembut dan lama.


Air melirik jam dinding yang menunjukkan waktu hampir sore, ia yang belum melihat putranya sepulang dari rumah sakit langsung meringsek turun dari tempat tidur. Ia merapihkan selimut yang membungkus tubuh pemilik hatinya itu sampai batas dada.

__ADS_1


"Aku liat Baby Bear dulu ya, Sayang"


Air melangkah pelan keluar dari kamarnya, menutup pintu setelah ia menengok lagi kearah istrinya yang terlelap.


Senyum tersungging di sudut bibirnya sebelum akhirnya bergegas menuju kamar orang tuanya.


CEKLEK


" Baby Bear mana, Mah?" tanya Air setelah Melisa mempersilahkan ia masuk.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Tadi sih baru bangun tidur, terus langsung di ajak mandi sama Papa"

__ADS_1



__ADS_2