
ππππππππ
Dikamar luas Rumah utama, pasangan suami istri yang sudah membangun bahtera rumah tangga selama delapan tahun itu kini sedang saling mel Eng uh merasakan nikmat diatas ranjang, hentakan cepat dan dalam terus Air lakukan tanpa kenal lelah tak perduli keringat sudah membanjiri tubuh polos keduanya.
"Ay.." De sah Hujan, wanita kesayang Air itu kini sedang berada di titik kenikmatan tiada tara manakala miliknya sedang di obrak abrik oleh ekor buaya cengengnya sampai si kebun kecil terasa begitu sesak menghujam.
Tubuh Hujan yang tak di tutupi benang sehelai pun semakin terguncang hebat dengan dua gunung yang bagai ikut menari, pucuknya yang merona dan mengeras itu pun langsung di lahap tanpa ampun bergantian di kiri dan kanan.
"Tunggu aku, sayang" bisik Air saat Hujan memegang bahunya dan mencengkeram kuat juga miliknya yang masih tenggelam di bawah sana.
"Aku.. sekarang, Ay" Hujan memejamkan mata saat ia sampai di puncaknya, detak jantung Hujan juga berdegup berkali-kali lipat saat cairan cintanya keluar lebih dulu dari si lahar panas.
Tau jika sang istri sudah merasakan nikmat lebih dulu, kini Air yang berusaha sendiri, dan dua puluh menit kemudian kini intinya bagai berdenyut dengan adanya sesuatu yang ingin segera ia lepaskan di ujung ekornya.
"Giliran aku, Sayang"
Pria dua puluh tujuh tahun itu pun semakin liar beraksi diatas tubuh lemas istrinya, Hujan mengendurkan cengkraman tangannya di bahu sang suami tapi tidak pada cengkraman di milik suaminya.
"Capek, Jan"
"Hem, iya, Ay. Rasanya selalu luar biasa. " jawab Hujan sambil mengusap wajah Air saat sang suami sudah merasakan pelepasannya.
Si tampan putra dan cuci pertama Rahadian itupun langsung terbaring lemas disisi istrinya, ia memeluk Hujan penuh kelembutan dan kasih sayang dan setelahnya terbang ke alam mimpi.
*******
Hujan yang bagun pagi lebih lebih awal segera membersihkan dirinya sebelum sang anak melihatnya polos tanpa busana, dan jika itu terjadi sudah bisa di pasti kan Samudra akan banyak bertanya yang macam macam.
Tok... Tok.. Tok.
__ADS_1
"Moy, buta oey" teriak Sam sambil menggedor pintu seperti biasanya, ia yang selalu tidur dengan Appanya akan kembali ke kamar papAy dan MiMoynya saat pagi menjelang.
"Iya, dek" sahut Hujan yang baru keluar dari kamar mandi, dengan tubuh hanya berbalut bathrobe ia pun segera membuka pintu.
Cek lek.
"Moy ama banet ih, dede bosyen!" keluhnya dengan memanyunkan bibir.
"Moy, mandi. Dede mandi yuk, nanti dianter Moy sama papAy sekolahnya" rayu Hujan pada putra semata wayangnya itu.
"Nda, ah. Dede nda mahu mandi" jawabnya sambil meringsek naik keatas ranjang.
"Kalau mau sekolah harus mandi, nanti bau asem gak di temenin sama temen temen loh" rayu Hujan, ia tersenyum gemas saat Sam malah menjahili suaminya.
Eugh.
Air bergeliat kecil, saat hidungnya terasa tergelitik. Ia mengerjapkan matanya lalu tersenyum saat melihat putranya terkekeh.
"Iyyah, dede udah banun. Ayo papAy banun ih!"
Air hanya mengangguk dengan mata yang kembali terpejam, aksi luar biasanya semalam masih begitu terasa sampai ia rasanya malas untuk bangun meski matahari sudah menyapa seluruh penduduk bumi.
"PapAynya bobo lagi, yuk dede mandi dulu sama Moy"
"Nda mahu!" tolak nya lagi sambil menggelengkan kepala.
"Udah siang nih, nanti telat sekolahnya."
"Dede nda mahu tekoyah, Moy" jawab Sam.
__ADS_1
"Loh, kenapa?" tanya Hujan bingung di campur panik lalu mendekat kearah putra semata wayangnya.
"Dede atit, piyek nih dungdungnya"
Hujan mengernyitkan dahinya, kemudian menyentuh kening Sam yang tak panas sama sekali.
"Masa, ini gak apa-apa" kata Hujan.
.
.
.
.
.
.
uhuk.. uhuk.. noh benel tan?
π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Modus lagi , π€
Gajah harus turun tangan ini sih!
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan.