Air Hujan

Air Hujan
Bab 198


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Hujan yang masih mengacuhkan suaminya sampai pagi bahkan masih menutup kedua matanya saat Air pamit untuk bekerja, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut wanita hamil itu saat Air banyak bertanya padanya.


"Jadi masih mau diem aja?" tanya Air lagi setelah ia mencium pipi sang istri.


"Betah banget cuekin suami gantengnya. Nanti kalo kakak di ambil kucing jangan nangis ya" goda Air sambil tersenyum kecil.


"Bukannya kakak yang nangis semaleman pas aku lagi sama kucing?!" protes Hujan pada sang suami.


"Idih, kalo ngomong suka bener. Belom nyobain di gigit singa ya" Cetus Air Pura-pura kesal.


"Belom, aku seringnya di gigit Buaya" timpal Hujan.


Air yang gemas malah naik lagi keatas ranjang dan menindih Hujan yang masih berbaring di balik selimut.


"Kan bikin males kerja kalo kamunya rese begini, Jan Hujan dereeeeeeessss!"


Hujan yang meronta terus saja meminta Air bangun dari atasnya karna ia merasa geli saat milik suaminya bergesekan di tubuhnya. Besar dan keras itulah yang dirasakan gadis cantik yang berada dibawah kungkungan pria tampan yang berstatus suaminya.


"Ay, anak kamu kasian loh"


"Eh, Iya. Aku lupa!" ujar Air yang bergegas beranjak dari tubuh sang istri.


"Udah siang, aku banyak kerjaan hari ini. Kamu jangan lupa makan ya sama minum Vitaminya" pesan Air setelah menciumi lagi wajah Hujan.


"Hem, Hati-hati dijalan. Ingat aku dan anakmu" sindir Hujan yang merasa jika kadang Air terlalu sibuk.


"Ingetlah.. inget banget malah" kekeh Air saat menjawab.

__ADS_1


Air yang bangun dari duduknya merapihkan lagi pakaiannya yang terlihat sedikit berantakan karna ulahnya sendiri yang menggoda Hujan diatas ranjang.


.


.


.


"Pagi Omma" sapa Air saat melihat wanita baya berkaca mata itu sedang diruang makan.


"Pagi sayang, mana istrimu?" tanya Omma saat mengurai pelukannya.


"Masih di kamar, nanti juga turun buat sarapan" jawabnya sambil menyesap segelas susu.


"Loh, kakak gak sarapan?"


Maaf ya Omma, kakak udah pesen nasi sama gulai kambing juga soto babat.. bathin Air.


.


.


.


Pria yang lengkap dengan stelan jas putih itu kini sudah melenggang masuk kedalam gedung pencakar langit miliknya. Semua orang yang kebetulan berpapasan akan tersenyum ramah dan menundukkan pandangan mereka meski Air hanya seorang direktur karna sejatinya masih ada yang lebih berkuasa darinya yaitu Papa dan Oppanya.


"Selamat pagi, Tuan muda" sapa Daniel di depan pintu ruangan kerjanya.


"Pagi" Jawab Air sambil masuk kedalam saat Daniel sudah membuka pintu.

__ADS_1


Daniel yang memang berperan sebagai sekertaris yang dipilih Air untuk mendampinginya langsung ikut mengekor di belakang.


"Jadwalnya apa aja hari ini?" tanya Air tanpa menoleh kearah Daniel yang berdiri tepat di hadapannya.


Pria tinggi tampan itu langsung membacakan apa saja yang harus dikerjaan Tuan Mudanya dari detik ini sampai selesai petang nanti dan Air hanya mendengarkan dengan seksama.


Ia langsung melepas jas di sela helaan nafas beratnya saat melihat tumpukan berkas yang tersusun rapih.


"Banyak terus ya tiap hari" gumam Air sembari duduk di kursi kebesarannya.


"Ini yang harus si selesaikan saat ini saja, Tuan" ucap Daniel.


.


.


.


.


"Gue kaya tukang gorengan kalo liat kertas numpuk begini"


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Anjiiiiiir 🀣🀣🀣🀣🀣


Direktur tahu dan Laba-laba πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2