Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 88


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Gak lah, tadi cuma makan siang sama Eliza doang" jawabnya jujur tapi kelewat santai.


"Kakak!" pekik Hujan dengan bola mata hampir saja keluar.


"Apa? tadi sekalian rapat, bukan sengaja makan siang" jelasnya lagi.


"Pantes lama! taunya makan siang sama perempuan lain" oceh Hujan, bukan ia tak paham dengan pekerjaan suaminya tapi sebagai seorang istri rasa cemburu itu tetap terselip jika tahu sandaran hatinya itu sedang bersama wanita lain.


"Dia gak bawa mobil, karna kantornya ngelewatin jadinya kakak anterin juga sampe depan lobby perusahaan tempat dia kerja"


Air benar-benar mengatakan semuanya, tak ada raut takut saat ia mengatakan hal yang sebenarnya di depan sang istri dengan apa yang ia lakukan tadi.


"Kakak jujur banget ya, sampe wajah kamu merah gitu nahan kesel? apa mau di bohongin aja"


Hujan menggelengkan kepalanya dengan cepat, dengan mata berkaca-kaca ia pun segera berhambur ke dalam pelukan sang suami.


"Jujur aja gak apa-apa, aku gak mau bahagia karna di bohongi, sakit sekali tak apa dari pada harus menumpuk luka, karna dari satu kebohongan akan ada kebohongan selanjutnya. Aku mau rumah tangga kita di didasari kejujuran jika ada kerikil kecil kurasa itu biasa, bahkan aku siap menerima terpaan ombak asal tanganmu tetap bisa ku genggam" ucap Hujan dalam dekapan Air yang menciumi pucuk kepalanya.


"Saat aku menyerahkan segalanya padamu, kurasa saat itu juga kamu harus tahu. Mungkin aku pernah menyembunyikan banyak hal tapi tidak untuk membohongimu, Jan Hujan dereeeeeees!" kekeh Air mencubit pipi isrinya.


"Aku tau itu Aer comberan!"! jawab Hujan dengan memanyunkan bibirnya.


Wit.. wit..


Seruan Samudera di pojok ruangan membuat kedia orang tuanya itu menoleh dengan cepat kearah bayi montok yang sedang bertepuk tangan.


Huleeeeeeee.

__ADS_1


" Kenapa dia?" tanya Air pada Hujan.


"Gak tau, Ayo sini" kata Hujan pada putranya.


Sam bangun dari duduknya, ia berjalan sedikit berlari menghampiri papAy dan MiMoynya.


"Wit.. wit apa?" Air mengulang pertanyaannya.


Iyum Moy.


Air mengernyitkan dahinya lalu membuang napas kasar sambil meraih tubuh montok Baby bear ke atas pangkuannya.


"Pasti kerjaan si papah nih, dede suka liat adegan mesum gajah sama pawangnya" cetus Air, ia tahu jika papanya itu masih tak tahu tempat jika sedang menggoda mamanya.


Jajah dede.


Hatchii....


Reza yang bersin berkali-kali membuat hidungnya sampai merah seperti tomat, dan itu tentu menjadi perhatian Melisa yang kini jauh lebih baik setelah di tangani team dokter terbaik di rumah sakitnya.


"Kenapa, Mas?" tanya sang Khumairah.


"Gak apa-apa, tapi gak tau juga ini kenapa?" jawabnya yang juga bingung.


Hatchiii....


Lagi lagi bersinnya itu sangat menggelitik sampai ia harus menitikan air mata.


"Mas Reza flu? periksa gih sana" titah Melisa yang masih terbaring lemah dengan selama infusan yang masih menempel di punggung tangan kirinya.

__ADS_1


"Enggak, cuma bersin aja kok, Ra" tolak Reza, sang mantan presiden direktur itu memang paling malas untuk berobat, jadi tak salah jika ia benar-benar menjaga tubuhnya agar tetap sehat dan bugar.


"Iya, bersin itu tandanya mau Flu, nanti lama-lama bisa pilek juga" kata Melisa yang malah justru khawatir.


.


.


.


.


.


.


.


Enggak sayang... Ini paling cebong lagi ghibahin Gajah!


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Tutut jajahnya noh yang cari perkara.


entah apa wit wit


Gue aja gak paham🀣🀣🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2