
π»π»π»π»π»π»π»π»
Setelah memberi pengertian pada Hujan, Air langsung menyalakan mesin mobilnya bersiap kembali pulang tapi Hujan secara tiba-tiba menarik tangan suaminya dari stir mobil.
"Apa?" tanya Air.
"Peluk"
"Tadi gak mau, sekarang mau pulang minta peluk.Tar aja dirumah" ucapnya yang langsung membuat Hujan semakin jengkel
"Pelit" dengusnya kesal.
"Tar di kamar ya sayang, gue peluk sampe tulang Lo remuk, hahaha" kekeh Air yang langsung mendapat pukulan dari sang istri.
.
.
Keduanya kembali pulang ke apartemen, jalanan nampak sepi karna memang waktu sudah lewat tengah malam.
"Ngantuk ya?" tanya Air saat sudah sampai di lobby.
"Hem, Iya"
"Mau gue gendong?" goda Air dengan senyum jahilnya.
"Gak!" jawab Hujan cepat.
Air tertawa, dia begitu senang menikmati wajah galak sang istri yang menurutnya sangat menggemaskan.
Sampai di apartemen, keduanya langsung masuk kedalam kamar.
"Ay, bersih-bersih dulu sana. Ganti baju" titah Hujan sambil berjalan kearah meja riasnya.
"Gantiin baju dong" pintanya dengan suara pelan sambil memejamkan kedua matanya.
Hujan lalu menoleh dan tersenyum simpul karna sudah terdengar suara dengkuran kecil dari suaminya.
Hujan merangkak naik keatas kasur berbaring di samping bayi buaya cengengnya yang tadi tanpa ia sadar mungkin sedang mengungkapkan isi hatinya.
"Pisang geser ya, gue mau tidur sama kakak" kekeh Hujan pelan takut membangunkan suaminya.
Gadis itu menggeser bantal Kesayangan Air agar kemudian hanya dirinyalah yang masuk kedalam pelukan sang suami.
Keduanya langsung terlelap terbuai mimpi saling memeluk.
*******
"Aduh, sakit amat ya" keluh Air sambil memegang lututnya saat turun dari tangga, entah apa yang ia tabrak kali ini.
"Kenapa?" tanya Melisa sambil menuangkan Susu kedalam gelas .
"Sakit, Mah" rengeknya Sembari memeluk wanita terbaiknya itu.
__ADS_1
"Hati-hati, kak. Bisa abis barang dirumah gara-gara ku hancurin setiap hari" ejek mamanya.
"Hujan mana?"
"Di kamar, kayanya gak kuliah deh" jawabnya dengan helaan berat
"Kenapa, Hujan sakit?" Melisa mulai panik.
"Iya, lagi halangan, Mah. pinggang sama perutnya sakit tapi yang kemarin gak sampe begini" jelasnya sedih.
"Jadi ini yang kedua?"
Air mengangguk, seingatnya sehabis menikah beberapa hari sang istri sempat berhalangan tapi itu tak lama dan tak semenyedih kan ini.
"Kamu sarapan ya, papa juga belum turun sama adek tapi Bumi udah berangkat pagi sekali, mama mau liat Hujan dulu"
Air menganggukkan kepalanya, niatnya turun kebawah memang ingin mengisi perutnya yang terasa lapar.
Karna dari subuh tadi terus mengusap pinggang Hujan yang memang terasa hangat.
Tok..tok.. tok..
"Hujan, ini mama, Nak" panggil Melisa sambil mengetuk pintu kamar si sulung.
"Iya, mah masuk aja" sahut Hujan.
CEKLEK..
Melisa membuka pintu kamar anaknya yang kini sudah sangat jarang ia datangi semenjak sang putra menikah , karna tugasnya membangunkan si sulung setiap pagi tentu sudah di gantikan oleh istrinya.
"Lagi halangan, Mah" jawab Hujan yang meringkuk di balik selimut.
"Selalu begini setiap bulannya?" tanya Melisa lagi, karna dulu iapun pernah mengalaminya begitu pun dengan Cahaya.
"Jarang, Mah. Gak Setiap bulan tapi yang ini sakit banget"
"Mama buatkan rebusan jahe ya"
"Iya, Mah. Makasih banyak" ucap Hujan, ia yang merasa keram dan sakit luar biasa hanya bisa pasrah saat suami dan mertua ingin mengurusnya.
"Ya udah mama bikinin, kamu tunggu disini ya sekalian mama bawain sarapan juga"
Melisa mengusap kepala menantunya itu dengan lembut dan tentunya penuh kasih sayang. Tanpa wanita itu sadar jika Hujan sedang meneteskan air matanya karna haru.
.
.
.
Melisa keluar dari kamar berbarengan dengan sang suami yang keluar juga dari kamar mereka.
"Ra, ngapain dari kamar kakak?" tanya Reza bingung.
__ADS_1
"Hujan sakit, Mas" jawab Melisa yang kemudian bergelayut manja di lengan suaminya, pasangan yang selalu terlihat romantis itu berjalan beriringan menuju dapur dengan Reza tak henti menciumi pipi Istrinya.
"Hujan sakit, kak?" tanya Reza sembari menarik kursi meja makan.
"Iya, lagi halangan. Perutnya sakit, pinggangnya keram semalem aja aku usap usap anget banget, Pah" Adu si. sulung dengan wajah menyedihkan.
"Puasa dong?" goda Reza dengan menahan tawanya.
Air memicingkan matanya, ia tahu jika ia akan habis di ejek oleh gajah seniornya.
"Pantes semalem sepi, taunya ada yang lagi di kurungin"
"Papah!" Dengus Air mulai kesal. Otaknya yang sudah tak polos bisa langsung mengerti apa yang di bicarakan Reza.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Tenang, kak... masih banyak jalan menuju kenikmatan, ada ini dan ini!"
πππππππππ
Apa bang ini dan ini nya?
Jelasin woy. !!!!!ππππ
Jangan bikin gue yang polos ini kepo πππ
Ngomong setengah-setengah
Ngajarin gak beres lagi aja nih si gajah kayanya sama si cebong π€..
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan β€οΈπ