
ππππππππ
"Ini tuh lupis bukan putu!" cetus Hujan kesal sambil melengos ke arah lemari baju.
"Yang penting ijo, ada gula merah sama kepala, 'Kan" balas Air sambil menyuapkan satu potong kue lupis kedalam mulutnya.
"Enak, manis, gurih kaya kamu, Jan!"
"Bodo amat!" sahut Hujan tanpa menoleh lagi saat ia hendak membuka pintu.
Air membawa bungkusan tadi menuju sofa, memakannya satu persatu sampai habis tak bersisa begitu juga dengan kue yang di bawa Ameera tadi pagi, semua sudah masuk kedalam perutnya yang kini melembung seperti balon.
.
.
Beda Air tentu berbeda juga dengan yang lainnya termasuk dengan orang-orang yang kini berada dalam kamar tidur seorang mantan presiden direktur Rahardian group, disana yang kebetulan ada Hujan, Ameera dan tentunya Baby Bear sedang berkumpul sambil berbincang obrolan ringan.
Reza yang terus meledek suami adiknya itu terus saja mendapatkan pukulan bantal dari si pirang sedangkan Melisa hanya bisa meminjit pelipisnya yang terasa pusing.
"Samudera tidurin di kasur aja" titah Melisa saat melihat tubuh gemoy cucunya itu terlelap dalam dekapan Hujan.
"Aku bawa ke kamar aja, Mah"
__ADS_1
Hujan yang bangun dari duduk langsung membawa Putranya keluar dari kamar sang mertua menuju kamarnya sendiri yang ia yakin masih ada Air di dalam sana.
Cek lek...
Hujan mengedarkan pandangannya, ia mencari sosok suaminya yang tak ada di tempat tidur.
"Ay, kemana?" gumamnya pelan. Hujan menidurkan Baby Bearnya di box.
Samudera yang kaget akhirnya menangis kecil dan itu membuat Hujan akhirnya mengangkat kembali Baby Bear untuk di susui di sofa.
Lima belas menit ternyata tak membuat Samudera kembali terlelap, tidurnya gagal dan berakhir rewel. Hujan yang sendiri di kamar pun mulai kewalahan jika putranya sedang menangis dan tak mau menyusu lagi padanya karna biasanya Baby Bear akan langsung tenang jika di ambil alih oleh Reza, si Gajah besar.
.
.
.
"Dari lobby, ada Daniel kasih berkas yang harus aku tanda tangani, kenapa?" pria tampan itu balik bertanya sambil meraih putranya yang masih menangis dalam gendongannya Hujan.
"Gak apa-apa!" jawabnya ketus.
Air hanya mengernyit dahinya lalu duduk disisi Sang istri di tepi ranjang tempat tidur.
__ADS_1
"Tiga hari ini kamu aneh, ada masalah?"
Hujan hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban ia tak apa-apa atau mungkin sebenernya pun ia tak tahu ada apa dengannya akhir akhir ini.
"Masih sakit perutnya?, atau kita periksa ke rumah sakit ya sekarang biar jelas kamu kenapa" ajak Air yang sebenarnya penasaran dengan sakit yang di alami Sang istri.
"Aku gak mau, aku mau tidur"
Hujan kembali meraih Baby Bear tapi bayi montok itu malah kembali menangis saat Hujan mau menggendongnya untuk disusui di tempat tidur.
"Kok gak mau sama aku kenapa ya?"
"Kamu belum mandi kali" ejek Air menggoda agar istrinya tak berpikiran yang macam macam.
"Udah, aku udah mandi, Ay" elak Hujan sambil mencium dia ketiaknya secara bergantian.
"Gak bau, coba kamu cium" pintanya polos yang malah mendapat ciuman di pipi berkali-kali dari Sang suami, Ia terus di goda sampai Baby Bear pun ikut tergelak karna merasa geli saat Air dan Hujan menciuminya juga secara bersamaan.
.
.
.
__ADS_1
.
Ooooeekk...