
πππππππ
"Aku pengen kue putu, Ay!! pengen denger bunyinya"
"Bunyi apa?" tanya Air bingung sebab ia tak paham dengan apa yang di katakan istrinya tadi.
"Kue yang warna ijo itu loh yang dalemnya gula merah terus ada kelapanya di atas" pinta Hujan sedikit kesal karna harus mejelaskan secara detail sedangkan tubuhnya masih lemas.
"Kue kutu?"
"Putu, Ay bukan kutu! kutu itu hewan yang di kepala" cetus Hujan.
Air menggelengkan kepalanya, bukan karna tak mengerti tapi ia juga tak ingin berdebat. ia memilih membawa kembali sang istri menuju tempat tidur untuk di baringkan karna tak tega melihat ibu dari putranya itu tersengal napasnya.
"Gak usah macem-macem, aku mau nyari kutu kemana malem malem begini" ucap Air sambil menyelimuti pemilik hatinya itu.
"Putu, Ay" lirih Hujan yang ingin menangis.
Air tak menghiraukan, ia ikut meringsek naik ke ranjang lalu memeluk istrinya dengan erat sampai wanita halalnya itu merasa nyaman dalam dekapannya.
"Aku mencintaimu, Jan Hujan deres!" bisik Air sembari usel usel hidung di telinga Hujan.
"Kok diem aja, gak di jawab ucapan cintanya aku." protes Air.
"Aku mau putu, bukan cinta!"
Air mendengus kesal, ia langsung memejamkan kedua mata dan telinganya dengan bantal.
****
__ADS_1
Tak ada senyum di raut wajah Hujan saat bangun pagi, bahkan wanita itu tak menyapa sang suami saat pria tampan itu baru saja keluar dari kamar mandi.
Air memutuskan tak masuk kantor karna masih khawatir dengan kondisi Hujan yang sepertinya belum stabil belum lagi dengan Anaknya yang di asuh Melisa sejak kemarin.
"Aku ambilin sarapan ya" ucapnya sembari memberi ciuman selamat pagi untuk bidadari hatinya itu.
"Aku kangen dede"
"Iya, nanti aku bawa kesini setelah kamu selesai sarapan"
Hujan yang tak menjawab lagi membuat Air langsung keluar dari kamarnya menuju dapur di lantai bawah.
.
.
"Aunty!" pekik Air terkejut saat berpapasan dengan Adik papanya itu.
"Ngapain? tumben."
Ameera tak menjawab, Nyonya Pradipta itu hanya memperlihatkan bungkusan yang ia bawa tanpa memeberi tahu apa isinya pada sang keponakan yang sedari tadi mengernyitkan dahinya.
"Apaan sih?!" tanya nya lagi penasaran namun, Ameera hanya melengos pergi menuju kamarnya.
Air yang meneruskan langkahnya pun tak ingin ambil pusing dengan para wanita yang terkadang aneh menurutnya.
"Mah, ada Aunty ya?" tanya nya pada Melisa yang sedang membereskan wajan warna-warni.
"Iya, baru dateng katanya sih mampir dari tempatnta tante Megan" jawab Melisa tanpa menoleh.
__ADS_1
"Bawa kue dong?"
"Iyalah, masa bawa paku!" cetus Melisa yang langsung membuat Air terkekeh dengan jawaban mamanya itu.
Si sulung yang kini sedang di buat pusing dengan sakitnya sang istri itu pun segera menyiapkan sarapan pagi untuk Hujan yang enggan turun ke ruang makan.
Ia mengambil nampan dan piring yang kemudian di isi dengan nasi sayur dan lauk yang Melisa masak untuk sarapan semua anggota keluarga yang masih tersisa di apartemen.
"Baby Bear lagi sama papa ya, Mah?"
"Iya, lagi dikamar tadi sih abis mandi cuma belum mama pakein baju, kamu liat dulu gih sana" titah Melisa yang baru ingat jika cucunya.
"Iya,Mah."
Air yang memutuskan menengok Baby Bear lebih dulu langsung naik lagi ke lantai atas menuju kamar orang tuanya.
***Cek lek
.
.
.
.
.
Pah, itu Baby Bear bukan anak Gajah
__ADS_1