Air Hujan

Air Hujan
Baby Bear 14


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Kenapa di lepas?" tanya Hujan kesal.


"Gak enak, rasanya laen lagi." jawab Air dengan memasang wajah polos namun menggemaskan.


"Memang Nona muda tidak bisa membandingakan perbedaannya?" selak Dokter.


"Kata kakak ini pengaman limited edition NO bocor bocor jadi rasanya sama kaya biasanya" jawab Hujan dengan sorot mata tajam ke arah suaminya yang sedang menelan salivanya kuat-kuat.


"Kakak bohongin aku, 'kan?" sentak Hujan lagi yang kini benar-benar kesal, kedua tangannya mengepal dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Enggak, Jan"


Dokter dan suster hanya mengulum senyum melihat pasangan muda Suami istri itu bertengkar di depan mereka.


"Lebih baik kita periksa dulu agar lebih tau yang sebenarnya" ucap sang dokter sambil memberikan alat tes kehamilan pada Hujan seraya meminta salah satu perawat mengantar Hujan ke toilet.


"Tespek lagi?!"


Dokter hanya mengangguk, ia paham dengan apa yang di rasakan Hujan saat ini, memang tak mudah bagi seorang wanita begitu saja menerima kenyataan jika apa yang di curigakan benar terjadi.


"Mari, Nona" ajak suster yang sedikit mengagetkan Hujan dari lamunannya yang sedang memikirkan Baby Bear dirumah.


"Iya," jawab Hujan yang langsung bangun dari duduknya sambil meraih alat tes kehamilan di atas meja.


Fix.. kalo hasilnya positif yang ada kepala gue yang buntung!!


Air terus saja berdoa dalam hati, ia bingung antara senang atau sedih nantinya jika Hujan benar-benar mengandung benih hasil siraman nya lagi.


Hampir sepuluh menit akhirnya Hujan keluar dengan wajah tegang, langakahnya begitu pelan menghampiri Air dan dokter yang masih duduk di tempat yang sama sedari tadi.


"Bagaimana?" tanya Air perasaan.

__ADS_1


Hujan tak menjawab, ia malah meletakkan benda kecil yang ia pegang tadi ke atas meja, dan dokter pun langsung meraihnya.


"Jan, kamu gak apa-apa kan?" Air bertanya lagi saat satu tetes air mata akhirnya lolos juga ke pipi mulus sang istri.


"Dokter, apa hasilnya?" kini pertanyaan beralih pada wanita berpakaian putih di hadapannya itu.


"Ehem... Hasilnya POSITIF"


Huaaaaaaaaaaaaaaaa.....


Hujan langsung menangis histeris saat dokter memberitahu hasilnya, ia memukuli tubuh Air yang melongo antara percaya dan tidak.


"Aku hamil, Kak"


"Aku hamil.... "


"Aku hami lagi"


"Baru kemarin aku lahiran, kak"


"Aku hamil gara-gara kamu! "sentaknya yang tak lagi bisa menahan emosi.


"Kok aku?" tanya Air menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuk.


"Kan kita bikin berdua, kamu juga enak, 'kan?" tambahnya lagi.


Aaaaaaaaaaaarghhhhhhh...


Jeritan menantu Rahardian itu sangat menggema ke seisi ruangan dokter sampai semua yang ada di dalam sana menutup telinga mereka.


"Kakak bohong!" jerit Hujan.


"Katanya pake pengamanan, taunya di lepas lagi, kenapa?"

__ADS_1


"Gak enak, rasanya aneh kan aku udah bilang tadi." jawab Air terlewat jujur seakan tak siapapun disana padahal jelas ada dokter dan suster yang sedang menahan tawa.


"Tapi ini hasilnya aku jadi hamil lagi, gimana?"


"Ya, gak gimana gimana, hamil aja terus sampe lahiran lagi kaya kemaren. Emang kamu maunya gimana?" Air balik bertanya tapi tak dijawab oleh Hujan, wanita itu benar-benar sedang bingung karna mengingat Samudera yang masih sangat bayi untuk mendapatkan seorang adik lagi.


"Udah jangan nangis, kasian bayinya" ucap Air menenangkan.


"Gimana aku gak nangis, Kak" pekik Hujan jengkel.


.


.


.


.


.


.


Ya udah... mulai malam ini aku pake pengaman ya!!!


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Astaga..


Telat woy udah jadi cebong 🀣🀣🀣🀣🀣🀣


Si kakak bikin emosi dah SUMPAH..


Like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2