
ππππππππ
"Gue mau bikin aja, jadinya kalo bisa nanti" jawabnya santai.
"kenapa?" Hujan semakin di buat penasaran karna Air tak pernah mau membahas lebih Soal hal ini.
"Gue cuma mau sama Lo. berdua sama Lo. gak tau kenapa pengennya begini aja, Gue dan Lo tapi seandainya jadi kita karna anak ya nanti aja" jawaban yang sama sampai Hujan hafal.
"Oh.. gitu?" Hujan meringsek lagi memeluk suaminya untuk menyembunyikan rasa kecewanya karna kadang ia sendiri pun sering merasa bersalah sudah menunda kehamilan meski kenyataannya Air pun belum menginginkan hal itu.
"Emang kenapa sih, Jan. Lo mau punya anak sekarang?" tanya Air, ia takut ucapannya tadi melukai hati sang istri.
"Enggak, cuma tanya aja. Mama sama papa juga Kayanya gak pernah bahas hal ini" ujarnya yang malah memainkan dada Sang suami yang masih terbalut kaos.
"Mereka kan asik berdua, jadi biarin aja. Gue malah seneng biar mama fokus sama papa, karna kalau kita punya anak pasti mama bakal mau urus sendiri, sedangkan mereka punya rencana bakal liburan keliling dunia dua tahun mendatang" jelas Air.
"Wah.. keren banget ,Ay" Seru Hujan yang semakin kagum pada keluarga Suaminya.
"Papa selalu bisikin ke kita saat mau tidur, kalau kita harus pinter nah kalo pinter nanti sekolahnya gak lama-lama karna papa bilang kalau nanti kita lulus kuliah mau ajak mama liburan" Air menatap langit-langit kamarnya seakan bayangan masa kecilnya kembali terlintas.
"Kenapa harus nunggu Lulus kuliah?, kalian kan orang kaya bisa kapan aja perginya" ucap Hujan yang masih belum mengerti.
"Mama gak mau pergi kalo kita belom gede, mama masih khawatir. Dari situ kita selalu rajin belajar buat bantuin papa wujudin keinginannya bawa mama jalan-jalan, mama itu orang biasa bahkan sedari umur sepuluh tahun udah besar di panti asuhan meskipun punya ibu. Mama sama papa nikah mendadak tanpa kenal sama sekali dan setelah menikah itulah mama bener bener ngasih hidupnya cuma buat kita. Mama gak mau kita di urus orang lain cukup dengan kedua tangannya aja selama hampir dua puluh dua tahun mereka menikah, Jan" terang Air pada sang istri.
Hujan tentu tercengang dengan cerita suaminya yang baru ia tahu karna ia tak pernah banyak bertanya, dari sikap kedua mertuanya tentu ia tak pernah berfikir jika pernikahan mereka hasil sebuah perjodohan karna besarnya cinta keduanya.
"Salut banget sama mama juga Papa ya, Ay" tutur Hujan dengan bangganya.
"Semoga kita bisa kaya mereka ya, gue kadang lucu kalo liat papa masih manja sama mama" tambahnya lagi sambil terkekeh.
"Kita kuliah aja dulu sampe lulus, Lo juga sibuk kan?, gak cuti aja udah tahunan gimana kalo cuti, Lo mau tua di kampus?" ejek Air pada sang istri yang memang tahu akan selama apa istrinya menimba ilmu nanti.
"Ih, enak aja" elak Hujan dengan ketus.
"Kalo Lo bosen, bilang ya" Pinta Air, kali ini ia berbicara sedikit serius.
__ADS_1
"kenapa?, gak mungkin lah gue bosen kecuali jenuh" sahut Hujan dengan sedikit kekehan.
"Urus rumah sakit yang gue kasih ke Lo buat mahar"
Hujan menghela nafas, itu salah satu yang sering ia pikirkan selama ini.
Bukan ia tak ingin, tapi rasanya itu terlalu berlebihan untuknya.
"Hem, nantilah kalo gue udah lulus, itupun kalo kita belum punya anak, Ay."
Obrolan ternyata kembali lagi ke permasalahan anak.
"Lo kalo hamil perutnya gede ya?" tanya Air sambil mengusap perut istrinya.
"Iya, tapi ada juga yang kecil gak terlalu besar"
"Terus udah sembilan bulan tar Lo lahirin itu anak kita, gitu kan?" tanya nya lagi yang di balas anggukan kepala oleh Hujan.
"Kalo udah lahir tidur dimana?"
"Ya disini lah sama kita!" jawab hujan bingung dengan pertanyaan Suaminya itu.
"Gue disini, anak kita di tengah sedangkan Lo disana" sahut gadis itu memposisikan tidur mereka nanti
"Terus pisang gue?"
"Ya Pojokan sana, deket Lo kaya biasanya" Hujan tergelak karna sang suami masih punya jiwa prikepisangan.
"Kalo tuh anak di tengah, gue gak bisa peluk Lo dong" pemuda itu mulai protes.
"Ya udah, Lo disisi, gue di tengah dan bayinya disana deket pisang, gimana?" tawar Hujan pada suaminya.
"Lah pisang gue makin jauh aja jadinya, ntar kalo diambil sama tuh bayi gimana?" ada rasa ketakutan dari nada jawaban yang diberikan Air.
"Ya ampun! jadi Lo maunya gimana?" Hujan mulai geram.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mau begini aja ... berdua lebih enak!!!
Modus Bae..
Belom jadi udah ribut kan?
tuh anak bisa jadi musuh bebuyutan Lo kak π€π€π€
rebutan si Jan Hujan dereeeeeees!!!
__ADS_1
Dan gue males liatnya ππ
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ