Air Hujan

Air Hujan
bab 24


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Ntar, gue matiin lampu dulu., Malu tau, sumpah!!!!"


Air yang baru mau beranjak dari atas tubuh sang istri pun di tahan.


"Jangan, gue gak bisa kalo gelap" ujar Hujan yang langsung terlihat panik.


Air mengerutkan kedua alisnya sambil menatap intens wajah gadis itu.


"Lo mau terang-terangan?, gue malu lah" ucapnya lagi yang akhirnya benar-benar turun, dan kini ia duduk disisi Hujan yang masih terbaring.


"Nyalain lampu tidur aja" tawar Hujan.


"Masih keliatan, tau" Jawabnya sambil meraih remote kecil di atas nakas kemudian menyalakan dua buah lampu di sisi kanan dan kiri tempat tidur.


Dalam keadaan kamar yang kini sudah temaram, Air berniat melanjutkan aksinya, ia merasa ingin lagi dan lagi merasakan bibir ranum istrinya. Pemuda yang saat ini tak memakai baju pun mulai perlahan menarik kaos yang Sang istri kenakan.


DEG...


Ia yang belum terbiasa hanya bisa memejamkan matanya sejenak, bagaimana pun ini pertama kalinya untuk Air melihat seorang gadis tak memakai baju tepat di hadapannya.


"Malu, Jan" gumamnya yang langsung memeluk sang istri.


Hujan hanya bisa membalas pelukan suaminya sambil mengusap punggung Air, tubuh polos mereka yang bersentuhan membuat degup jantung keduanya terasa mau melompat keluar.


"Kalo malu gak apa-apa, gak usah jadi" ucap Hujan yang masih menenangkan Air.


"Jadilah, enak aja Lo" sahutnya sambil bangun.


Air menarik nafasnya, ia hembuskan secara perlahan.


Keduanya kembali berciuman, tangannya meraba punggung mulus istrinya, namun sentuhan itu terasa tak nyaman saat masih ada sesuatu yang mengganjal belaiannya.


"Ini gimana bukanya?, susah banget sih" tanyanya kesal.

__ADS_1


Hujan yang tau maksud sang suami pun hanya tersenyum kecil.


"Makanya pelan-pelan, Ay"


"Buka cepetan!" titahnya tak sabaran.


Hujan meraih satu bantal untuk menghalangi tubuh bagian depannya sambil melepas kain berwarna hitam yang tadi masih menutupi dua gunung kembarnya.


"Gue mau liat" seru Air dengan senyum kecil di ujung bibirnya yang membuat ia semakin terlihat tampan namun lucu.


Air merebut bantal itu dari pelukan Hujan, drama tarik-tarikan pun terjadi.


"Malu kan?, gue bilang juga matiin Jan Hujan dereeeeeees"


"Tapi gue takut kalo gelap" sentak Hujan.


"Kan ada gue, Lo takut apa sih" balasnya lagi.


Dengan sedikit kasar, akhirnya Air bisa menarik bantal itu dan membuangnya asal


"Yah, kena lampu, Jan" ucap Air yang melihat lampu tidurnya sudah jatuh ke lantai karna terkena lemparan bantal.


"Lo sih, gak mau pelan-pelan" oceh Hujan yang ikut melihat kearah lantai tanpa sadar jika dada polosnya justru tak ditutupi apapun.


Air menoleh, kali ini pemandangan itu jelas di depan matanya. bukit kembar yang begitu mulus dengan kerikil kecil di ujungnya, membuat ia tak berkedip bahkan dunianya seakan berhenti beberapa detik.


Ia menyentuh bahu Hujan, tentu itu membuat istrinya terlonjak kaget.


Dengan rasa panik ia mencari apa saja yang bisa menutupi tubuh polosnya.


Namun dengan sigap Air lebih dulu melempar semua bantal serta guling yang ada, begitu pun dengan selimut semua sudah ia lempar dengan jahilnya ke lantai, kamarnya kini sudah terlihat berantakan padahal permainan belum sama sekali mereka lakukan.


Kini hanya tersisa guling Kesayangannya yang masih di atas ranjang.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pisang malam ini bobo di bawah dulu ya, jangan ngintip kakak, Ok!


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Nah kan udah mulai jahat sama si pisang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Tuh pisang kalo bisa ngomong pasti pundung


kaya yang baca 🀭🀭🀭


Karna belom juga nanem 🀣🀣🀣


Fix ya ini cuma hiburan jadi biarinlah suka2 mereka mau gaya apa πŸ₯±πŸ₯±


Like komennya yuk ramaikan ❀️

__ADS_1


__ADS_2