
ππππππππππ
"Ra.. kamu masak apa ini?" tanya Reza yang tiba-tiba datang ke dapur menghampiri Khumairahnya yang sibuk dengan wajan warna warninya.
"Mas Reza masih tanya, padahal lauknya udah di pegang!" ketus Melisa sambil merajang bumbu yang siap ia masukkan ke dalam minyak yang sudah lumayan panas.
"Aku kan basa basi,, sayang" kekehnya berusaha memeluk dari belakang seperti biasa.
"Gak usah, jatohnya justru jadi basi" timpal Melisa yang membiarkan suaminya itu meletakkan dagunya di bahu kanan.
"Basi bisa jatoh ya?, kirain cuma cinta aku aja bisa sejatuh jatuhnya ke hati kamu" goda pria yang dalam hitungan bulan itu akan menimang cucu.
"Gak usah mulai, aku lagi sibuk"
"Sama, Ra. Aku juga sibuk" balas Reza yang tangan kanannya malah sudah turun mengusap hutan belantara istrinya.
"Sibuk apa? paling gangguin aku aja" cibir Melisa dengan mencebikkan bibirnya.
"Sibuk membahagiakanmu lah. Kamu pikir sisa hidupku mau buat apalagi?, Aku mau kamu selalu tersenyum sambil terus liatin aku" Ujar Reza yang mulai jahil lagi menggoda belahan jiwanya setelah tiga bulan kemarin hanya meringkuk di atas ranjang.
"Bosen ah"
"Ra.. jahat banget bilang bosen liatin aku" rengeknya yang tak terima walau tahu jika Khumairahnya hanya meledek saja.
Melisa hanya terkekeh apalagi saat ia membayangkan suaminya itu sedang merengut kesal.
Keromantisan keduanya buyar saat cebong pertama datang, Si salung yang langsung menarik kursi sedikit kasar membuat Reza menoleh.
__ADS_1
"Kenapa, kak?"
"Laper" jawab Air yang meletakkan wajahnya diatas lipatan tangan.
"Tidur dong" timpal Reza yang akhirnya melepas pelukannya di pinggang sang istri lalu duduk di sisi anak kesayangannya.
"Kecian yang di tinggal Hujan" sambungnya lagi mengejek.
"Papa gak usah mulai deh. Aku lagi kesel" cetus Air yang malas menanggapi.
"Emang kenapa sih?, sehari aja belum Hujan nginep udah uring uringan terus. Salah siapa pulang"
"Aku lagi pengen tidur, disana ada sodaranya Hujan yang Bapak-bapak itu, aku males ladenin dia maen catur lagi" dengus Air kesal jika mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat ia di minta tanding catur hingga menjelang subuh.
"Dendaman amat sih, Kak" ejek Reza lagi.
Pria itu mengusap kepala si sulung, Ia tahu bagaimana rasanya jauh dari sang pemilik hati meski sebenarnya ia pun belum pernah merasakannya mengingat Melisa tak punya sanak saudara yang harus di kunjungi hingga sampai menginap selain Panti asuhan, tapi semenjak Ummi meninggal tentu semua pun ikut berbeda. Wanita itu tetap rajin berkunjung meski tak selama dulu jika berada disana karna panti asuhan kini sudah berpindah tangan kepada putra Ummi.
Hanya ada Reza, Melisa dan Air karna yang lain sudah pergi sehabis sarapan pagi.
"Makannya habisin ya ganteng" kata Melisa sambil menyendokkan nasi ke piring si sulung, semenjak putranya menikah tentu hal seperti ini jarang ia lakukan lagi karna tugas melayani Air tentu berpindah ke Hujan, Wanita yang dinikahi anak pertamanya lebih dari empat tahun lalu.
"Makasih, Mah"
"Masih anti sayur, kak?" ucap Reza sambil menyuapkan satu sendok nasi yang sudah tercampur dengan udang goreng crispy kesukaannya.
"Masih lah, gak ngaruh" jawab Air.
Melisa tersenyum melihat si sulung merengut kesal yang terus digoda oleh papanya.
__ADS_1
Hal yang kadang menjengkelkan namun juga menyenangkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan cerah cerah senyumnya, Ra..
Nanti matahari minder!!
πππππππππππ
Lagi kangen sama babang Reza yang gombalin Melisa.
Awas rayuannya di plagiat cabong π€£π€£π€£
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan.