Air Hujan

Air Hujan
Bab 127


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Air yang semakin histeris membuat Hujan semakin senang menggoda, ia terus menghindar saat bayi buaya cengeng nya itu merajuk padanya.


Hal yang sepertinya hanya Hujan yang mengalaminya di dunia ini yang sebagai istri harusnya ia yang dimanjakan bukan malah memanjakan.


"Tidur!" titah Hujan tegas.


"Gak mau! pisang kakak disana sendirian" jawabnya lirih, matanya sudah sangat sembab.


Hujan mengusap kepala Air yang masih menempel di perutnya, pemuda itu benar-benar tak bisa tidur bahkan tangannya seperti reflek mencari sesuatu.


Masih terdengar isakan yang begitu sedih darinya. Hujan sangat puas mengerjai sang suami saat ini.


Tangis Air sama seperti tangisnya saat kebingungan mencari tahu keberadaan suaminya tadi.


"Malam ini tidur gak sama pisang, gak apa-apa, kan?"


"Kasian"


Hujan menghela nafas sambil terus mengusap kepala Air berharap suaminya itu cepat tertidur karna waktu sudah lewat tengah malam. Ia melirik sesekali dan ternyata si tampan kini sudah terlelap terbuai mimpi meski ada Gumaman-gumaman kecil keluar dari mulutnya.


.


.


.


Hujan bangun di jam seperti biasa meski hari ini adalah hari libur kuliahnya di minggu pertama awal bulan, dengan sangat pelan ia menggeser tubuhnya agar bisa segera membersihkan diri sebelum Air bangun, Gadis cantik itu mencium kening dan membenarkan selimut yang tersingkap dari tubuh polos suaminya.


Usai mandi dan berpakaian hujan langsung keluar dari kamar menuju lantai bawah dimana pasti mama mertuanya sudah ada disana menyiapkan sarapan seperti biasa.


"Mah."


"Pagi sayang, kakak belum bangun?" tanya Melisa pada menantu pertamanya itu.


"Belum, Mah. Semalem tidur tengah malem nangis terus" kata Hujan sambil meraih wadah berisi udang yang entah akan di masak oleh mama mertuanya.

__ADS_1


"Nangisin apa?" Melisa mengernyitkan dahinya setelah ia memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Hujan.


"Nyariin pisangnya, kan ketinggalan dirumah bunda" jawab Hujan jujur meski ada rasa tak enak hati.


Melisa langsung mencuci tangan lalu meninggalkan Hujan di dapur tanpa sepatah katapun, langkahnya begitu tergesa sampai membuat Hujan bingung dan akhirnya mengejar mertuanya naik ke lantai atas menuju kamarnya.


CEKLEK


Tanpa mengetuk pintu melisa langsung membukanya dengan sangat kasar, raut wajah panik jelas terlihat dari wajah ibu empat anak itu.


"Kakak"


"Kak.. kakak gak apa-apa?"


Hujan yang berdiri di belakang Melisa ikut panik saat tangan lembut sang mertua menyentuh kening suaminya.


"kakak, demam?" tanya Hujan.


"Sedikit" jawab Melisa tanpa menoleh, ia mengusap kepala dan wajah anak kesayangannya itu.


"Jaga suamimu, biar mama buatkan teh hangat untuknya" pinta Melisa dengan nada dingin tak seperti biasanya, tentu sikapnya itu membuat Hujan tersentak kaget dan merasa bersalah.


Gadis itu duduk di sisi suaminya, ia ikut memegang kening juga leher Air yang terlelap dan ternyata memang sedikit panas.


"Kamu demam, perasaan tadi enggak" gumam Hujan.


"Kenapa demam pas mama yang pegang sih! kan akunya takut di omelin, kak" gerutunya kesal karna memang saat sebelum ia keluar dari kamar suaminya dalam keadaan baik-baik saja.


Hujan tak berani membangunkan, ia hanya diam memperhatikan Air terbaring dengan mata tertutup rapat. hembusan nafasnya memang terasa begitu hangat.


Derap langkah kaki saat pintu kembali terbuka membuat Hujan reflek menoleh, ada mama mertuanya yang sedang berjalan mendekat dengan membawa nampan di tangannya.


"Suruh kakak minum teh nya sedikit sedikit, suapi buburnya lalu beri ia obat juga" titah Melisa saat menyerahkan nampan yang ia bawa kepada menantunya.


"Iya, mah"


"Dan satu lagi.." ucap Melisa sebelum ia pergi.

__ADS_1


"Apa?" tanya Hujan, ia begitu sangat ketakutan saat ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan pernah bikin kakak jauh dari pisangnya!


πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„


Hayo looooooh..


Emaknya buaya ngamuk anaknya sakit 🀣.

__ADS_1


Gue gak ikutan ya jan hujan deres!!


like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2