
ππππππππ
"Ya udah... mulai malam ini aku pake pengaman ya" ucap Air agar istrinya tenang, tapi bukan berhenti menangis Hujan justru semakin menjerit untuk menumpahkan rasa kesal dan jengkelnya yang seakan Air menyikapi semuanya dengan candaan.
"Kakak jahat!" pekiknya sambil bangun dari duduk, sorot matanya begitu nyalang menatap sang pewaris Rahardian.
BRAAAAAAKKKK
Hujan menutup pintu ruangan dokter sampai semua yang berada disana tersentak kaget, begitu pun dengan Air bahkan pria itu sampai harus mengusap dadanya sendiri.
"Terima kasih ya, Dok. Saya permisi" pamit Air dengan sangat terburu-buru.
"Iya, Tuan. Biar obat dan vitaminnya nanti langsung di kirim ke apartemen anda" jawab dokter yang hanya di jawab anggukan oleh Air yang sudah hendak membuka pintu.
Air terus berlari menyusuri koridor rumah sakit mencari sosok wanita yang kini tengah mengadung anaknya lagi, ia terus mengedarkan pandangannya namun tak juga menemukan Hujan, sampai pada saat ia mendengar isakan tangis dari balik dinding arah tangga.
"Jan, kok disini? yuk pulang." ajak Air pelan yang kini tengah berjongkok di hadapan pemilik hatinya.
"Aku bingung" jawabnya lirih sambil menunduk sedang tangannya memeluk erat perutnya sendiri.
"Apa yang kamu bingungin sih, kamu gak mau hamil lagi?" tanya Air mulai menebak.
"Bukan, kalau waktunya gak secepet ini mungkin aku gak apa-apa, tapi aku rasa ini bukan waktu yang tepat buat punya Baby lagi karna Samudera masih bayi" jelas Hujan yang mengungkapkan tentang isi hatinya yang kacau.
"Kamu maunya gimana? kalau kamu mau gugurin bayinya, mohon maaf aku gak akan izinin kamu" tegas Air.
"Enggak, aku gak punya pikiran kesana, Kak" rengeknya yang takut jika Air berprasangka buruk terhadapnya.
__ADS_1
"Anak itu hahal, bikinnya aja pake cinta meski ada bohongnya sedikit, jadi gak usah jadi beban pikiran buat kamu apalagi cuma mikirin Baby Bear yang belum ngerti apa-apa." rayu Air lagi.
"Aku mau fokus dulu urus Sam, satu anak aja kita selalu repotin mama sama papa, gimana kalau ada bayi lagi?"
Air malah terkekeh mendengar ucapan istrinya karna apa yang ditakutkan Hujan tentu tak akan pernah terjadi dalam keluarganya sebab ia tahu jika kedua orangtuanya sangat menyayangi Samudera melebihi apapun mungkin melebihi rasa sayang mereka padanya kini.
"Mama sama papa gak akan keberatan buat urusin cucunya, malah kayanya akan seneng banget kalo tau kamu hamil lagi Jan Hujan Deres"
"Aku takut mama capek, kehamilan aku bakal nunda jalan-jalan mereka lagi, kak" Seru Hujan yang serba salah, ia tak ingin menjadi penyebab atas gagalnya lagi rencana bulan madu mertuanya yang hendak keliling dunia.
"Kayanya papa udah lupa sama itu semua, gak perlu honeymoon juga udah dapet bayi."
Hujan mengangguk paham dan pasrah, keduanya saling berpelukan agar sesak dalam dada mereka sedikit berkurang, pasangan muda yang sudah banyak melewati hal sulit yang menguji kesabaran itu pun kini bergegas pulang.
*****
Air membuka pintu apartemen tempat tinggal kedua orangtuanya, ia tak berani keluar dari sana karna kini hanya ia dan Hujan yang ikut Reza dan Melisa sebab kedua adiknya memilih untuk mandiri meski masih dalam satu gedung yang sama.
"Sepi, Ay"
"Paling lagi main sama Baby Bear di kamar" jawab Air.
Keduanya terus melangkah menuju tangga namun, mereka berhenti saat melihat Melisa yang baru saja turun.
"Sam mana, Mah?" tanya Hujan langsung.
"Di kamar mama, baru aja tidur abis nangis sedih banget" jawab Melisa yang langsung membuat anak dan menantunya itu saling pandang.
__ADS_1
"Kok bisa, kenapa?"
"Di tinggal Papa, tadi ada urusan mendadak. Kayanya nyariin deh makanya rewel banget" jelasnya lagi.
"Terus itu bisa diem, di apain?" tanya Air.
"Kalian liat aja sendiri sana"
.
.
.
.
.
.
.
Titisan Gajah π€£π€£π€£π€£π€£π€£
Bakal jadi kesayangan Appa Reza ini sih.. calon mandi duit ππππ
__ADS_1
like komennya yuk ramaikan.