
πππππ
Sepeninggal Air ke kantor kini tinggal Hujan dan Bunda di ruang tamu karna Samudera tengah terlelap di kamar usai mandi dan minum susu.
"Jadi pulang sore nanti?" tanya Bunda seakan berat melepas kepegian Samudera.
"Iya, Bun. Nanti kalau bunda ada dirumah lagi aku pasti nginep kok" jawab Hujan yang sepertinya paham.
"Iya, lusa bunda akan kembali ke luar kota" sahut wanita berkacamata itu.
Rengekan Samudera dari dalam kamar membuat Hujan sedikit berlari untuk melihatnya, karna takut anak kesayangan Rahardian itu jatuh lagi dari tempat tidur mengingat di rumah bunda tak ada box bayi untuk ia tidur.
Baru saja masuk, Hujan kembali di kagetkan dengan suara dering ponselnya. tentu ia lebih dulu menggendong Samudera lalu meraih benda pipih yang masih bergetar itu diatas nakas.
"Hallo, Kak" sapa Hujan pada suaminya di sebrang sana.
"Kita pulang siang aja ya, aku ada rapat deket rumah Bunda biar sekalian" ucap Air langsung.
"Itu anak aku, kamu apain?" tanya Air lagi saat mendengar Baby bearnya menangis kencang.
"Anak aku juga, Kak!" protes Hujan.
"Iya, iya. Anaknya Air Hujan. Terus gimana? mau gak" tanya Air lagi karna waktu sudah lewat dari jam sebelas siang.
"Ya udah, tinggal berangkat aja, aku udah rapih" kata Hujan sambil terus menenangkan Samudera dalam gendongannya.
Setelah sepakat, Air pun menutup teleponnya ia juga berbicara sebentar pada Samudera meminta anak itu untuk berhenti menangis.
"Yuk kita rapih rapih ya, dede diem sini. Moy ambil baju salin dulu, ok" pesan Hujan sambil mendudukan Samudera
Keh.
__ADS_1
Hujan yang sudah selesai merapihkan semuanya, menggerek dua koper keluar kamar, bunda yang masih berada di ruang tamu pun sampai mengernyitkan dahinya.
"Katanya sore?"
"Kakak minta pulang sekarang, ada rapat di dekat sini katanya" jawab Hujan.
.
.
.
Lebih dari satu jam, Akhirnya Air datang dengan mobil mewahnya. Ucapan salamnya di depan pintu membuat Samudera langsung merangkak mendekat.
PaPay dede.
"Hahaha, iya dong, udah ganteng banget. Mau pulang ya?" tanya Air saat anak kesayangannya itu sudah ada di dalam gendongannya.
Iyyaah, Appa.
"Pulang ya, Bun. Nanti kesini lagi" ucap Hujan sedih.
"Iya, nanti bunda kasih kabar kalau ada di rumah" jawabnya sambil memeluk Hujan dan Samudera.
"Kakak pamit, Bun"
"Hati-hati dijalan ya" sahutnya sambil mengusap kepala Air saat pria itu mencium takzim punggung tangannya.
*****
Selama perjalan pulang Hujan membiarkan Samudera terlelap lagi dalam dekapannya, karna nanti ia tak akan mudah rewel jika tidurnya cukup puas dan lama tanpa gangguan.
"Aku baru bilang papa kalau mau pulang sekarang" ucap Air dengan mata tetap fokus pada jalan di depannya.
__ADS_1
"Iya, tadi pagi pas telepon aja aku bilangnya sore" sahut Hujan.
Mereka yang sudah sampai di parkiran, akhirnya turun dari mobil menuju lift yang akan mengantar ketiganya menuju lantai tempat tinggal Rahardian.
Apartemennya masih nampak begitu sepi karna Reza dan Melisa masih berada di rumah si bungsu.
"Dede diem sini, papAy telepon Appa dulu" ucapnya pada Samudera yang berdiri di sofa ruang tengah.
Iyyaah..
Baru saja Air ingin merogoh saku celananya ternyata ada suara pintu terbuka dari arah depan membuat Air dan Hujan menoleh secara bersamaan.
.
.
.
.
.
.
.
Huleeeeeeee
Appa jajah dede
ππππππππππ
__ADS_1
Gue yang Jingkrak2 selama setaun gak di lirik bangππ
Like komennya yuk ramaikan π₯°π₯°π₯°