
ππππππ
"Butuh berapa?" tanya Bumi saat keduanya sudah berada di luar dengan tiga orang penjaga yang sedang bersiap jika sesuatu terjadi pada tuan muda mereka.
"Apa sih!" elak Diandra yang merasa tersinggung.
"Mending Lo bilang, dari pada gue keburu berubah pikiran dan malah gak dapet apa-apa" tegas putra kedua RAHARDIAN itu.
"Hah! Lo kira gue semurahan itu?" Cibir Diandra.
"Berarti drama Lo yang murahan!" Bumi menekan bahu Diandra sampai gadis itu mundur satu langkah.
Bumi memang pemuda yang pendiam namun ia bisa kasar pada siapapun yang mengusiknya dan Ia akan lebih kejam dari keluarganya yang lain.
Ia tertawa sumbang meremehkan Diandra karna gadis itu bukan orang pertama yang masuk dalam kehidupan Rahardian.
Kekuasaan dan kekayaan yang mereka miliki membuat para wanita rela menjual kata Cinta atau sengaja melempar tubuhnya sendiri.
Bumi melangkah pergi tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya, ia hanya memberi kode lewat sorot mata kepada para penjaga agar mengurus Diandra.
Gadis itu menjerit bahkan mengeluarkan kata-kata kasar saat di seret oleh dua orang yang bertugas di depan pintu kamar perawatan kakaknya.
.
.
"Kamu apain?" bisik Langit saat adiknya sudah kembali dan duduk di sebelahnya.
"Ditawarin duit gak mau. akhirnya pergi sia-sia" jawab Bumi yang kini tengah menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Bae banget mau kasih dia duit!" ejek anak angkat mamanya itu.
"Tar minta gantiin kakak lah, enak aja!" sungutnya kesal.
Langit menahan tawa di balik bantal, ia begitu lucu melihat raut wajah adik Keduanya itu yang tampak kelelahan sambil menekan rasa jengkelnya.
Semua yang menunggu Air sadar tampak diam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Hujan dan Melisa begitu setia mendampingi di sisi kanan dan kiri pemuda itu.
"Kak.. kakak gak kasihan sama mama juga Hujan?" bisik Melisa, tak ada Isak tangis lagi yang terdengar dari mulutnya, yang ada hanya lelehan air mata yang terus membasahi wajah yang selalu nampak cantik di usia yang tak lagi muda.
"Tadi padahal tangannya udah gerak, kenapa jadi nyenyak lagi sih, kak? kamu mimpi apa sampe gak mau bangun! aku bingung kalo kamu diem begini" keluh Hujan sambil menghapus air matanya.
Dua wanita itu tetap menjaga Air di dalam kamar, tapi berbeda dengan tiga pria Rahardian yang memilih keluar mencari angin di kantin VVIP sambil menikmati minuman yang mungkin bisa menyegarkan otak mereka lagi.
"Kakak tumben bawa motor?, bukannya pergi sama Hujan?" tanya Langit yang sudah hafal dengan kebiasaan adiknya itu.
"Itu motor montir di Bengkelnya, mobil dia ada disana" jawab Reza setelah menyesap sedikit kopinya.
"Kecelakaan tunggal?"
Reza mengangguk mengiyakan pertanyaan Langit.
"Jangan bilang kalo jalannya yang salah kalo nanti dia udah sadar" kekeh pemuda dua puluh empat tahun itu.
"Bukan salah, tapi cinta!" timpal Bumi.
Pengen marah tapi lucu.
Gak marah tapi kesel..
***
Di dalam kamar Hujan Langsung terperanjat kaget saat namanya di panggil begitu pelan oleh seseorang yang di tunggu kesadarannya.
"Jan.."
"Aku di sini, aku disini kak" sahut Hujan sambil tersenyum begitu pun dengan Melisa.
"Mah, sakit" keluhnya saat menoleh kearah sang mama.
"Iya sayang, nanti sembuh ya" balas Melisa sambil menciumi wajah anak Kesayangannya itu.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tapi kuping kakak panas!!!
πππππππ
Lo lagi di ghibahin kakππππ
Makanya cepet bangun!
Tabok noh si gajah tua sama anak bawangπ€π€
Like komen nya yuk ramai kan
__ADS_1