
πππππππ
Drama petir dadakan membuat Air dah Hujan akhirnya memutuskan untuk bolos di jam pertama mata kuliah mereka, dan kini keduanya berada di teras depan rumah usai membersihkan diri dan sarapan pagi.
Hujan terus saja memandangi langit yang cerah berawan putih dan malah cenderung terik.
"Kok bisa ya ada petir tiba-tiba?" Gumam gadis itu masih bingung.
"Itu namanya PRANK" jawab Air tanpa menoleh karna sibuk dengan game online diponselnya sampai ia tak sadar jika sang istri sedang merengut kesal kearahnya
Di usianya yang kini menginjak sembilan belas tahun, ia masih saja takut dengan suara petir yang datang tiba-tiba tanpa gerimis atau hujan lebih dulu.
Tubuhnya akan reflek lemas lalu bergetar bahkan nyaris pingsan jika mendengar suara petir dan kilat mendadak.
Orang-orang yang sudah tau akan hal itu akan merasa khawatir padanya jika sudah memasuki bulan musim penghujan.
"Kamu bisa ke psikiater, kalau mau" ucap Air yang langsung membuat Hujan menoleh sambil mengernyitkan dahinya.
"Buat apa?"
"Buat ilangin rasa trauma kamu ke si petir" jawab Air sambil meletakkan ponselnya ke atas nakas lalu menyesap minumannya.
"Gak, lah"
"Kan gak lucu si Hujan takut sama petir, padahal harusnya kalian itu sahabatan di langit, hahahaha" ujar si sulung sambil tertawa terbahak-bahak.
.
.
.
Dua jam berlalu kini saatnya mereka bersiap untuk ke kampus, hari ini jadwal Air akan lebih dulu jadi Hujan akan menunggu dikantin atau di perpustakaan seperti biasanya jika jam kuliah mereka selisih satu atau dua jam.
Hujan yang sudah membuka kaosnya langsung di peluk dari belakang oleh sang suami, dengan sangat lembut Air menciumi tengkuk dan bahu sang istri sampai Hujan harus menggigit bibir bawahnya sendiri agar tak bersuara mengingat ini bukan di apartemen yang bebas mengekspresikan gejolak dalam diri mereka..
__ADS_1
"Ay... " desis Hujan saat dengan isengnya Air justru membuka penutup satu-satunya yang ada dibagian atas tubuhnya.
"Ribet" bisiknya yang masih berdiri di belakang Hujan.
Air melempar benda itu dengan asal entah kemana, bibirnya kembali menyusuri leher jenjang serta bahu putih bersih milik sang istri dengan kedua tangan sudah menangkup dua bukit kembar area Favoritnya untuk berpetualang memberi jejak kepemilikan.
Ia yang tahu jika Hujan sudah semakin lemas langsung membalikkan tubuhnya yang sudah polos di bagian atasnya itu.
"Ay.. Udah" de Sah Hujan saat suaminya mendudukkan ia di atas meja belajar, kini pemuda tampan itu akan sangat leluasa bermain di dua bukit yang kini terpangpang jelas tepat di depan matanya.
Bibir dan tangannya sudah semakin aktif secara berbarengan di bagian kiri dan kanan, Hujan hanya bisa memejamkan matanya sambil mencengkram bahu suaminya untuk menekan desa hannya sendiri, semakin Hujan meracau tentu Air akan semakin menggila untuk melakukannya, karna bagi pemuda berumur dua puluh tahun itu tak ada yang membuat ia bangga kecuali bisa memberikan pelepasan berkali-kali pada gadis halalnya itu.
Entah sudah berapa lama Ia bermain di sana, yang jelas kini sudah ada beberapa mahakaryanya tertinggal di dua bukit milik sang istri, Air tersenyum puas melihat hasilnya sendiri.
"Ay.. udah yuk" lirih Hujan, ia masih ingat tujuan awal mereka masuk kedalam kamar untuk bersiap merapihkan diri bukan untuk penyatuan diri.
"Tanggung" jawab Air yang kali ini me lu mat habis bibir Hujan setelah puas bermain di bagian dadanya.
Ia pegang tengkuk sang istri dengan tangan kanannya agar tak bisa melepaskan pagutannya, tapi tangan kirinya justru mulai merayap ke Kebun kecil.
"Engga, nanti kamu telat" tolak Hujan, ia tahu betul jika permainan suaminya itu akan menghabiskan waktu yang tak sebentar.
"Udah tanggung banget" rengeknya sambil memaksa membuka kancing celana Hujan.
"Enggak, Ay!"
"Sebentar aja, Janji deh bakal buru-buru" ucapnya dengan tangan sibuk membuka apapun yang kini menghalangi jalannya menuju puncak kenikmatan.
"Sejak kapan kamu sebentar?" ejek Hujan yang akhirnya pasrah.
"Sejak...... "
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jan... Cobain sambel goreng bunda dulu dong sebentar!!!
π§ββοΈπ§ββοΈπ§ββοΈπ§ββοΈπ§ββοΈπ§ββοΈπ§ββοΈπ§ββοΈπ§ββοΈπ§ββοΈπ§ββοΈπ§ββοΈ
Oh.. No..
Oh.. Yes πππππ
Tunda ya kak demi ibu mertua π€£
Hotel emang tempat paling amanπππ
Like komennya yuk ramaikan
__ADS_1