Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 122


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Hujan yang baru keluar dari kelasnya langsung melangkahkan kaki kearea parkir mobil. Namun, langkah nya terhenti saat dua temannya datang menghampiri.


"Jan, ikut kita yuk"


"Kemana?" tanya Hujan, bingung. Ia yang tak pernah dekat dengan siapapun sudah terkenal kesombongannya padahal orang-orang tak pernah tau bagaimana sulitnya ia bangkit dari rasa trauma untuk mau keluar dan berada di lingkungan ramai seperti ini.


"Nongkrong lah, masih siang juga"


"Aku mau pulang, ada anakku yang nunggu dirumah" tolak Hujan, tak. pernah sekalipun ia melipir ke suatu tempat jika usai menimba ilmu, itulah satu-satunya syarat yang ia setujui saat memohon untuk balik kuliah pada sang suami.


"Sekali ini aja, gak. pernah liat lo nongkrong deh, sumpah!"


"Gak punya duit ya? kita traktir deh!"


"Padahal istri direktur. Menantu keluarga konglomerat juga tapi dirumah terus ngurus anak" kekeh keduanya yang membuat Hujan geram.


"Gak ada yang lebih berarti dari anak dan suamiku, sekalipun aku keluar rumah itu bukan dengan KALIAN tapi dengan MEREKA" balas Hujan menahan kesal.


.


.


.


.

__ADS_1


BRAAAAKKK...


Hujan membuka pintu ruangan suaminya dengan cukup keras tanpa mengetuknya lebih dulu membuat Air dan Daniel mengusap dada mereka masing-masing sambil mentap aneh Hujan kebingungan.


"Sayang.... "


Daniel yang di minta keluar oleh Air langsung pamit dan pergi sedangkan Hujan berhambur memeluk pria yang menjabat sebagai Direktur utama di perusahaannya itu.


"Kenapa Jan Hujan Deres?" tanya Air saat istri kesayangannya sudah berada dalam pelukan.


"Gak apa apa, lagi kesel aja" sahut Hujan dengan mata yang memerah.


"Kenapa gak ajak dede?"


"Aku langsung dari kampus, gak pulang dulu tadi"


Air mengajak Hujan ke sofa, ia tahu jika pemilik hatinya itu sedang tak baik-baik saja, entah apa yang terjadi padanya sampai harus nekat datang ke kantor tanpa mengabarinya lebih dulu.


"Entahlah, aku hanya kesal pada mereka yang selalu menggoda ku untuk nongkrong jika selesai kuliah" jawab Hujan memulai ceritanya.


"Siapa?"


"Beberapa teman satu kelasku. Seringnya aku menolak membuat mereka semakin meledekku, kak." adunya lagi yang kini justru sudah menangis tersedu sedu.


"Padahal tempat mereka jalan pun itu Mall milikmu, atau resto milik keluarga kita, Aku sudah bosan kesana"


Air terkekeh dengan semua yang di ceritakan sang istri, ia paham betul dengan apa yang di rasakan Hujan, usianya yang memang masih muda tentu masih sering tergoda dengan pergaulan bersama teman-temannya, tapi Hujan selalu memilih pulang atau kerumah sakit sesuai janjinya selama ini karna Air selalu menekankan jika Samudera masih membutuhkannya dan Samudera selalu menunggu kepulangannya.

__ADS_1


"Tak ada yang salah dengan ajakan temanmu, Jan. Mereka mungkin hanya ingin jauh lebih dekat mengenalmu. Tapi mereka tak paham dengan tanggung jawab mu yang sudah menjadi istri dan ibu jika suami serta anak lah prioritas utamamu saat ini. Mereka yang belum berkeluarga hanya mengejar nikmat dunia saja sedangkan kamu, dunia dan akhirat harus imbang dalam satu jalur secara bersamaaan di satu hari." jelas Air Sambil mencium pucuk kepala istrinya berkali-kali.


"Kamu pun tak harus menolaknya terus, aku izinkan jika mau pergi asal jelas kemana dan dengan siapa, dan satu lagi"


"Apa?" tanya Hujan seraya mendongakkan kepala.


.


.


.


.


.


.


.


.


Boleh pergi asal dengan pengawalan ketat!


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Tak semudah itu wanita Rahardian keluar sendiri πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


Pasukan Gajah berserta Baskom ajaib nya selalu siap melapor 🀭🀭🀭


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2