
πππππππ
"Aku takut" ucap Hujan saat masih di dalam mobil.
"Apa yang di takutin, ini rumah sakit kamu" jawab Air yang masih merayu istrinya agar mau turun.
Selang dua hari, akhirnya Air dan Hujan memutuskan membuat janji dengan salah satu dokter kandungan terbaik rumah sakit milik Hujan, ia yang tak lagi aktif datang semenjak di lecehkan dua tahun silam menjadi canggung, malu dan rasa sedikit takut.
"Ayo, kakak mau balik ke kantor" ajaknya lagi pada Hujan yang masih enggan untuk turun.
"Mau ya cantik, katanya sayang sama bayi" rayu sang direktur yang sudah lengkap dengan stelan jasnya.
Hujan membuang nafad perlahan untuk menetralkan degup jantungnya yang berdetak tak seperti biasanya, entah apa yang ia rasakan Hujan pun tak mengerti sama sekali.
"Ada aku, yuk"
Rayuan demi rayuan serta imbalan apapun Air layangkan demi bisa membuat Hujan mau masuk memeriksakan kehamilannya.
.
.
.
"Bagaimana?" tanya Air pada Seorang dokter perempuan yang baru saja selesai memerika istrinya, Hujan yang masih berbaring di bantu satu perawat untuk membenahi atasan bajunya yang tadi tersingkap sedikit sebatas dada.
"Semua bagus, hasilnya Ok dan usianya baru tiga minggu jadi mohon di jaga dengan baik ya" pesan sang dokter yang sudah sangat dewasa meski belum terlalu tua.
"Di jaganya gimana?" tanya Air polos, karna bayinya masih di dalam perut.
"Nona muda jangan sampai stres, terlalu lelah dan banyak fikiran yang bisa mengganggu kesehatannya, makannya juga di jaga diperbanyak buah dan sayur ya"
Air mengangguk paham, ia usap kepala istrinya yang kini sudah duduk di sisinya.
"Gak ada larangan buat... " Air tak meneruskan ucapannya saat Hujan mencubit pinggannya.
__ADS_1
"Gak ada, asal di lakukan dengan santai dan tak terburu-buru kalian masih bisa melakukannya asal pelan" kekeh dokter wanita itu yang paham apa yang ingin di katakan oleh Tuan mudanya tadi.
"Syukur deh, hahaha" jawab Air mengusap dadanya sendiri, ia tak bisa membayangkan jika harus berpuasa lagi karna dua tahun kemarin sudah sangay cukup baginya.
"Ada keluhan?" kini pertanyaan beralih pada Hujan.
"Gak ada, semua baik-baik aja. Cuma cepet capek"
"Itu sudah biasa terjadi di trimester pertama, Mual dan pusing ny bagaiamana?"
Hujan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban karna ia sama sekali tak merasakan apa yang biasanya ibu hamil rasakan pada umumnya.
"Baiklah, tapi tetap saya berikan resep obatnya jika nanti Nona muda mendadak mual dan pusing ya"
.
.
Usai memeriksakan kandungan, Hujan memilih ikut ke kantor bersama suaminya karna ia akan merasa sepi jika di apartemen sebab Melisa selalu berada di kamar menemani Reza yang sama sekali tak ingin lepas dari pelukan istrinya.
"Mau sesuatu?, mumpung masih di jalan" tawar Air yang fokus pada jalan di depannya
"Tapi aku mau apa-apa"
"Ya udah terserah" sahut gadis itu yang paham jika suaminya pasti sedang kelaparan.
Air menepikan mobilnya di depan minimarket pinggir jalan, ia tersenyum penuh arti kearah sang istri.
"Mau ikut turun gak?"
Hujan hanya mengangguk pasrah , lalu keduanya masuk bersama sambil bergandengan tangan. Dua keranjang kini sudah penuh dengan berbagai macam cemilan dari roti, kue, wafer, hingga coklat semua Air ambil tanpa pikir panjang.
Hingga sampai di meja kasir semua ia bayar dengan mengeluarkan credit cardnya.
"Terimakasih" ucap Air saat menerima struk dan tiga bungkus pastik besar.
__ADS_1
Pasangan suami istri itu kembali masuk kedalam mobil, Air meletakan barang belanjaannya di kursi belakang.
"Kak, tadi beli permen mana?" tanya Hujan yang mulai merasakan kantuk.
"Ada di bungkusan paling kecil" jawab Air sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Aku buka ya, di simpen di toples kecil nanti plastiknya buang" ujar Hujan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Iya.. plastik nya aja yang dibuang, rasa sayang kamu jangan ya...
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Kresek item mulai ngegembel lagi π€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikan π₯°π₯°