
πππππππ
"Kak, tukang molen di pertigaan masih bukan gak?" Melisa yang tiba tiba datang mengagetkan keduanya baru saja hendak kembali berciuman.
"Gak tau, Mah" jawab Air malas.
"Cari gih, Papa belum makan dari pagi" titah Melisa yang nampak lelah walau ia hanya memeluk suaminya seharian.
"Udah malem loh, Mah. Kata uncle cowok ganteng di larang kelayapan abis maghrib"
"Kenapa?" tanya Melisa dan Hujan berbarengan.
"Takut menggemparkan dunia ghaib!"
.
.
Air berjalan sendiri menuju lobby apartemen, kali ini ia tak mengajak Hujan karna gadis itu memberi alasan ingin membersihkan dirinya.
Sepanjang jalan ia terus menggerutu kesal karna sikap aneh papanya yang memaksa harus ia yang membeli molen di pertigaan dekat salah satu sekolah Dasar yang setiap hari ia lewati satu berangkat berkerja.
"Hallo, Bang. Dimana?" tanyanya lewat sambungan telepon saat ia baru saja naik keatas motor besarnya.
"Dirumah, kenapa?" jawab Langit sambil balik bertanya.
"Ngapain?"
"Maen PlayStation sama Bumi sama uncle" jawabnya lagi.
"Kesini cepetan, Kita maen bareng ya"
"Tapi.... "
Air melihat ponselnya yang ternyata mati.
__ADS_1
"Pake lowbet segala sih!" dengusnya kesal.
Air yang memang sudah sangat mengantuk memilih melajukan motor besarnya itu dengan pelan, setidaknya ia masih sadar jika keselamatan yang kini paling utama berbeda saat ia remaja dulu hanya berpikiran cepat dan sampai.
Tiiiiin..
Motor besarnya berhenti di depan gerbang rumah utama, setelah pagar besar dan tunggi itu terbuka Air langsung memasukannya ke dalam garasi.
"Ada siapa?" tanya Air pada salah satu supir yang kebetulan ada di garasi.
"Tuan muda Langit dan Tuan besar Ricko, Tuan" jawab pegawai di rumah utama.
"Oh.." jawabanya santai lalu berjalan masuk lewat pintu garasi yang langsung tembus ke dapur.
Matanya melirik kearah kulkas, ia membuka lemari pendingin itu dan matanya berbinar saat melihat ada kue dan salad buah
"Nikmat mana lagi yang harus ku dustkan?" kekehnya sambil mengambil kue dan salad yang kemudian membawanya ke ruang tengah.
"Hello epribadeh... tralala trilili" teriak Air namun tak satupun antara Langit dan Ricko yang menoleh.
"Adek gede kemana, Uncle?" tanya Air sambil menyuapkan kue dan salad ke mulutnya secara bergantian.
"Belom pulang shooping sama Tata" jawab Ricko yang masih fokus pada layar TV Led besar di hadapannya.
"Kan udah malem, Uncle"
"Kalo belum di usir sama satpam itu emak sama anak gak inget pulang, Kak" sahut Ricko yang kadang sering dibuat pusing dengan kebiasaan dua wanita kesayangannya itu.
Air hanya mengangguk paham, meski Hujan dan mamanya tak pernah begitu apalagi adik bungsunya yang memang jarang sekali keluar tapi semua kebutuhannya tinggal ia tunjuk dan sejam kemudian semua barang yang di inginkan langsung datang kerumah, begitu lah cara Reza memanjakan sang tuan putri kesayangannya selama ini.
"Loh.. kakak tadi bukannya bawa kue, mana?" tanya Langit yang kebingungan.
"Nih udah masuk sini semua" jawabnya sambil mengusap perut buncit.
"Terus ini apa?, salad ya?" tanya Langit lagi yang hanya di jawab anggukan kepala.
__ADS_1
"Abis semua?" kini Langit dan Ricko yang bertanya secara berbarengan.
"Tadi kan pas masuk lewat garasi, eh ketemu kulkas melambai-lambai pas di deketin dia bisik bisik ada kue sama salad, terus dia minta kakak buat mindahin tuh makanan ke perut" Ucap Air memberikan alasan konyol luar biasa.
"Dia kira kita anak sekolah dasar kali, Bang" ejek Ricko yang disambut gelak tawa oleh Langit
DEG...
"Kenapa?" tanya Ricko saat melihat raut wajah aneh keponakannya.
.
.
.
.
.
.
.
Kakak kan di suruh beli molen di pertigaan sekolah SD..
βββββββββββββ
Otaknya makan mulu sih π€£π€£π€£ lupa kan sama sama pisang salimbut πππ.
Tar gendut belalainya kalo imut gak keliatan lohβΊ
Like komennya yuk ramaikan..
Makasih yang udah ikut 5 babnya hari ini..
__ADS_1