
πππππππππ
Tiga bulan sudah usia kandungan Hujan, tak ada yang berubah darinya kecuali perutnya yang sedikit membuncit. Keluarga Rahardian yang akhirnya tahu kabar baik itu pun langsung menyambutnya dengan sangat antusias termasuk Oppa dan Omma yang menangis haru memeluk cucu mantunya, doa dan harapan panjatkan oleh pasangan baya itu untuk cicit kedua mereka termasuk beberapa jaminan yang akan di turimanya kelak jika sudah lahir.
Berbeda dengan kehamilan yang pertama justru yang kedua ini semua berjalan dengan normal, tak ada morning sickness yang di alami Hujan, Air atau Reza lagi, hanya saja Samudera yang semakin hari semakin rewel dan tak bisa lepas dari Appanya, belum lagi munculnya empat gigi yang membuat Reza sering menjerit saat cucu kesayangannya itu menggigit tangan, bahu bahkan hidungnya yang mancung secara tiba-tiba.
"Dede Appa Kurung ya kalo gigit lagi" ancam Reza mengusap perutnya yang terdapat bekas gigi Samudera.
"Makanya Pah, punya perut tuh kotak kotak bukannya bulet kaya pa ntat wajan mama" kekeh Air sambil memangku anaknya yang sekarang menjadi biang rusuh seisi apartemen.
"Enak aja, ini masih sixpack!" protes pria bercucu hampir dua itu.
Malam ini tiga pria tampan Rahardian memang sedang berkumpul di ruang tengah menunggu Melisa dan Hujan menyiapkan makan malam, Samudera yang baru bangun tidur satu jam lalu tentu sedang aktif aktifnya bermain dan mulai sedikit demi sedikit merangkak.
"Jangan, nanti pecah!" Air yang kewalahan akhirnya menggendong Samudera, dibawanya bayi montok itu menuju dapur dimana sang istri dan mamanya sedang menyusun hidangan untuk mereka nikmatin sebentar lagi.
"Ke MiMoy yuk"
Appaaaaaaaa...
Ya, itulah kata pertama yang keluar dari mulut sang putra Mahkota Rahardian. Semua tertawa mendengar suara Samudera yang memanggil Reza begitu lantang sambil menggeleng kan kepalanya.
"Sini, cepet sini" goda Reza dari sofa ruang tengah sambil melambaikan tangannya
"Appa.. ih... !!" serunya lagi mulai merengek.
Hujan yang sudah selesai menata meja makan mulai membuatkan susu untuk Samudera, di raihnya sang buah hati dalam pelukan Air untuk di susui.
__ADS_1
"Habisin ya, anak pinter"
Senyum tak lepas dari wajah cantik Hujan, ia pandangi wajah lucu Samudera yang sebentar lagi akan memiliki adik, masih ada rasa tak tega jika ia mengingat hal itu tapi tak bisa ia pungkiri jika saat ini pun ia mulai menyayangi calon bayi yang kini berada dalam rahimnya karna bagaimana pun tak ada niiatan dalam hatinya untuk membuang apa yang sudah di titipkan padanya.
"Appa.... "
"Iya, habisin dulu susunya nanti ke Appa lagi" jawab Hujan yang mengerti kemauan Samudera yang memang tak bisa lepas dari papa mertuanya.
"Dede anak Appa atau anak Papay?" tanya Air sambil menciumi pipi bulat Samudera.
"Appa... Appa.. " jawab Baby Bear sembari tertawa geli.
"PapAy.. MiMoy" timpal Air lagi.
Air dan Hujan semakin gemas saat Samudera menggelengkan kepalanya.
"Tapi Papa yang banyak berkorban loh" jawab Reza yang datang keruang makan karna tak kuat menahan gemas saat cucunya terus menjerit memanggilnya.
"Sudah.. sudah. Ayo makan dulu." ucap Melisa.
"Serbuuuuuuuuuu" Balas Air dan Reza berbarengan yang di ikuti dengan jeritan Samudera juga.
"Kalian makan duluan, biar Papa yang jaga si buntut Gajah"
"Makan bareng bareng, Pah, Samudera udah kenyang minum susu jadi gak akan rewel" sahut Hujan.
"Ya sudah, biar Papa yang pangku. Kamu harus makan yang banyak ya"
__ADS_1
Hujan hanya mengangguk, ia begitu sangat bahagia saat kedua mertuanya begitu perhatian padanya.
Semuanya menikmati makan malam dengan di selingi obrolan ringan juga gelak tawa sampai tak sadar sesuatu telah terjadi..
.
.
.
.
.
.
.
.
Ya ampun! Makanan Appa....
Pengen gue makan juga tuh tangannya baby bear si buntut Gajah π€£π€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikan
__ADS_1