
πππππππππ
"Ya, udah. MiMoy nya kita tinggal pulang yuk" ajak Air.
Ia menang datang selepas subuh tadi karna tak sanggup menahan rindu pada Samudera, terlebih tak ada siapa pun di apartemen membuat rasa sepinya berkali-kali lipat.
"Bun, kakak ajak main Sam ke taman dulu ya" pamitnya pada Bunda yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Main kemana?" tanya wanita berkacamata itu.
"Ke taman sebentar, olah raga pagi"
"Sama Hujan?" tanyanya lagi yang di jawab gelengan kepala oleh sang menantu.
"Hujan belum bangun, kayanya baru tidur"
"Iya, Sam rewel semalem. Hujan sama Bunda gantian buat temenin main"
Air hanya mengulum senyum lalu pergi keluar rumah dengan motor besarnya, ia dudukkan Samudera di depan membuat bocah menggemaskan yang belum mandi itu pun bersorak dan bertepuk tangan.
.
.
.
Eeugh...
Hujan bergeliat namun belum membuka matanya, tubuhnya bagai di cincang karna terasa begitu sakit dan ngilu.
"De... Dede!"
"Kamu di mana? Sam!!" pekiknya panik saat sadar putranya tak ada di kamar.
Hujan yang terlonjak kaget langsung turun dari tempat tidurnya, membuka pintu dengan begitu kasar menuju dapur.
"Bun.. bundaaaa"
"Bundaaaaa, dimana?"
__ADS_1
wanita cantik yang baru bangun tidur itu pun semakin takut saat Anna tak menyahut panggilannya.
"Bunda!!!"
"Bunda di gudang, Jan" teriak wanita berkacamata itu.
Hujan mengusap dadanya sendiri, tubuhnya hampir jatuh lemas jika Bunda tak juga ia temukan.
"Bun, Sam mana?" tanya Hujan langsung karna ia tak melihat anaknya dalam ruangan kecil di ujung rumahnya itu.
"Loh, kan sama suamimu, tadi pagi" jawab Bunda ikut bingung saat Hujan bertanya padanya.
"Kakak? dia kesini."
"Iya, tadi pagi sekali. Bunda kira kamu tahu" ucapnya sambil membuka sarung tangan dan celemek.
Hujan menggelengkan kepalanya, ia nampak diam sesaat untuk mengingat kejadian tadi pagi yang ia pikir itu adalah sebuah mimpi.
"Jadi yang cium aku itu beneran dia" gumam Hujan sembari memegang bagian dadanya yang tiba-tiba berdebar.
"Kakak gak bilang mau bawa Sam kemana?" tanyanya lagi.
Hujan mengangguk paham, ia langsung masuk kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian, ia raih kunci motor matic milik bunda yang selalu tergantung di dekat lemari TV.
Dengan perasaan takut dan masih sedikit panik, ia terus melajukan sepeda motornya itu dengan kecepatan sedang, kurang lebih lima belas menit akhirnya Hujan sampai di area taman komplek yang sudah lumayan ramai.
Ia mengedarkan pandangan mencari sosok dua pria tampan miliknya yang sudah kabur saat ia terlelap terbuai mimpi.
"Nah, itu dia" ucapnya geram, saat melihat anak dan suaminya, Sam tampak sedang tertawa lepas di atas pangkuan Air yang sedang mengajaknya bercanda.
Dengan langkah tergesa, wanita ber hoody abu abu itu pun bergegas menghampiri keduanya, tak perduli dengan apa yang ia pijak tujuannya hanya harus segera sampai untuk bertemu Bayi beruang dan bayi buaya kesayangannya.
"Ehem,"
Moy...
Teriak Sam, Air yang paham langsung menoleh ke belakang, tatapan dan wajahnya begitu datar tanpa ekpresi.
"Kapan dateng?" tanya Hujan basa basi, karna lebih dari lima menit tak ada yang membuka obrolan meski keduanya tengah duduk berdampingan.
__ADS_1
"Pagi" jawab Air singkat tanpa menoleh, ia malah mengeratkan dekapanya pada putranya yang begitu menggemaskan.
Hujan yang di abaikan seperti itu tentu semakin kesal, belum lagi hawa dingin yang terasa begitu menusuk ke tubuhnya.
"Kak.. "
"Hem" sahut sang suami yang masih bercanda hanya dengan anaknya.
"Kakak... kak" sentak Hujan geram.
Kali ini Air tak menjawab dan tak menoleh sama sekali membuat Hujan bangun dari duduknya.
"Terus aja cuekin aku, kakak tau gak azab suami yang suka dingin ke istri itu matinya gak di kubur!" ucapnya dengan emosi sudah sampai di ubun-ubun.
"Terus di apaian?" tanya Air polos dengan mendongakkan wajahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di angetin!!!
πππππππππππ
Biar gak basi ya Jan π€£π€£π€£π€£π€£
Kos orek sayur lebaran bae lahπ π π
__ADS_1
like komennya yuk ramaikan.