Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 98


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Usai berbicara dengan Langit tentang keadaan Cahaya akhirnya Reza pamit untuk pulang, cucu kita kesayangan itu mulai rewel dan menguap berkali-kali.


Puwang yuk


Appa, puwang


Moy dede ih..


Samudra terus saja merengek diatas pangkuan Reza, Pria yang masih saja tampan itu lalu menciumi pucuk kepala bocah menggemaskan itu berkali-kali.


"Iya, ayo pulang"


"Eh, tumben dede inget Mimoy?" goda Langit, Sam yang sudah sangat mengantuk sepertinya enggan meladeni Unclenya yang bersuara serak karna habis menangis.


"Kalo udah ngantuk baru nyari miMoy buat minta susu ya" timpal Reza sambil terkekeh.


Langit ikut tertawa, untung saja papa mertuanya itu membawa Samudra saat keduanya ingin berbicara hal yang penting, setidaknya itu sedikit mengobati hatinya yang kini sedang di rundung kesedihan.


"Papa pamit ya, percayalah kalau semua akan baik baik saja. Tak ada yang tak mungkin, tugas kalian hanya sabar melewati semuanya, . Papa titip Adek ya jaga ia selalu" pesan Reza sebelum ia pergi.


"Iya, Pah. Doakan kami"


Reza berjalan pelan menuju parkiran, ia membuka pintu mobil mewahnya bagian kiri untuk menidurkan Sam yang terlelap dalam gendongannya.


.


.


.


Sampai di apartemen, Sam langsung dibawa ke kamar orangtuanya yang tak ada siapapun disana, Appa dan Ammanya langsung membagi tugas, Reza menjaga Samudera sedangkan Melisa membuatkan susu di botol besar.


"Udah dari tadi ke rumah sakitnya?" tanya Reza pada sang istri.


"Sejam lalu kayanya, itu juga aku sama Hujan maksa banget"

__ADS_1


Reza hanya tersenyum kecil, pandangannya beralih kearah Samudera yang berbaring santai sambil menyedot susu dalam botol yang kini tinggal setengahnya.



"Lalu bagaimana dengan Adek?" tanya Melisa, dua anaknya kini sedang dalam keadaan yang tak baik baik saja. Ia sebagai seorang Ibu tentu merasakan rasa khawatir luar biasa.


"Kita tunggu kabar baiknya, Ra" jawab Reza yang belum bisa memberi jawaban atau harapan lebih pada Khumairahnya.


**


Usai pemeriksaan intensif, Air hanya di wajibkan untuk istirahat total dirumah sakit, ia diminta untuk menginap satu malam sampai hasil tesnya keluar.


Rasa panik masih jelas terlihat di raut wajah Hujan yang menatap sendu suaminya yang baru saja terlelap efek obat yang diberikan dokter tiga puluh menit lalu.


Pikirannya kini bercabang dua, antara Suami yang sakit dan anak yang berada dirumah.


Hujan yang sudah mengabari kedua mertuanya hanya mendapat pesan untuk ikut istirahat jangan sampai ikut sakit seperti Air karna terlalu lelah, hatinya mencelos saat melihat putranya bertepuk tangan senang saat keduanya terhubung lewat video call.


"Dede jangan nakal ya, gak boleh bobo malem malem, Ok" pesan Hujan untuk Samudera.


Keh...


"PapAy bobo, papAy lagi sakit" jawab Hujan, ada air mata yang sudah menggenang di kedua matanya yang sudah merah.


Dede bobo, Jajah ya


"Iya, dede bobo sama Gajah dulu, Moy temenin papAy disini ya. Dede gak boleh rewel dan nangis, Ok" tambah Hujan. Anak pintarnya itu sungguh sangat bisa ia andalkan di saat genting seperti ini.


Ok..


Eh... jajah dede, na?


"Boneka gajah atau gajah beneran nih?" kekeh Melisa, yang memang suaminya itu sedang tak ada bersama mereka.


Jajah dede, Amma.


Puas berbincang, akhirnya Hujan menutup teleponnya karna ada suster juga masuk kedalam kamar rawat suaminya, sedangkan di apartemen Samudera langsung berjingkrak saat melihat Reza keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Noh.. jajah dede


Huleeeeee


Temu ya..


"Apa sih?" kekeh Reza sambil jalan mendekat kearah cucu dan istrinya di atas ranjang.


"Dede abis teleponan sama Moy?"


Iyaah


"papAy sakit apa kata Moy?" tanya Reza lagi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Didit umak..


__ADS_1


Mau dong jadi nyumaknya biar bisa gigit papAy 🀣🀣🀣🀣🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan..


__ADS_2