
πππππππ
Braaaakkkk
Air yang memaksa masuk kedalam kamar rawat inap Hujan hanya bisa mematung di ambang pintu.
Tangisnya yang memang tak berhenti sejak dari kampus justru semakin histeris saat melihat sang istri terkulai lemah tak berdaya.
"Kakak..."
Reza dan Melisa langsung tersentak kaget saat melihat putra sulung mereka datang dengan tiba-tiba.
"Enggak.. ini bukan Hujan kan, Mah?"
"Istriku baik-baik aja kan, Pah?"
"kalian lagi bercandain kakak, kan?"
Air yang masih berdiri di tempatnya mengelak semua yang ia lihat, ia terus menggelengkan kepalanya dengan sorot mata begitu sendu.
"Kak.. sabar ya sayang" Melisa bangkit dari duduknya menghampiri si sulung.
Air menepis tangan Melisa yang ingin mengusap lengannya.
"Kak.. "
Reza ikut menghampiri setelah menarik tangan sang istri agar menjauh.
"Kak.. kakak samperin dulu Hujannya ya" ajak Reza pada si sulung, ia paham jika kini putranya kini pasti sedang shock.
"Itu bukan Hujan, Pah" elaknya lagi.
"Yuk, sini" Reza pelan pelan meraih tangan Air, anak sulungnya itu tak bisa di perlakukan kasar.
Jika sudah begini tentu menghadapinya harus dengan lembut bukan dengan teriakan atau amarah.
"Enggak, kakak mau ke Hujan. Itu bukan Hujan. Hujannya kakak gak gitu, Pah" rengek nya terus meronta.
Reza langsung memeluk anak kesayangannya, Ia biarkan tangis Air kembali pecah dalam dekapannya asal semua yang di takutkan tak terjadi.
__ADS_1
"Ada papa sama mama, Kakak gak sendiri. Deketin Hujannnya dulu ya, Ayo minta maaf sama Hujan" titah pria tampan itu sambil berbisik.
Air mengangguk lalu mengurai pelukannya, ia tatap lagi isterinya yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang pasien.
.
.
Selangkah demi selangkah Air semakin mendekat, Tubuhnya bergetar bahkan kakinya bagai tak sanggup lagi berdiri.
"Jan.. " lilirihnya hampir tak terdengar.
Setelah yakin jika yang ia lihat benar-benar Hujan, barulah Air mau menyentuhnya meski ragu.
"Kakak nunggu kamu, kenapa tidur disini? yuk pulang" ucapnya sambil terus terisak.
Reza mendudukkan Air di kursi sisi brankar, Ia ingin anaknya kuat menghadapi ujian pertama dalam dua tahun pernikahannya itu.
"Kakak gak bisa jagain kamu ya, kakak jahat udah biarin kamu kaya gini, Maaf... maafin kakak" Air menundukkan wajahnya di atas tangan Hujan yang terdapat selang infus.
Wajah pucat dengan sedikit kemerahan di pipi serta adanya bekas lakban tak sedikit pun mengurangi cantik alaminya.
"Siapa yang udah lakuin ini, Pah? "tanya Air tanpa menoleh.
Air menyentuh rambut Hujan yang tak lagi berbentuk, bekas guntingan yang di lakukan secara asal dan acak membuat rambut yang biasanya tergerai panjang itu kini menjadi tak beraturan. Belum lagi alisnya yang dulu terukir indah, ternyata ikut menjadi sasaran Kebiadaban mereka, Melan mencukurnya hingga tak menyisakan sehelai bulu pun disana.
Tangan Air sekarang turun ke area leher, tak ada luka apapun disana. Tapi ia langsung mengernyitkan dahinya saat matanya tertuju ke bagian atas dada.
"Apa-apaan ini?" geramnya saat menyibak kan sedikit kain penutup bagian dada istrinya.
Matanya membelalak sempurna ketika ia dengan jelas melihat begitu banyaknya luka sayatan di daerah area favoritnya selama ia menyandang status sebagai seorang suami.
Air tak bisa membayangkan betapa perihnya sang istri saat di perlakukan sekejam itu oleh orang-orang yang jelas tak mempunyai hati.
"Mah, sampai kaya gini"
Reza yang tadi menjauh saat Air menyibak kan selimut kini di gantikan oleh Melisa yang mendekat.
"Mereka menyayat bagian dada Hujan dengan cutter, beruntung tak sampai infeksi, kak" jelas Melisa yang kembali menitikan air mata.
__ADS_1
"Apa lagi yang mereka lakukan pada Hujan?" tanya Air semakin geram bahkan ia sudah mengepalkan tangannya.
"Mereka menyemprotkan cairan bubuk cabai di **** ********** Hujan, itu yang kini jadi prioritas utama penyembuhan oleh team dokter"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kak.. kakak mau kemana?
π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Ikuuuuuuuuut.., πββοΈπββοΈπββοΈπββοΈπββοΈπββοΈ
Tungguin kak, mak othor cari sendal jangkung dulu π€£
__ADS_1
tadi buat Jaga-jaga soalnya takut di demo πππ
like komenn'y yuk ramaikan.