
ππππππππ
"Ciut karna malu di liatin dede nih" jawab Reza sambil mencubit gemas cucu kesayangannya.
Samudera yang terkekeh akhirnya malah tertawa dan itu tentu membuat si pria baya mengikutinya juga. Sebegitu sayangnya Reza pada Sam sampai menganggap anak itu tak pernah melakukan kesalahan apapun di matanya.
"Kalo dede cubit cubit makin tecil gak?"
"Ish jangan dong, ntar merah merah dikira dicium nyumak" sahut Reza sambil menyabuni tubuh polos Sam yang sama dengannya.
"Nyamuk, Appa! kalau nyumak itu punya papAy" jelasnya dengan nada protes.
Reza mencubit lagi hidung putra si sulung saking gemasnya. Keduanya mandi bersama sampai hampir enam puluh menit lamanya jika Melisa tak menggedor pintu kamar mandi, wanita itu tentu tak ingin sampai Sam kedinginan hingga flu atau demam.
Cek lek..
Sam langsung berlari dengan hanya memakai handuk bergambar beruang miliknya. Tubuh menggigil itu di peluk erat oleh Melisa yang duduk di tepi ranjang.
"Moy, udah sini?" tanya Sam.
"Udah, tapi dede lagi mandi. Moy sudah buatkan sarapan untuk dede" jawab Melisa yang hanya di jawab anggukan kepala.
Tangan yang begitu lembut itu kini dengan cekatan mengurus sang cucu sampai rapih dan wangi juga tentunya semakin tampan di lihat.
Reza yang sama dengannya pun kini menggandeng Sam menuju ruang makan di lantai bawah rumah utama.
Ketiganya sarapan sudah lebih dari jam biasanya, tak seperti Hujan yang sudah menikmati makan pagi bersama sang suami sebelum berangkat ke kantor.
__ADS_1
"Besok sekolah ya, Nak" ucap Hujan saat menyodorkan air putih pada sang putra.
"Iya, Moy. Tapi sekalang mahu jalan jalan cali tobeli dulu, Ok"
"Iya, Dede jangan nakal karna miMoy mau kerumah sakit ya"
Samudera hanya mengangguk lalu mencium kedua pipi wanita yang empat tahun lalu melahirkannya.
.
.
.
Setelah kenyang mengisi perut, kini saatnya Samudera ErRainerly Rahardian Wijaya di tuntun menuju garasi mobil dimana tempat beberapa kendaraan mewah milik keluarga berjejer rapih.
"Appa mahu bawa sendili?"
"Enggak, kita pakai supir ya"
Sam menujuk mobil mewah milik papAynya yang biasa di gunakan saat berlibur karna cukup besar dan luas, ketiganya duduk di belakang setelah Reza meminta salah satu supir menyiapkan mobil.
Perjalan ke taman strawberry cukup menempuh waktu yang lama karna lebih dari dua jam akhirnya sampai juga.
"Hati-hati, Ra" ucap Reza saat Khumairahnya turun dari kereta besi yang baru saja berhenti.
Pasangan baya itu menuntun tangan mungil Sam di kiri dan kanan, membiarkan bocah tampan itu bermain, memilih dan memakan buah strawberry sesukanya.
__ADS_1
Puas dengan segala hal yang di lakukan membuat waktu tak terasa sudah menunjukkan pukul empat sore, Air dan Hujan pun sudah meminta Samudera untuk pulang sebelum makan malam nanti.
"Ayo, De' kita pulang" ajak Melisa yang sudah entah keberapa kalinya ia merayu sang cucu.
"Nda mahu, dede mahu sini aja" tolak nya seperti yang sudah sudah.
"Nanti kita balik lagi ya, Sayang"
Sam lagi lagi menggelengkan kepala, ia tetap tak ingin beranjak dari posisinya merajuk. Sebuah pojokan dinding tempat tadi Melisa membayar semua buah strawberry yang di petik cucunya.
.
.
.
Ya udah kalau gak mau pulang biar di temenin sama kecoa disitu..
ππππππ
Cikal bakal si bumbum doyan pundung π€£π€£
Hari ini up GalaAsmara ya..
yang belum mampir yuk di tunggu
__ADS_1