Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 29


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Kamu itu manis, jadi gak boleh dingin gitu, Aku takut ketuker antara kamu sama puding buah" goda Air pada Hujan yang merengut kesal.


"Aku ketemu mantanmu!" ucapnya ketus tanpa menatap sang suami yang nampak tenang tak terkejut sama sekali.


"Lalu kamu marah padaku, cemburu karna dia datang?" tanya Air yang kembali menggenggam tangan Hujan.


"Aku hanya berfikir, untung aku yang bertemu dengannya, bukan kamu"


Air meraih bahu sang istri, ia letakkan kepala Hujan di dadanya yang bidang karna ia tahu disanalag tempat paling nyaman yang Hujan rasakan.


"Mau aku yang bertemu pun, kamu pikir aku akan perduli? cukup saling menyapa dan kupastikan tak akan lebih dari itu, Jan Hujan deres" jawab Air, ia ciumi kening bidadari hatinya itu berkali-kali.


"Benarkah? aku tak percaya"


"Haha, saat masa depan yang begitu indah sudah ada dalam genggamanku kamu pikir aku akan perduli dengan masa lalu yang bagai butiran debu? aku tak sejahat itu, sayang"


Hujan mendongakan wajahnya dan kesempatan itu tentu tak di sia-siakan oleh Air yang teramat merindukan Hujan, Ia langsung mencium bibirnya tanpa ampun seakan lupa dengan banyak hal yang terjadi barusan. Kepergiannya ke luar kota yang cukup mendadak karna adanya masalah perusahaan membuat Air tak memiliki banyak waktu untuk sering menelepon anak istrinya hari ini.


********


"Loh, kakak gak kantor?" tanya Melisa saat putra pertamanya itu turun dari tangga.


"Kakak berangkat agak siang, papa mana?" tanyanya saat di rasa dapur hanya ada mamanya saja.

__ADS_1


"Di ruang kerja, tadi dapat telepon dari Abang terus langsung naik lagi" jawab Melisa yang hanya di balas anggukan paham olehnya.


"Memang belum selesai masalahnya, kalian sampe sibuk semua begitu" sambung Melisa lagi, wanita itu tampak terlihat sangat khawatir karna seingatnya hal seperti sungguh sangat jarang terjadi pada Rahadian Grup.


"Lumayan cukup serius, Mah. Saking seriusnya wajah Bumi sampe udah kaya malaikat Izrail" kekehnya saat bercerita bagaimana pusingnya adiknya itu.


"Abang juga turun tangan langsung, 'kan?"


"Iya, Mah. Aku kemarin sampe mau pingsan pas rapat karna nahan laper. Rasanya mau nangis guling guling, mana Abang lama banget marah-marahnya kalau aku gak injek kakinya mungkin kita gak pulang" adunya pada sang mama.


Melisa hanya tertawa kecil. Ia tahu jika Air memang masih sering bercanda, berbeda dengan dua putranya yang lain yang akan menjadi sosok dingin dan tegas jika sedang berada didepan rekan bisnis atau para karyawan yang lain.


Obrolan keduanya berhenti saat Hujan datang bersama Samudera, Baby bear yang baru saja bangun tidur itu terlihat mengedarkan pandangannya ke seisi dapur.


Appaaaa....


"Makanya, jangan siang siang bangunnya jadi di tinggal Appa, Appanya udah pergi jalan-jalan dede di tinggalin, 'kan sukirin, hahahahaha" Air terus saja meledek sampai ia harus merasakan cubitan panas dari mamanya.


"Nanti nangis, kak." oceh Melisa


"Tau nih, bisanya bikin sama nangisin doang, nyebelin banget" timpal Hujan yang ikut kesal, ia raih kembali putranya yang sudah memasang wajah sedih, ia yang kini sudah berusia tujuh bulan tentu paham apa yang di ucapkan papAy nya barusan.


"Ugh... kecian di tinggal Appa, bangun bobo Appanya gak ada" ejeknya lagi sambil tertawa, apalagi saat melihat Samudera sudah memerah wajahnya dengan mata berkaca-kaca.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


Huaaaaaa.... Appaaaaaa!!!



Ya Allah meuni sedih di ledekin Buaya.. ntar gua cium si kakak tenang aja de' 🀭🀭🀭🀭


Baby bear Kangen gajah ya.. sama!!


belom dapet cium aku geh 😩😩😩

__ADS_1


like komennya yuk ramaikan


__ADS_2