
πππππππ
Pagi ini terasa lain dari biasanya karna hanya ada Air dan Hujan di apartemen bahkan Samudera di ungsikan secara mendadak tengah malam tadi karna rewel semenjak Reza melakukan Video call, niat hatin melepas rindu namun siapa sangka malah membuat bayi montok itu menjadi uring-uringan sampai harus menyusul Reza ke rumah utama.
"Kamu ikut aja yuk ke kantor, aku gak bisa tinggalin kamu sendiri begini, Jan" pinta Air saat Hujan menyiapkan sarapan yang sudah terhidang rapih di meja makan oleh asisten rumah tangga.
"Aku ngapain disana?" tanyanya menatap Air kebingungan.
"Ya seegaknya gak sendirian disini, Mama sama Papa juga udah berangkat"
Hujan hanya menggangguk, jika saja ia tak sedang hamil tentu ia pun akan memilih untuk ikut kedua mertuanya itu ke luar negeri menemani si Bungsu.
"Mau gak? hari ini aku gak terlalu sibuk, meeting di luar pun bisa aku cancel buat besok atau Daniel bisa pergi sendiri tanpa aku" tanya Air lagi ingin lebih memastikan jawaban sang istri.
"Ya udah deh, habis sarapan aku siap siap"
Air mengusap kepala Hujan dengan lembut, tak lupa juga dengan senyum hangat yang hanya ia berikan pada ibu dari anak-anaknya itu.
Tak ada yang lebih ia khawatir kan selain Hujan, tak ada yang Lebih menenangkan hatinya selain tutur halus Hujan. Meski orang lain menganggap Senja itu indah tapi baginya Hujan tetep yang paling berarti karna ia adalah pasangan bagi Air.
*******
Hujan yang akhirnya ikut ke kantor hanya berguling malas di tempat tidur dalam kamar yang memang di sediakan di ruangan kerja sang direktur. Air memang tak ada jadwal keluar kantor hari ini, tapi tetap saja pekerjaannya yang menumpuk di atas meja membuat Hujan memilih menghindar dari pada Suaminya tak fokus karna selalu melirik kearahnya terus.
__ADS_1
Cek lek..
Jam hampir menunjukkan pukul dua belas siang, Air masuk kedalam kamarnya dan ikut meringsek keatas ranjang berukuran besar itu.
"Mau makan gak?" tanyanya pada Hujan yang hanya di jawab anggukan kepala karna ia tak bisa menjawab saat bibirnya mendapat serangan dadakan.
Tanpa basa basi kini tangan pria itu sudah menjamah keseluruh tubuh wanita yang harumnya selalu menjadi candu baginya, puncak gunung milik sang istri pun tak luput dari incarannya juga.
"Kenapa?" tanya Hujan saat Air mencium keningnya begitu lembut.
"Gak apa-apa,"
Keduanya saling menatap, namun tatapan mereka sangat berbeda. Air penuh dengan cinta sedangkan Hujan penuh dengan tanda tanya.
"Gak jadi main mainnya?" akhirnya Hujan bertanya meski sangat malu.
"Enggak, takut kamu sakit"
Hujan tak menjawab, ia justru berhambur memeluk suaminya, "Aku tuh takut kalo kamu suka tiba-tiba gak jadi, aku takut kalau aku udah gak bergairah lagi buat kamu. Aku takut, Kak"
"Hey, pikiran kamu kok extrem banget sih sekarang, mana mungkin aku punya pikiran begitu sekarang." ucap Air meyakinkan istrinya.
"Aku kadang rindu saat saat dulu kita pertama bertemu, aku kangen berantem sama kamu, Jan" tambahnya lagi yang tanpa Air sangka justru membuat Hujah langsung menangis sesegukan.
__ADS_1
"Kok nangis?!"
"Ya kamu, masa kangen kita berantem sih!, emang aku gada manis-manisnya atau lucu-lucunya gitu, kak?" tanya Hujan di sela isak tangisnya.
.
.
.
.
.
Ya ampun.. kamu lucu kok, tapi lucunya kamu gak bikin aku ketawa tapi bikin aku makin cinta!!!
πππππππππππ
Awet ngora euy..
gembel aja terus ampe lidah lo keribo kak π€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikan
__ADS_1