Air Hujan

Air Hujan
bab 26


__ADS_3

πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


DEG


Perasaan aneh menjalar lagi dalam tubuh mereka, rasa yang tak bisa di ungkapkan namun malah justru membuat semakin penasaran.


"Jan, Jan Hujan" panggil Air.


"Hem, Iya Ay" sahutnya lirih.


"Kok gini, sih?" tanyanya yang mulai kebingungan.


"Terusin!, itu belom semua kan?" kata Hujan yang sedang menahan perih


"Belom, baru dikit doang"


Air terus mencoba meski sangat sulit, keringat sudah membanjiri tubuh Keduanya tapi ia belum juga berhasil menenggelamkan miliknya.


"Ya ampun! susah amat sih. Padahal biasanya apapun bisa gue tabrak" ocehnya kesal.


"Pelan-pelan, Ay. sakit" lirih Hujan yang sudah menitikan air mata.


"Dikit lagi, tahan!" pinta Air yang merasa sudah hampir berhasil.


"Sakit, Ay..." pekik Hujan sambil mencengkram bahu suaminya dengan kuat.


"Gue juga sakit Lo cakar!" sahutnya yang sama menahan perih.


Ia diamankan sejenak miliknya saat ia melihat istrinya terisak pelan.


"Tanggung! lanjut ya, abis ini Lo mau mukulin gue juga gak apa-apa, gue bakal diem aja deh" bisiknya memohon karna ada rasa hangat yang ia rasakan dan tentu ia tak ingin mengakhirinya begitu saja.


"Gue penggal kepala Lo abis ini , Ay" jawab Hujan sambil menangis tapi Air justru merasa sang istri sangat menggemaskan.


"Iya gak apa-apa" rayunya sambil tersenyum.


Hujan yang merasa sangat sesak di bagian sensitifnya hanya bisa menghela nafas dan mengeluarkannya dengan kasar.


Rasa sakit yang teramat sangat sedang ia rasakan.


Dirasa istrinya sudah mulai tenang, iapun melanjutkan lagi aksinya.

__ADS_1


Dengan ritme pelan ia mulai melakukan hal luar biasa yang sebelumnya tak pernah terbayangkan akan ia lakukan di umurnya yang masih sangat muda.


Entah berapa lama waktu yang di habiskan Air untuk mencapai puncaknya, dengan sesekali berciuman dan ber cum Bu akhirnya ia dan sang istri sampai pada puncaknya


"Yah, udahan, Jan!" bisik Air di ceruk leher sang istri setelah pelepasan pertamanya.


"Ya udah, awas berat!"


Pemuda yang baru saja kehilangan keperjakaannya namun mendapatkan keperawanan itu akhirnya melepas penyatuan mereka dengan pelan, Hatinya begitu lega dan terharu saat bercak merah masih tersisa di miliknya.


Hujan yang masih merasakan sakit hanya bisa berbaring tanpa bisa bergerak sedikitpun membuat Air merasa kasihan melihatnya.


Ia turun dari tempat tidur untuk mengambil selimut dan bantal yang berserak di lantai karna ulahnya tadi.


Tak lupa ia pun mengambil air putih yang langsung di sodorkan pada istrinya


"Minum dulu, capek banget kan?"


Hujan langsung meraihnya, menegak nya hingga habis setengah gelas.


Air tersenyum puas, ia mengusap kening sang istri yang banjir dengan keringat.


Di peluknya tubuh lemas Hujan dengan begitu erat sambil menciumi pucuk kepalanya berkali-kali.


PLAAAAAAAAAAKKKK..


"Kenapa sih ujungnya gak pernah enak?" oceh Hujan yang membuat Air kaget


"Gue kira Lo udah tidur" kekeh Air menahan malu.


"Sakit banget, Ay" Rengek Hujan


"Wajar lah, namanya juga baru pertama, biar ga sakit dan terbiasa harus nambah lagi'' kata Air sambil mengusap tangan istrinya yang kini berada di atas dadanya.


"Gak mau, ini masih perih banget" tolaknya langsung.


"Hahaha, ya udah tidur yuk. besok aja nambahnya"


Hujan langsung terlelap dalam pelukan sang suami, tapi tidak dengan Pemuda itu.


Ia meraih ponselnya di atas nakas, mengirim foto pada papanya yang jauh disana.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pah... kakak abis garap tanem terus siram!!!



πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Astagfirullah... si kakak pake acara laporan sama si Gajah πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„

__ADS_1


Gue yakin abis baca ini tuh belalai pasti ON terus minta nyelup πŸ˜‚πŸ˜‚


Like komennya banyak-banyak ya πŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺ


__ADS_2