
π»π»π»π»π»π»π»π»
"Bawa para pahlawan Indonesia buat jagain tidur kamu, sayang." Jawab Air sambil tersenyum dan itu menambah ketampanannya yang masih berbalut kemeja dan jas hitamnya.
"Pahlawan?, Kan aku udah punya AironMan" kekeh Hujan jika ia mengingat kekonyolan mereka saat awal-awal menikah dulu.
"Tambah lagi, buat Ratu hatiku gak cukup satu, harus banyak yang jagain" balas Air mengusap kepala istri tercinta.
Hujan hanya tersenyum simpul, Ia menarik bungkusan besar yang dibawa suaminya tadi kemudian dengan cepat membukanya. Mata ibu hamil itu membelalak sempurna saat melihat isi dari bungkusan tersebut.
"Ini cius, Ay?" tanya Hujan tak percaya setelah mengeluarkan satu persatu isinya.
"Iya, buat kamu. Dari pada tidur di tumpukan uang asli, kan bau ditambah aku juga risih nempel nempel terus di badan" ocehnya yang baru berani jujur pada Hujan.
Satu minggu ini wanita hamil itu terus merengek ingin tidur di atas uang yang berserakan di atas tempat tidur, Air benar-benar di buat gemas dengan kelakuan istrinya yang aneh dan ajaib, ia yang biasanya tak pernah perduli dengan Uang mendadak gila uang dan tak bisa jauh dari uang begitu pula dengan isi otaknya sekarang.
"Wangi loh, Kak" bela Hujan yang kini memang suka sekali dengan harum khas benda itu.
"Ya kali kamu kan lagi konslet, aku yang waras sih ngerasa bau lah" ejeknya yang langsung mendapatkan pukulan dari sang istri.
"Kakak jahat ih"
Air mengacak rambut panjang Hujan yang kini sudah sampai sepinggang yang belum sempat memotongnya karna alasan malas dan lelah jika keluar rumah berbeda jika Air mengajak jalan-jalan dan jajan wanita itu pasti langsung semangat empat lima.
"Tapi janji bantal uangnya gak boleh di cium cium ya" pesan Air.
__ADS_1
"Kenapa?, kan gak bau"
"Itu ada gambar laki-laki nya, bukan muhrim dan aku pasti nya CEMBURU" tegas Air tak ingin dibantah.
Hujan tertawa terbahak-bahak merasa suaminya lebih aneh dari dia.
"Hem, ok.. ok.. aku gak gak akan cium paling juga cuma salim, Hahaha"
"Nah iya. Harus sopan sama yang tua ya" kekeh Air menimpali.
Air yang memang memilih pulang lebih cepat dari biasanya karna khawatir sang sang istri tak bisa apa-apa dikamar langsung membersihkan diri agar tubuh dan otaknya jauh lebih segar, karna biasanya Hujan tak ingin lepas darinya jika sudah dirumah.
Usai merapihkan diri, Air turun ke lantai bawah karna rasa laparnya. Disana ada Melisa yang sedang mengecek isi kulkas yang baru Reza beli dua hari lalu.
"Kak, mama mau ngomong"
"Ada apa?" tanya Air.
"Apa gak sebaiknya kalian pindah ke kamar Abang, kasihan Hujan kalau di atas pasti lelah naik turun tangga" ujarnya memberi saran
"Hujannya mau gak kalo pindah?" tanya Air, ia yakin mamanya sudah lebih dulu bicara pada sang istri.
"Sudah, katanya terserah kamu, kamarnya juga sama. Hanya gak ada balkon luar aja"
Air mengangguk paham, dalam masalah kamar pun tak ada yang dibedakan orangtuanya antara anak kandung dan anak angkat, semua adil dan sama rata.
__ADS_1
Obrolan keduanya terhenti saat mendengar suara derap langkah seseorang masuk kedalam.
"Loh, Abang!, tumben siang-siang pulang. Ada apa?" tanya Melisa.
.
.
.
.
.
.
.
Abang disuruh papa kasih ini buat Hujan.
πππππππππππππ
Banjir duit dah orok π€£π€£π€£
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan.