
πππππππ
"Cinci mamam wutel, papAy nda cuka wutel ya?" tanya Sam pada Air saat kedua pria beda generasi itu sama sama berjongkok di depan kandang kelinci.
"Gak enak" sahut Air yang masih saja anti dengan sayuran.
"Cinci apa tupingna panjang?" tanya Sam lagi seakan pertanyaan di otaknya itu tak pernah habis.
"Udah dari sananya panjang, Dek" Air nampak bingung menjawab karna putranya itu pasti akan memberinya pertanyaan yang kesekian lagi dan lagi.
"Butan cinci boong boong taya pokiyo?"
"Pokiyo apa?" tanya Air yang tak mengerti.
Sam bangun dari jongkok nya, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah utama mencari satu satunya orang yang selalu paham apa yang ia maksud.
"Appa......... "
"Pokiyo apa oooey? papAy dede nda tahu pokiyo, Payah!" teriak Samudera lumayan kencang, Air yang tau tentu langsung protes lagi.
"Kok bilang papAy payah? dede ngomongnya yang bener dong biar papAy ngerti"
"Cinci taya pokiyo" keukehnya sambil menghentakkan satu kakinya ke lantai.
"Appaaaaaaa... pokiyo apa noh?" teriak Sam lagi karna ia juga tak bisa menyebutkan apa yang ia maksud.
__ADS_1
"PINOKIO....." sahut Reza tak kalah berteriak dari arah kolam ikan.
"Ya ampun thor! Jauh amat Pokiyo sama Pinokio?"
#SukaSukaGueLah!
******
Hujan yang sudah rapih pagi ini mulai sibuk memasukan begitu banyak keperluannya kedalam tas tanpa sadar jika ia sedang di perhatikan oleh sang suami.
"Bakal pulang sore lagi?" tanya Air.
"Iya, kak. Kenapa?" Hujan balik bertanya tapi tak menoleh sama sekali.
"Sibuk banget ya, aku aja sampe kalah"
"Kak.. jangan berbekas"
"Kenapa? Kamu wanita bersuami jadi gak perlu malu saat aku tinggalkan banyak jejak di tubuhmu" ucapnya pelan namun penekanan.
"Bersuami tapi gak harus memamerkan hasil karyanya juga" sahut Hujan yang rasanya tak sadar jika sorot mata suaminya kini berubah tak lagi teduh seperti biasa.
Mendengar perkataan Hujan, Air malah menyeret lengan sang istri keatas ranjang, Hujan yang kaget dengan sikap Air yang mendadak sedikit kasar karna melemparnya ke tempat tidur tentu langsung panik.
"Kak... udah siang" kata Hujan saat melihat Air malah membuka kembali jas dan kemejanya.
__ADS_1
"Perduli apa dengan siang!" cetus nya semakin dekat karna sudah ikut merangkak naik.
Dengan cepat pria yang sudah bertelanjang dada itu pun menarik kemeja yang di pakai Hujan dengan kasar hingga beberapa kancingnya terlepas.
"Kak.. kenapa?" tanya Hujan dengan tubuh bergetar, jika sudah begini biasanya Air sedang merasa cemburu berat padanya.
Hujan yang sudah polos bagian atas tubuhnya itu pun langsung dinikmati tanpa ampun, Rambut panjangnya bahkan sudah di singkap hingga Air bebas menyesap leher putih milik sang istri yang selalu membuatnya candu.
Puas dan sudah meninggalkan begitu banyak jejak merah kini ia turun kearea favoritnya, dua gundukan daging kenyal berhasil ia, lahap penuh naf Su bukan lagi di mainkan seperti biasa karna Air malah menggigir kecil hingga Hujan meringis kesakitan.
"Kak... pelan pelan" lirih Hujan.
Air tak lagi perduli, rasa kesalnya malah ia lampiaskan dengan cara bercumbu kasar, satu bagian di HI sap kuat-kuat dan satunya lagi di re MAS tanpa ampun.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Masih berani makan siang sama si dokter sialan itu?