
πππππ
Tiga hari pasca kecelakaan keadaan Air semakin membaik, ia sudah bisa bangun dan duduk bersandar meski harus pelan-pelan karna rasa ngilu dan sakit di bagian pundak juga kaki masih ia rasakan.
Kehadiran sang istri selama dua puluh empat jam di sisinya semakin membuat ia kuat menahan sakit.
Meski kadang pemuda itu masih rewel bagai Bayi yang hendak tumbuh gigi.
Contohnya pagi ini saat Melisa datang membawakan sarapan kerumah sakit, Hujan lagi lagi harus sabar menyuapi bayi buaya cengengnya itu.
"Kasih kuah aja sedikit, gak pake sayur" rayu gadis itu sambil menyisihkan Wortel dan jagung dari piring.
"Gak, Kakak gak mau!" tegas Air lagi yang masih keukeh.
"Kulit kamu nanti kering, loh"
Air tetap menggelengkan kepalanya, Sampai kapanpun sayuran akan tetap menjadi hal yang paling ia hindari oleh seumur hidupnya.
Bukan ia tak suka atau benci tapi makanan itu tak pernah bisa masuk kedalam tenggorokannya dan biasanya akan keluar lagi jika ia tetap memaksa.
"Aku gak suka sayur tetep ganteng dan pinter. Jadi gak ngaruh" ucapnya dengan melirik kearah pemuda yang sama persis dengannya itu.
"Jadi sayur yang masuk kedalam tubuh aku percuma, gitu? " tanya Bumi dengan tangan melipat di dada.
"Iyalah, jadi buat apa makan sayur" Balasnya tetap bangga dengan pilihan hidup tanpa sayur.
"Terus maunya nasi sama lauk aja gitu? " timpal Melisa yang kecewa masakannya tak di sentuh si sulung.
"Iya sama ada bonus tambahan" jawabnya dengan menaik turunkan alisnya.
"Bonus apa? " tanya Melisa dan Hujan berbarengan.
"Dua susu! " kekehnya yang langsung bersembunyi di baik bantal pisagnya.
"Dua susu? " tanya Reza yang sepertinya sedang gagal fokus. Otaknya langsung jalan-jalan kearah puncak gunung.
"Dua gelas susu, Pah" timpal Bumi si anak bawang yang harus pura-pura polos.
"Oh... "
Hujan terus mencubit lengan suaminya untuk menutupi rasa malu, entah kenapa pikirannya malah tertuju ke hal yang tak beres.
"Bisa gak jangan suka kaya gitu" cetusnya kesal.
__ADS_1
"Mendadak pengen, Jan" bisiknya pelan namun setelahnya ia mengecup pipi Hujan sekilas.
"Gak bisa! gak usah macem-macem" jawab Hujan memberi peringatan.
Air merengut kesal, kecelakaan yang menimpanya memang bersamaan dengan datangnya halangan bagi Hujan.
keduanya tak bisa berbuat apa-apa walau kadang hasrat menggebu jika malam datang.
"Nanti kalo udah sembuh banyak-banyak ya" bisik Air.
"Iya, banyak tumpah ruah luber juga terserah" jawab Hujan pelan tak ingin sampai mertua dan adik iparnya itu mendengar.
.
.
Jam tujuh malam Reza dan Melisa berpamitan untuk pulang karna esok pukul sembilan pagi Air sudah kembali ke apartemen.
Pemuda tampan itu sudah sangat tak betah di ranjang pasien meski ruangannya sudah di buat senyaman mungkin oleh pihak rumah sakit yang memang milik keluarganya.
"Mama pulang ya sayang" pamitnya pada si sulung sambil mencium kedua pipi Anaknya.
"Hati-hati dijalan ya, Mah" pesan Air setelah mengurai pelukan.
"Hati mama kamu ada di papa, Kak" timpal Reza dengan senyum menggoda.
Keduanya kini benar-benar sudah pergi menyisakan Air dan Hujan di dalam kamar, Air meminta Hujan untuk naik ke kasur karna ia sudah merasakan kantuk usai meminum obatnya selepas makan malam.
"Sini pelukan"
"Tapi gak enak banget ya pelukan doang! "
"Mau, Jan"
"Yuk.. yuk.. yuk.. "
Air terus saja berceloteh dengan tangan yang merayap kebagian atas tubuh istrinya yang berbaring dalam dekapannya.
"Udah cepetan tidur! besok kita pulang" titah Hujan yang sudah memejamkan matanya.
"Mendadak jadi melek lagi sih pas pegang pegang begini" kekehnya sendiri yang bagai mendapat angin segar akibat keisengannya.
"Itu tangan emang gada akhlaknya" timpal Hujan yang sudah malas meladeni suaminya.
__ADS_1
"Tapi suka kan!," bisik Air yang langsung mencium bibir Istrinya sekilas.
"Jan... "
"Hem!! "
"Jaaaan Hujan dereeeeeees!! "
"Apa sih! " sentak istrinya kesal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Orangnya tidur dia bangun!
orangnya bangun dia tidur apa hayo?
π₯¦π₯¦π₯¦π₯¦π₯¦π₯¦π₯¦π₯¦π₯¦π₯¦π₯¦π₯¦
Mau tidur aja tebak tebakan dulu kak...
Ribet banget dah idup lo! ππππ
Kalah buka baju gak?
__ADS_1
siap nih gue di kalah kalahin πππ
like komennya yuk ramaikan.