Air Hujan

Air Hujan
bab 148


__ADS_3

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Melisa duduk lemas di ruang tunggu saat Reza memberitahu kan kondisi Hujan saat ini, setidaknya ia tak ingin istrinya ikut shock atau pingsan saat masuk ke dalam kamar rawat inap, mengingat KHUMAIRAHnya juga memiliki riwayat hipertensi yang cukup parah.


"Kakak harus tau, Mas. Hujan pasti butuh suaminya" lirih Melisa, ia sedang memposisikan jika dirinya menjadi Hujan.


Dukungan dan doa pastu sangat di butuhkan menantunya saat ini.


"Kita tunggu kakak lebih tenang, Kita bicara pelan-pelan padanya. Kondisi Kakak pun gak memungkinkan dia tahu sekarang, Ra." ucap Reza yang serba salah.


"Aku mau lihat Hujan" pinta Melisa sambil bangun dari duduknya.


"Tapi kamu janji harus kuat, aku gak mau kamu ikut kenapa-kenapa, Ra" Reza yang ikut berdiri memohon pada istrinya agar bisa bertahan di dalam sana.


"Iya, Aku janji"


Reza memeluk KHUMAIRAHnya sesaat sebelum masuk, ia tahu jika sebenernya Melisa hanya pura-pura kuat. Bagaimanapun ia juga seorang wanita yang pasti paham rasanya menjadi Hujan, terlebih ia menyayangi gadis itu seperti putrinya sendiri, antara Hujan dan Cahaya tak ada yang ia bedakan.


Melisa masuk dengan langkah berat, ia yang di rangkul oleh suaminya berkali-kali mnghela nafas pelan, ia yang baru di ceritakan saja sudah sangat perih bagaiamana jika harus melihat langsung keadaan menantunya itu.


"Ra... " Reza sedikit panik saat tubuh sang istri melemas.


"Gak apa apa, aku kuat, Mas" jawabnya sambil menghapus air mata.


Kini pasangan suami istri itu sudah ada sisi ranjang dimana Hujan terbaring lemah belum sadarkan diri efek obat dari dokter.


Melisa menyentuh tangan sang menantu yang terdapat selang infus di punggung tangannya.

__ADS_1


Tangisnya pecah dan tak sanggup berbicara apapun.


"Maaf, maafkan kami yang tak bisa menjagamu hingga hal buruk menimpamu" lirih Melisa penuh sesal, sebagai seorang ibu ternyata ia tak bisa merangkul seluruh anaknya agar terus merasa aman dalam pengawasannya.


"Mas Reza sudah menghubungi Anna?" tanya Melisa tanpa menoleh.


"Sudah, tapi dia belum tahu apapun, Anna sedang di luar kota. Baru subuh tadi ia berangkat dan kemungkinan lusa baru kembali dan aku akan bicara saat ia sudah pulang"


Melisa tak menjawab, ia setuju dengan keputusan Suaminya yang akan bicara secara langsung tanpa menghambat pekerjaan wanita itu.


Reza terus mengusap punggung Melisa yang duduk di sisi Hujan, ia genggam tangan sang menantu dengan lembut seakan ia ingin mengalirkan kekuatan.


Melisa menyentuh pipi Hujan yang kemerahan akibat tamparan keras Vika, ia menangis karna mengingat saat si sulung selalu menciumi kedua pipi istrinya tanpa ampun.


"Kalian pasti kuat dan bisa melewati ini semua, anggap ini sebuah ujian rumah tangga" bisik Melisa yang lalu menciumi wajah Hujan, ia yang berusaha kuat tetap saja tak tega melihat semua ini.


"Aku udah siapin semua yang terbaik, dokter psikolog akan datang memeriksa Hujan saat ia sadar nanti" jawab Reza yang sudah berbicara langsung dengan dokter mengenai penyembuhan menantu pertama Rahardian itu.


"Hujan pasti trauma berat, semua yang terjadi bisa saja membekas terus dalam dirinya" lirih Melisa.


"Ya, itu yang aku takutkan, apalagi jika ini harus berimbas pada rumah tangga mereka"


Melisa mengusap wajahnya, ia tak bisa membayangkan apapun saat ini..


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


BRAAAAAAKK...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kaget 🀣🀣🀣🀣🀣🀣


Kerjaan siapa sih!


Like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2