Air Hujan

Air Hujan
bab 207


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Huaaaaaaaaaaa"


"Jan Hujan dereeeeeeeeesssss!!!"


Teriakan Air di depan pintu kamarnya membuat semua yang berada di apartemen menutup telinganya rapat rapat karna putra sulung Reza dan Melisa itu sedang uring Uringan sebab istri tercintanya belum juga membuka pintu.


Hujan yang kini sudah memasuki usia kehamilan lima bulan mendadak begitu kesal jika melihat suaminya bahkan wanita hamil itu sempat menangis sampai tersedu-sedu padahal Air tak melakukan kesalahan apapun, tapi Hujan malah melempar semua barang, bantal dan selimut kearah sang suami bahkan Hujan mengusir Air dari kamarnya dengan cara memberikan beberapa potong baju pada pria tampan yang baru bangun tidur itu.


"Jan.... buka pintu" pinta Air lagi sambil menggedor dengan cukup keras.


"Aku salah apa?, kamu kenapa sih sayang" jerit si sulung.


Tak ada sahutan dari dalam kamar, yang terdengar hanya isakan tangis tanpa alasan sang istri.


Air marah bukan karna di usir, tapi ia panik dan takut terjadi sesuatu pada Hujan yang sendirian di dalam.


"Kamu kalo mau nangis di temenin mama ya, Sayang" rayu Air di sela isak tangisnya.


Lain di atas lain juga di bawah, karna semua yang ada di ruang tengah hanya diam mendengarkan drama pasangan suami istri itu.


"Ajak kakak, Mas" Pinta Melisa pada Reza yang sebulan belakangan ini sudah jauh lebih baik kondisinya.


"Biarin, orang dia lagi rayu Hujan buat bukain pintu" tolak Reza yang malah mengeratkan pelukannya ke tubuh sang istri.


"Emang mereka kenapa lagi sih?" tanya Bumi yang duduk santai dengan tangan di lipat di dada.


"Hormon bumil, udah biasa itu" jawab Melisa pada si tengah.

__ADS_1


"Kamu dulu gak gitu, Ra. Saking cinta banget sama aku jadi mana mungkin kamu ngusir aku, iya kan.. iya dong" kekeh Reza sambil menciumi sang Khumairah.


"Tolong di kondisikan drama mesum kalian ya" cetus Bumi dengan tatapan kesal.


"Kenapa? kan kalian udah 21+! " ejek Reza pada si tengah.


"Tetep aja nih mata ternoda terus, Pah" sahut Bumi lagi yang akhirnya bangkit dari sofa untuk pindah ke karpet.


"Cie..... yang cuma bisa meluk toples!" kekeh Reza yang masih senang menggoda anak anak cebongnya.


.


.


.


Melisa yang pusing jika anak dan suaminya sudah saling meledek akhirnya memutuskan untuk naik ke lantai atas menemui putra pertamanya yang belum juga beranjak dari depan pintu kamarnya.


"Kak... "


"kakak salah apa sih, mah? kok Hujan gak mau liat kakak. Katanya kesel padahal kakak gak ngapa-ngapain" tanya si salung dengan lirih dan sedih.


"Tingkat emosi ibu hamil berubah ubah, kemarin bisa nempel banget kaya cicek eh besok bisa nangis nangis gak jelas kaya Hujan sekarang. Itu udah biasa, kak. Gak apa-apa kok" jelas Melisa menenangkan Air dalam pelukannya.


"Tapi Hujan gak akan berbuat nekat, Kan?"


"Semoga enggak, Dia masih inget anak nya jadi gak mungkin bertindak macam-macam. Biar nanti mama yang menemaninya ya" ujar Wanita beranak empat itu.


"Kakak takut, Hujan kaya yang marah banget tadi"

__ADS_1


"Iya, mama ngerti kalau kamu takut dan khawatir. Kita cukup menenangkannya, karna resikonya juga bisa berdampak pada anak kalian kelak."


"kamu yang sabar ya, Kak" Melisa terus saja mengusap kepala si sulung dengan lembut.


Reza yang akhirnya ikut naik juga keatas, berjongkok di hadapan anak istrinya. Ia menepuk pelan bahu Air yang sudah tak lagi menangis.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sabar ya kak.. pokonya harus sabar dan kuat buat PUASA lagi...



🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Laknat nya gak kira kira nih si Gajah🐘🐘🐘🐘

__ADS_1


Untung gue cinta bang 😘😘😘


Like komenny yuk ramaikan.


__ADS_2