
ππππππππ
"Ini maksudnya apa sih?".
Melisa yang di dorong Suaminya Sampai ke tepi ranjang pun mulai kebingungan, di umurnya yang tak lagi muda ia masih tak peka dengan keinganan suaminya itu yang sering meminta haknya secara mendadak, Reza yang tak pernah Perduli itu kapan dan dimana, saat ia ingin saat itulah semua harus tuntas.
Dan parahnya ia mendapatkan istri yang harus dengan secara gamblang bicara mengutarakan inginnya itu dan jika masih belum mengerti juga Reza akhirnya akan langsung bertindak tanpa bicara lagi.
"Aku mau nyelup bentar" jawabnya sambil membuka kancing baju kemejanya.
"Nyelup apa sih?"
"Nyelup hayu Ra! kaya si kakak" pintanya sambil menaik turunkan alisnya.
"Emang kakak ngapain?" tanya Melisa masih tak mengerti.
"Gini nih otak kalo isinya cuma wajan, panci, cabe bawang sama garem doang, bagian suaminya pengen tuh pasti LOLA" ketus Reza kesal.
"Siapa Lola?" Melisa semakin bingung dan merasa cemburu karna ia pikir suaminya menyebut nama wanita lain.
"Lola!! LOADINGNYA LAMA!"
Reza mendekat, lalu membisikkan sesuatu pada KHUMAIRAHnya.
"Udah sore! aku segini capenya abis masak malah minta dan celup" oceh Melisa.
"Bentar, Ra" pintanya lagi yang kini sudah bertelanjang dada.
"Bentarnya kamu tuh berapa menit, hah?" Melisa yang kesal sudah berdecak pinggang.
"Janji deh bentar"
"Ya udah kalo sebentar maen aja sendiri!"
Wanita itu keluar dari kamarnya lagi, tak perduli dengan suaminya yang berkali kali memanggil namanya, Namun langkahnya berhenti di ambang pintu saat sorot matanya kearahnya Kamar si sulung.
__ADS_1
"Senyenyak itukah mereka tidur?, papanya teriak sampe gak denger!" gumam Melisa, lalu kembali ke lantai bawah.
Ditempat favoritnya ia kembali merapihkan meja makan, Ia yang tak pernah mempunyai ART yang seharian membantu jadi semua harus ia lakukan sendiri tapi tak jarang juga anak kembarnya membantu.
"Mah" Panggil Bumi saat ia masuk kedapur.
"Apa kak" sahut Melisa, wanita itu segera menoleh
"Besok kakak mau keluar kota anter Yayang boleh?" pinta si tengah sambil menarik kursi meja makan
"Minta izin pada papamu ya ,kak" titah sang mama.
"Udah, tadi siang aku telepon papa" jawab Bumi.
"Ok"
.
.
.
Dari Senyum yang Air berikan sungguh itu membuat Hujan tak percaya saat suaminya itu merayu keyakinan.
"Lo gak percaya banget, sih!" sentak Air di ambang pintu menghalangi Hujan untuk menutupnya.
"Enggak! Lo itu modus" kata Hujan yang masih mencoba melepas tangan Suaminya dari knop pintu.
"Ya ampun! Jan Hujan dereeeeeees"
"Noh kan! apa coba itu?, hah? Tar ujung-ujungnya gue suruh tanggung jawab" ocehan Hujan membuat Air sedikit menunduk sambil terkekeh.
"Yee... emang gue yang mau!" goda Air yang akhirnya menerobos masuk.
Jika di apartemen, ia bisa melakukan apapun sesuka hatinya, kamar yang begitu luas dengan adanya kamar mandi di dalam tentu tak ada satupun yang bisa mendengarnya.
__ADS_1
"Janji gak nambah?"
"Iya Jan Hujan dereeeeeees!"
Kedua mandi bersama di bawah guyuran air shower, tak ada hal lain yang mereka lakukan selain benar benar membersihkan diri.
"Duluan ya" kata Hujan yang sudah meraih handuk dan bathrobenya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Eh tunggu! Ini gue gimana?;
πππππππππ
Hayo looooooooh ππππππ
Sabun.. Shampoo.. pilih aja disitu kak π€
__ADS_1
Balapan sama gajah noh ππ
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ