Air Hujan

Air Hujan
Bab 165


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚



Jam Lima pagi keduanya memilih pulang kerumah utama karna Hujan sama sekali tak bisa memejamkan matanya meski Air sudah semaksimal mungkin merayunya untuk tidur mengingat esok pagi adalah hari pertamanya ia bekerja.


"Nanti sampe di rumah janji harus tidur ya" pinta Air saat ia sudah menyalakan mesin mobilnya.


"Tapi temenin" jawabnya sambil terus memegangi ujung sweeter yang di kenakan sang suami.


"Iya, Kita tidur sama-sama" jawabnya seraya mengusap lembut kepala Hujan.


.


.


Perjalanan yang cukup lengang membuat Air dengan leluasa menjalankan mobilnya tanpa hambatan kecuali lampu lalu lintas, maka tak kurang dari tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di rumah utama.


Satu Asisten rumah tangga dengan sigap langsung membuka pintu.


"Selamat pagi, Tuan dan Nona"


"Pagi juga, Mbak" Sahut Air ramah seperti biasanya.


Dengan saling menggenggam tangan pasangan suami istri yang sudah tinggal di rumah utama selama dua tahun itupun berjalan menuju kamar mereka, kamar yang si sulung tempati sedari kecil sebelum pindah ke apartemen.


"Mau ganti baju dulu?" tawar Air saat mendudukkan istrinya di tepi tempat tidur.


Hujan hanya mengangguk pasrah karna matanya langsung merasakan kantuk.


Air mengambilkan baju untuk Hujan di lemari lalu menggantinya seperti biasa yang selalu Air lakukan.


"Ininya mau di buka juga gak?" tanya Air saat ia sudah melepaskan baju atasan Hujan.


Gadis cantik itu lagi lagi hanya mengangguk pasrah, Sedang Air justru membuang nafas kasar.

__ADS_1


Dengan malas ia membuka pengait satu satunya bahan halus yang menutupi dua bukit kembar milik istrinya.


Tak ada yang berubah pada daging kenyal yang dulu menjadi area Favoritnya karna semuanya kembali mulus dan putih seperti pertama kali Air menyentuhnya empat tahun lalu.


Ia yang selama ini dengan sangat sabar dan telaten selalu memberi obat dan mengoleskan cream agar bagian tubuh kebanggaan para wanita itu bisa segera sembuh tanpa meninggalkan bekas sama sekali dan itu salah satu cara agar Hujan tak lagi mengingat trauma nya saat luka sayatan tak lagi terlihat di dadanya.


Usai menggangganti baju keduanya naik keatas ranjang, tidur sambil memeluk bersiap mengarungi mimpi di pagi hari.


Air yang memang sudah lebih dulu memasang Alarm langsung bergeliat kecil di balik selimut.


Ia ciumi seluruh wajah cantik yang sedang terlelap itu dengan sangat lembut.


Ia sungguh tak tega membangunkannya tapi ia tak bisa juga untuk tidak ke kantornya hari ini. Air yang dilema kembali memeluk sang istri dengan sangat erat.


"Aku harus apa?" gumamnya serba salah.


Air mengurai pelukannya dengan pelan takut membangunkan Hujan yang baru terlelap dua jam.


Ia turun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Jan.. Jan Hujan deres!" panggilnya lagi.


Belum ada jawaban sama sekali membuat Air mengehela nafasnya dalam-dalam.


Ia merapihkan selimut yang sedikit tersingkap sampai terlihat paha putih mulus sang istri tepat di depan matanya.


"Cobaan paling berat banget, liat tiap hari tapi gak bisa ngapa ngapain, sedih banget!" bathin Air menahan kesal karna jiwa kelelakiannya mulai bergejolak saat ia sudah rapih dengan stelan jasnya.


"Jan, bangun dulu"


Air mengguncang pelan bahunya sampai akhirnya gadis itu sedikit membuka matanya.


"Kakak mau kemana?" tanyanya polos dengan suara serak khas bangun tidur.


"Mau kerja, mau disini sama mama juga omma apa mau ikut ke kantor?" kata Air memberi pilihan.

__ADS_1


"Aku dirumah aja, tapi nanti nyusul, boleh?" ucapnya malu dan takut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Boleh.. buat kamu apa sih yang gak!!!


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Jadi gantian ya, si Jan Hujan deres yang nemplok mulu kaya cicek🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣


like komennya yuk ramaikan 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2