Air Hujan

Air Hujan
Baby Bear 13


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Oooeeeekkkk...


Hujan yang bangun dari tempat tidur lagi lagi berlari menuju kamar mandi dan itu tentu membuat Air akhirnya memutuskan menyusul Hujan setelah meletakan Samudera di dalam Box.


"Kita periksa, aku gak mau tau!" Air keluar lagi dari kamar mandi meninggal kan Hujan yang tertegun panik, ada perasaan lain yang menjalar di hatinya kini yang entah itu apa.


Samudera yang kembali di titipkan pada kakek neneknya pun langsung menempel saat Reza mengambil alih dari pelukan Air.


"Ini tuh emang titisan Gajah, biar cebong bikin lagi aja sana, Ok" ucapnya yang di balas senyuman oleh Baby Bear.


Setelah di paksa dan di rayu akhirnya Hujan mau di periksa kerumah sakit dengan syarat Air tak akan mengeluh apapun dengan penyakit yang mungkin sedang dideritanya. Sebagai istri pengusaha muda dan tampan tentu ia takut jika Air akan meninggalkannya dan Samudera bukan lah jaminan jika suaminya itu akan bertahan bersamanya.


"Aku Terima kamu apa adanya, apa kamu masih butuh bukti?" cetus Air yang kesal karna Hujan banyak alasan.


"Aku cuma takut, takut kamu ninggalin aku" jawab Hujan.


Air hanya tertawa kecil, Ia menyandarkan tubuhnya di jok mobil dengan kedua mata terpejam, otaknya sedang berputar ke masa tiga tahun silam dimana ia harus berjuang mengurus Hujan dengan sabar.


"Kenapa aku harus ninggalin kamu yang sehat dan cantik?bahkan saat dulu kamu rusak pun aku selalu ada." tegas Air meyakinkan istrinya jika hal tersebut tak akan pernah terjadi.


"Maaf, aku hanya takut"


"Takutmu tak beralasan buat aku yang udah janji akan setia sama kamu, Kamu segalanya buat aku sedari dulu hari ini sampai kapanpun" jawab Air lagi yang kemudian menyalakan mesin mobilnya.


Tak ada obrolan apapun selama perjalanan menuju rumah sakit, pasangan suami istri itu tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


"Yuk turun" ajak Air saat kendaraan mewah miliknya sudah terparkir di lobby rumah sakit milih Hujan.


"Kamu udah buat janji?"


"Udah." Jawabnya lagi sambil membuka seatbelt.


Keduanya turun dari mobil dan langsung masuk lewat jalur khusus keluarga, Air menggenggam tangan Hujan yang serasa dingin bagai es balok yang baru keluar dari lemari pendingin.


"Jangan takut gitu, emang di apain sih!" ucap Air sambil terkekeh di dalam lift.


"Aku takut ternyata aku mengidap penyakit yang mematikan, umurku tak panjang lagi sampai akhirnya harus meninggal" sahutnya dengan tatapan kosong seakan tak sadar dengan apa yang dikatakan.


"Siapa yang berani bilang begitu sama kamu?"


"Dokter!" jawab Hujan.


"Siap-siap aja tuh dokter gak punya kepala" cetus Air dengan tawa kecil di sudut bibirnya.


Belum sempat Air mengetuk pintu ternyata sudah ada satu Suster yang membukanya, keduanya pun langsung masuk menemui sang dokter.


"Selamat siang, Tuan Muda dan Nona Muda"


"Siang juga, Dok" jawab Air karna Hujan hanya tersenyum simpul.


"Tolong periksa Istri saya, katanya sakit perut. Sudah di periksa oleh Dokter Milla tapi mual muntahnya tetep gak sembuh" ucap Air dengan tangan tak lepas istrinya.


"Mual muntah dan sakit perut?" tanya Dokter yang di jawab anggukan oleh Hujan.

__ADS_1


"Iya, aku mual dan pengen muntah terus, kalau sakit perut sih udah enggak"


"Nona muda sudah pasang alat kontrasepsi setelah masa Nifas kemarin?" tanya Dokter lagi yang membuat Air dan Hujan saling pandang.


"Suami saya pake pangaman"


"Iya, kan Kak" tanya Hujan pada Aur memastikan ucapanya jika selama ini semua aman.


.


.


.


.


.


.


.


Awalnya doang, pas dirasa gak enak langsung di lepas lagi!


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Ripuh lah..

__ADS_1


Heeh nu make sarung mah asa teu hot ngejeletot nyah kak 🀣🀣🀣🀣🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2