Air Hujan

Air Hujan
bab 200


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Hampir jam Lima keduanya baru berangkat dari rumah utama karna Air memilih untuk membersihkan diri lebih dulu dan itu membuat Hujan semakin kesal sebab Bunda sudah mengirim pesan padanya berkali kali.


"Yuk" ajak Air saat ia sudah rapih, wajah tampannya sama sekali tak berubah meski enam bulan kedepan ia akan menimang hasil garap tanam dan siramnya.


"Lama!" jawab Hujan ketus yang lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Air yang tersenyum merasa bersalah.


Air yang mengekor di belakang sang istri harus berkali-kali mengingatkan agar Hujan mau berhati-hati saat menuruni anak tangga.


"Ay.. turunin gak?" teriak Hujan saat Air menggendongnya ala bridal style.


"Disuruh pelan pelan gak denger, itu kuping emang gak berfungsi?" dengus Air kesal saat ucapannya di acuhkan


Hujan yang merasa memang bersalah karna mengabaikan larangan sang suami akhirnya hanya diam dan menurut sampai tubuhnya di dudukan di dalam kursi mobil.


"Diem-diem" ujar Air sebelum ia menutup pintu kereta besinya.


Air menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju rumah bunda, karna bulan ini mereka belum datang sama sekali kerumah wanita berkacamata itu dengan alasan kesibukan Air yang sering pulang bekerja lewat waktu petang.


"Tiga hari ya" ucap Hujan mengingatkan perjanjian awal mereka yang sudah di sepakati jika Keduanya akan menginap disana beberapa hari.


"Iya, Jan Hujan dereeeeeeessss" jawab Air sambil mengacak asal rambut sang istri.


.


.


Perjalanan yang lumayan macet membuat keduanya harus tiba saat langit gelap, tak ada yang mereka bawa kecuali baju dan si pisang karna Bunda sudah menyiapkan banyak makanan untuk Air dan Hujan.


"Assalamu'alaikum"

__ADS_1


"Waalaikum salam, Nak"


Hujan langsung berhambur memeluk Bunda sedangkan Air yang hanya mencium punggung tangan wanita yang sudah mengurus istrinya Itu dengan takzim.


"Kalian sehat?" tanya Bunda.


"Sehat, Bun"


Bunda langsung mengajak Hujan ke dapur sedangkan Air masuk kedalam kamarnya lebih dulu untuk meletakkan barang bawaan mereka barulah kemudian menyusul ke ruang makan.


"Banyak banget, Bun" ucap Air sambil menarik kursi sedangkan matanya fokus ke arah tiap macam makanan yang tersedia di atas meja.


"Cuma segini aja, Ay. pasti habislah" jawab Bunda.


"Habis kok, aku yakin pasti habis" balas Air yang sudah sangat tergugah selera makannya.


"Inget perut, Ay. Katanya mau diet biar kamu gak saingan sama aku?" ejek Hujan sambil mengelus perut buncit sang suami.


Ketiganya menikmati makan malam dengan di selingi obrolan ringan seputar kehamilan Hujan yang tanpa kendala atau pun keluhan berat, semuanya normal bagai bukan ibu hamil.


"Kamu jangan seneng dulu, kalo trimester awal aman biasanya saat trimester kedua atau ketiga yang rewel, jadi bersiaplah" ujar Bunda mengingatkan Hujan.


"Iya, aku kasian Papa, Bun" lirih Hujan yang seringkali memikirkan kondisi papa mertuanya itu.


"Mudah-mudahan cepat berangsur pulih ya, kamu jangan khawatir nanti bisa berpengaruh dengan bayi dalam Kandunganmu, kamu harus ingat jika anak itu keturunan siapa" bisik Bunda, Hujan dan Melisa mempunyai beban tersendiri saat mereka harus mengandung para keturunan konglomerat seperti keluarga Rahardian..


"Iya, Bun. Aku paham itu"


Hujan dan Bunda terus saja berbincang sampai keduanya tak sadar jika semua piring di hadapan mereka tak lagi berisi alias tandas tersisa, hanya ada sendok dan garpu serta sisa nasi yang tinggal setengah.


"Kak.... " ujar Hujan yang benar-benar kaget dengan kelakuan sang suami yang telah menghabiskan semuanya.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Khilaf... besok lagi dietnya, bisa?!!


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Bewh.. sagala ker mahal kak jangan rakus teuing😟😟😟


Like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2