
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
"Beli semua aja, Jan Hujan deres!" ucap Air sambil melipat tangannya di sebuah toko perlengkapan bayi di salah satu Mall milik keluarganya.
Hujan melirik tajam kearah sang suami yang memberikan ekspresi datar dan sulit di artikan, tanpa senyum sama senyum sama sekali di wajah tampannya karna sudah lebih dari empat jam istrinya itu masih memilah dan memilih apa saja yang ingin ia beli untuk buah hati mereka.
"Kan aku gak tau ini laki-laki atau perempuan" cetus Hujan yang semakin di buat pusing.
"Aku bilang beli semua!" titah pria itu lagi dengan tegas.
"Mubazir kak" kata Hujan jengkel.
"Gak apa-apa, nanti kalo gak kepake buat adeknya lagi" timpal Air begitu entengnya namun mampu membuat Hujan membelalakkan kedua matanya sempurna.
"Ini aja belom lahir udah mikirin adeknya"
Air hanya tersenyum simpul, begitupun dengan dua pelayan yang sedari tadi begitu sabar melayani nona muda mereka.
"Ya kalo dikasih lagi gak apa-apa, biar ada temennya jadi gak gangguin kita kalo lagi berdua"
Penuturan kedua dari mulut sang suami membuat ibu hamil itu kini menggelengkan kepala nya.
"Aku kira beneran mau punya anak banyak!" rutuk Hujan lagi yang di buat jengkel.
Air yang duduk disofa dengan ponsel ditangannya tak terasa sudah menghabiskan dua cangkir kopi untuk mengusir rasa kantuk dan bosannya menunggu.
Ia terus memperhatikan wanita berperut buncit itu dengan seksama, jika ia bisa tak berkedip tentu ia akan melakukannya asal sosok yang ia cintai itu gak hilang meski sedetik dari penglihatannya.
Aku mencintaimu dari dulu, hari ini hingga seterusnya!!
*****
Usai berbelanja keperluan Baby yang akan di kirim langsung nanti ke apartemen, kini mereka memilih makan siang untuk kedua kalinya di salah satu area resto cepat saji.
__ADS_1
Kali ini tak banyak menu yang di pesan karna memang Air dan Hujan sudah makan lebih dulu.
"Dikit ya, biasanya meja penuh" sindir Hujan sambil terkekeh kecil.
"Sedikit aja dulu, nanti gampang nambah" balas Air dengan senyum menggoda.
"Masih ya, ujungnya tetep ga enak."
Keduanya tertawa bersama, dan obrolan ringan pun mereka bincangkan sambil melahap satu persatu makanan yang tersaji diatas meja.
"Mau gak?" tawar Hujan saat ia menyodorkan sendok berisi coconut Waffle.
Air mengangguk sambil membuka mulutnya siap melahap isi sendok yang dipegang istrinya.
"Enak, manis, lembut, renyah" kata Air saat ia menyesap apa yang kini dalam mulutnya.
"Iya, kah?" tanya Hujan yang di jawab anggukan oleh Air.
"Iya, dong. Kamu tahu gak kaya apa?" Air balik bertanya kali ini Hujan menggelengkan kepalanya.
"Dasar otak Mesum!" ketus Hujan.
"Gak apa-apa, otakku itu harus selalu memikirkan sesuatu yang nikmat, itung-itung buat moodbooster, Jan Hujan Dereesssss" kekehnya kembali.
Hujan hanya tersenyum simpul, ia tahu kini seberat apa beban tanggung jawab yang di pukul suaminya.
Dan hanya dengan waktu mereka bersamalah yang bisa membuat sedikit beban itu menghilang.
Dengan melakukan hal yang menyenangkan misalnya, pelepasan dipuncak kenikmatan membuat Air langsung terlelap nyenyak dan bangun kembali dengan mood dan wajah lebih segar.
Hujan memang segalanya bagi Air, tak ada apapun yang bisa membuat ia nyaman selain sentuhah sang istri.
"Kamu yakin, gak akan ngaruh sama jenis kelamin anak kita? mau laki-laki atau perempuan?" tanya Hujan lagi meyakinkan.
__ADS_1
"Sebenarnya sih maunya laki-laki" jawab Air.
"Kenapa?" raut wajah panik jelas terlihat jelas.
.
.
.
.
.
.
.
Karna cukup kamu yang paling cantik di antara kami nanti.
ππππππππππππ
Cebong laknat...
tapi so sweet ππππ
Khilaf kesini, πππ
Haliwu si kakak nanarik daster wae ya Allah..
Riweh ya punya anak kembar πππ
Teu ngarti si buaya harus di tengok cenah, π€π€
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan Biar makin cemungut.