
ππππππππππ
Aku gak bisa santai kalo urusan sayang sama kamu!!!
"Bawaannya ngegas mulu ya, Ay" goda Hujan saat keduanya saling mentap Lembut kedua manik mata masing-masing.
"Iya, apalagi kalo lagi laper begini, si Devan di cocol sambel kayanya enak tuh!" timpalnya dengan ketus.
Hujan tertawa sambil mencubit pipi suaminya yang semakin gembil, Tentu sikapnya itu membuat Air semakin tak rela melepaskan pelukannya.
"Main yuk"
"Gak, Ah! aku laper" tolak Hujan mencoba melepaskan tangan Air dari pinggangnya.
"Mau makan dimana?"
"Hem, di Mall aja, Aku mau Shoping" kekeh Hujan sambil menutup wajahnya, karna ia baru saja mengatakan satu hal yang tak pernah ia minta dari suaminya.
"Tumben, ada angin apa? biasanya juga harus di paksa dulu" kata Air menatap Hujan, aneh.
"Lagi pengen ngabisin duit calon direktur"
Air mencebikkan bibirnya sebelum akhirnya mereka bangun dari posisi tidurnya.
"Ganti bajunya, jangan pake baju begitu" Titah Air saat ia meraih kunci mobil.
"kenapa?"
"Kakak berasa kaya jalan sama mbak-mbak" ketusnya yang Langsung membuat sang istri merengut kesal.
"Nah, kan cakep!" goda nya setelah Hujan berganti pakaian.
Air memang tak pernah suka jika Hujan berpakaian formal, pemuda tampan itu lebih senang melihat sang istri memakai busana casual atau baju yang kadang sama dengannya.
Hujan yang kini menginjak usia dua puluh tahun tentu semakin terlihat dewasa dan berisi begitu pun dengan Air, Meski kadang rasa cemburu, salah paham dan curiga tetap menyelimuti pernikahan mereka yang baru menginjak tahun kedua.
__ADS_1
.
.
.
"Jan, kita udah lama gak ziarah ke makam ibu sama ayah" ucap Air saat di tengah perjalanan.
"Sebulan lebih kayanya ya" jawab Hujan sambil menghela nafas, kesibukannya membuat ia kini tak mempunyai banyak waktu untuk berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir kedua orangtuanya
"Mau kapan, Sekarang?" tawar Air sambil melirik kearah Hujan.
"Minggu depan aja, Biar bisa sedikit lama disana. Ini udah siang banget"
Air hanya mengangguk paham, lalu meneruskan fokusnya lagi pada jalan di hadapannya kini yang membentang.
Obrolan ringan masih mereka bincangkan sampai mobil mewah milik Air berhenti di parkiran Mall milik keluarganya.
.
.
"Kenapa, Kok gitu? " tanya Hujan bingung yang baru tahu cerita soal ini.
"Iya, kakak dulu pernah hilang, dari situ Oppa kalo tau kita mau ke Mall pasti minta di tutup biar kakak leluasa lari juga, Hahaha" jawab Air saat keduanya berjalan beriringan di dalam Mall.
"Aneh!" cebik Hujan namun setelahnya ikut tertawa.
Hujan yang seharusnya sudah paham terkadang masih belum terbiasa dengan penjagaan ketat dan aturan konyol kelurga suaminya itu.
Ia kadang masih bingung dengan perintah dadakan yang sering ia dengar keluar dari mulut Reza alias papa mertuanya.
Belum lagi pengawalan ketat pada adik ipar bungsunya, yang membuat Hujan tercengang.
Bukan hanya satu atau dua, tapi delapan orang sekaligus siap berdiri tegap di belakang Cahaya saat gadis manja itu keluar dari apartemen, satu mobil di depan dan satu mobil di belakang dengan siaga mengantar tuan putri RAHARDIAN kemana pun yang gadis itu inginkan.
"Oppa tuh masih manjain kalian banget ya, keliatan dari sikap dan tatapannya buat kamu juga saudara-saudara kembar kamu" ucap Hujan.
__ADS_1
"Iya, kata Oppa kami tuh segalanya" timpalnya dengan bangga.
"Apa nanti papa begitu juga ke anak-anak kita, tapi kayanya papa gak pernah bahas cucu deh?" tanya Hujan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Iyalah.. papa Gajah kan gak mau makin kalah saing!!!
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Si kakak pinter π€£π€£π€£
Babang ganteng ku emang takkan terganti.
Ampe mau cucuan belom dapet cium juga πππ
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan.