Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 125


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Air dan Bumi yang mengikuti rapat bersama karna menjadi perwakilan dari Rahardian Group akhirnya bisa bernapas lega karna bisa cepat keluar dari ruangan yang menurut si kembar sangat membosankan itu.


"Abang harus cepet pulang nih, kerjaan dia numpuk di kita semua" cetus Air yang berjalan beriringan dengan adiknya menuju lift. Keduanya kini berada di kantor pusat Rahardian Group yang dipegang Langit sebagai presiden direktur menggantikan Reza, papa mertuanya yang pensiun dini saat anak-anaknya lulus kuliah kemudian langsung bekerja di perusahaan masing-masing yang sudah di wariskan sejak lama.


"Abang kan ngurus Adek" sahut Bumi ketika kedua pria tampan itu sudah berdiri tegak di dalam kotak besi khusus mereka para petinggi perusahaan.


"Jadi pengen pulang ya peluk istri"


Air dan Bumi langsung saling pandang kemudian tertawa bersama, di usia dewasa mereka yang sudah memiliki pasangan nyatanya tak mengurangi ikatan bathin yang terjalin, keduanya kerap merasakan sakit dan bahagia bersama dan tak jarang juga berbicara kalimat yang sama juga seperti barusan.


"Peluk istri sendiri sendiri ya" Ujar Bumi sambil melengos pergi lebih dulu.


"Ish, bukan cuma peluk istri tapi peluk anak juga dong" ledek Air tak mau kalah sambil menjulurkan lidah yang kemudian berlari dengan cepat, Bumi yang tak Terima di jahili hampir saja melepas sepatunya untuk di lempar kepada kakak laknatnya itu.


"Awas aja kalo aku justru bisa produksi lebih banyak!" dengus Bumi kesal.


******


Air yang pulang sedikit terlambat langsung di buat pusing dengan drama puteranya yang habis mengamuk, alih alih ingin istrirahat karna sibuk seharian malah harus bersusah payah menenangkan Samudera yang menangis sambil berguling.


"Nanti Appa pulang, dede tunggu sebentar lagi" rayu Air yang masih sabar mencoba meraih tubuh anaknya.


"Dede mahu Appa kalang, ih!" teriaknya lagi, Samudera marah karna di tinggalkan Reza saat terlelap terbuai mimpi.

__ADS_1


"Papa juga gak bisa di telepon" gumam Hujan yang juga nampak lelah karna baru pulang dari rumah sakit usai kuliah. Keduanya yang benar-benar sibuk seharian hanya memiliki waktu di akhir pekan yang di khususkan untuk Samudera ErRainly Rahardian Wijaya.


"Masih ada urusan kali, mama bilang padahal gak lama" sahut Air, ia yang sudah meminta mamanya untuk merayu pun tetap tak bisa menenangkan cucu pertamanya itu.


"Jajah dede pulang ih, dede inggal inggal. Jajah akal Oey" Sam terus saja marah-marah sambil terisak di atas karpet bahkan ia menggigit belalai boneka gajahnya untuk melampiaskan rasa kesalnya itu.


"Sama papAy yuk, kita cari es krim ya ke mini market"


"Nda mahu! dede mahu Appa" keukeuhnya sambil menyentak jengkel, semua ini tak akan terjadi jika Reza pamit baik-baik padanya buka malah pergi saat ia sedang tidur siang.


"Jajah nakal ya, Ntar kita potong, Ok"


"Nda, jajah dede ih!" Sam malah semakin histeris dan ketakutan.


Cek lek


"Noh Gajah dateng"


"Holleeeeeeee... jajah Dede bayik Oey!" teriak Sam yang langsung bangun dan berlari ke pelukan Appanya yang sudah berjongkok merentangkan kedua tangannya.


"Appa nda boyeh pelegi agih ya" pinta Sam masih terisak sedih.


"Iya, Sayang. Ini Appa udah pulang" jawab Reza yang merasa sangat kasihan melihat tututnya menangis tersedu sedu.


Air dan Hujan hanya bisa menahan tawa mereka, bagaimana drama tangis sang putra barusan yang membuat keduanya pusing tujuh keliling.

__ADS_1


Sam yang kini sudah berada dalam gendongan Reza pun melambaikan tangannya.


"Dadah moy, dadah PapAy" pamitnya sambil tertawa.


"Mau kemana?" tanya Air dan Hujan berbarengan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kandang Jajah!!!

__ADS_1



__ADS_2