
ππππππππ
Moooooy.
Samudera yang baru bangun dari tidurnya langsung duduk dengan boneka yang masih ia pegang.
"Eh.. ganteng udah bangun" sahut Hujan yang sedang menyir rambut basahnya di meja rias.
Air yang sedang memainkan ponselnya juga ikut menoleh ke arah Sam untuk memberikan putranya itu senyuman selamat pagi.
keduanya pun mendekat menghampiri anak pertama mereka itu.
"Ay, kita ke makam Embun yuk, aku kangen putriku" ajak Hujan, meski bayi mungil itu kini tak ada di dunia tapi ia kan tetap hidup di hati Air dan Hujan.
"Aku lihat jadwal ku dulu ya, nanti aku kabari lagi" jawab Air yang tak pernah mau berjanji jika ia belum tahu jelas aktivasnya di kantor.
"Tapi kalau bisa pulang lebih awal, kamu harus pulang cepet ya" pinta Hujan lagi penuh harap.
"Siap sayang, aku mandi dulu"
Air yang masuk kedalam kamar mandi meninggal kan Hujan yang masih bersama Samudera di dekat box bayinya.
"Mandi dulu yuk, habis itu kita turun untuk sarapan, Ok"
Keh.
Selesai Air membersihkan dirinya, kini saatnya bocah menggemaskan itu yang merendam tubuhnya dalam bathtub yang terisi air hangat, Sam tak pernah mau mandi dengan Air dingin jika bukan dalam kolam renang.
"Udahan yuk"
Nda.
"papAy mau kerja, kita sarapan sama-sama ya"
Iyyaah..
.
.
.
__ADS_1
"Kakak kebiasaan nih, suka kuncir rambut dede" protes Hujan saat ia meminta tolong suaminya yang memakaikan baju karna perutnya yang tiba-tiba sakit.
"Kuncirannya pake karet double lagi, ada dua" timpal Reza yang terkekeh.
"Anakku kan spesial, Pah" sahut Air.
"Itu anak apa nasi goreng?" balas Melisa yang tak mau kalah.
Perkara karet saja sudah membuat keluarga itu sangat ramai penuh gelak tawa, tak adanya yang saling mengalah antara Reza dan Air saat berdebat tentu menjadi ciri khas dalam keluarga Rahardian.
"Nanti kalau kakak gak sibuk banget, habis makan siang mau ke makam Embun" ucapnya sebelum menyuapkan suapan terakhir makanannya kedalam mulut.
"Iya, kita terakhir kesana sebelum Sam ulang tahun, 'kan?"
Hujan dan Air hanya mengangguk, Keduanya masih merasa sesak dalam hati jika mengingat putri kecil mereka yang seharusnya kini sudah berusia beberapa bulan.
"Ya sudah, Papa dan Mama titip doa saja untuk Embun"
.
.
.
Air pergi ke kantor, Melisa dan Hujan masih berada di dapur sedang Reza sudah pasti mengasuh buntut gajahnya. di ruang TV.
Tak ada yang di lakukan mantan presiden direktur itu setelah anak-anaknya sudah menjalankan perusahan masing-masing, ia hanya fokus pada Samudera dan Khumairahnya saja.
"De' nyanyi yuk"
Apa?
"Nyanyi balonku ada lima ya"
Iyyaah.
"Sip, kita mulai sekarang, ok"
Keh
Reza tertawa lepas saat melihat Samudera yang begitu sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Balonku ada?"
Anyak,
"Lima de' bukan banyak"
Ima
"Ulang ya, balonku ada.... "
Ima
"Pinter, rupa rupanya warnanya, merah kuning kelabu merah muda dan biru, meletus balon hijau"
Ddooooooooorrrrr.
Dadet, dede...
Reza bukan meneruskan nyanyiannya ia malah tertawa sampai terpingkal pingkal melihat ekspresi kaget Samudera sambil memegang dadanya sendiri, belum lagi matanya yang semakin bulat sempurna.
"Terusin ya, hatiku sangat kacau balonku tinggal empat ke pegang erat-erat"
"Horeeeeeeeeeee"
Reza bertepuk tangan tapi tidak dengan Sam yang nampak bingung.
"Kenapa?" tanya Reza.
.
.
.
.
.
.
Bis, beyi agih yuk...
__ADS_1
beli sono sekalian sama pabriknya tuh balon π€£π€£π€£π€£