
π»π»π»π»π»π»
"Diandra" gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun itu pun menerima uluran tangannya, ia tersenyum manis seperti biasanya.
"Baru liat, jarang nongkrong ya?" tanya Diandra.
"Hem, iya." jawab Air singkat sambil melepaskan tangannya.
"Yuk, panas nih"
Diandra langsung bergelayut pada lengan pemuda yang jelas tiga tahun lebih muda darinya itu menuju teman-teman yang lain.
Wajah cantik dan murah senyumnya di sambut baik oleh semua orang yang menunggu kedatangan Diandra usai latihan.
"Keren lah, lo pasti menang!"
"Ratunya jalanan!"
"Semangat, Dee"
" Gak akan ada yang bisa kalahin Lo"
Itulah beberapa sanjungan dan penyemangat untuk Diandra yang biasa di panggil Dee.
Ia hanya mengangguk sambil mengucapkan banyak terimakasih untuk semua orang yang telah mengsuportnya.
"Lo dateng ya pas gue tanding nanti" pinta Dee pada Pemuda di hadapannya itu.
"Kalo sempet gue pastiin buat dateng kok" jawab Air yang kini di buat penasaran oleh aksi Diandra di jalanan.
"Ngarep banget gue buat Lo dateng, Air" ucapnya yang sedikit canggung.
"Panggil Ay aja" pinta pemuda yang berstatuskan suami dari Hujan itu.
Obrolan keduanya terhenti saat salah satu temannya memanggil Air dan Diandra untuk makan-makan di tempat yang sudah di sediakan, gadis itu tanpa bertanya lagi langsung menyiapkan piring berisi lauk dan sayur untuk Air.
"Makan dulu" titah Diandra sambil menyodorkan makan yang sudah ia ambil kan tadi.
"Gue bisa ambil sendiri, Dee" ucap Air yang sedikit terkejut dengan sikap Diandra seakan mereka sudah kenal lama.
"Gak apa-apa, sekalian"
Keduanya makan bersama di meja yang terpisah dengan yang lain karena keinginan Diandra.
Obrolan ringan untuk saling mengenal di antara mereka pun terus berlanjut sampai makanan habis tak tersisa.
"Mau stay disini?" tanya Air kemudian saat tahu ternyata Diandra baru dua Minggu tinggal di kota.
__ADS_1
"Iya, nanti anter gue muter muter kota ya" kekehnya sambil mengedipkan satu matanya membuat Air tergelak.
"Naek odong-odong aja, nanti gue sewain kalo Lo mau buat muterin kota sampe Lo muntah" jawab Air sambil tertawa.
Diandra memanyunkan bibirnya, mirip sekali dengan sang istri jika sedang kesal jika ledek olehnya.
Satu persatu temannya berpamitan karna waktu semakin sore menjelang malam.
Begitupun dengan Air yang mulai memakai jaketnya bergegas bangun dari duduknya.
"Lo mau pulang?" tanya Diandra saat Air berdiri.
"Iyalah masa gue nginep" jawabnya santai.
"Anter gue balik ke kos'an mau gak?" pinta gadis itu yang juga sudah ikut berdiri.
"Motor Lo kenapa?"
"Gak apa-apa, kita dua motor, haha" sahutnya sambil tertawa.
"Gak Kurang kerjaan amat gue!" balas Air sambil menggelengkan kepalanya.
Dulu saja sebelum menikah ia paling malas mengantar para kekasihnya, apalagi ini bukan pacar dan sudah memiliki istri, pikirnya.
"Duluan ya" Pamit Air yang tak memperdulikan lagi Diandra, ia hanya menoleh lalu melambaikan tangan saat gadis itu memanggil namanya berulang kali.
Awas Lo Ay.. berondong jual mahal!
Air menghentikan motornya di depan rumah utama menuggu para penjaga membukakan pintu gerbang untuknya.
Ommanya yang kebetulan ada di teras langsung menyunggingkan senyum saat cucu pertamanya itu datang.
"Kok diluar, kan dingin banget" ucapnya sambil memeluk ibu dari papanya itu.
"Iya sayang, mungkin firasat kalo gantengnya omma mau dateng" jawab wanita baya itu.
Keduanya masuk kedalam dengan Air merangkul bahu omma sampai ke dalam kamar.
Oppa yang sedang duduk bersandar di punggung ranjang sedikit terkejut dengan datangnya sang cucu.
"Wah.. Kesayangannya Oppa baru jengukin kesini" Sindir pria baya itu yang sudah merentangkan tangannya siap memeluk cucu cengengnya.
"Maaf, kakak baru sempet" Air langsung menangis dalam dekapan Oppa, hatinya yang mudah tersentuh langsung sedih mendengar keluhan Oppanya yang membuat ia sangat merasa bersalah.
"Ada apa?, mana mantu Oppa?"
"Ada di apartemen" jawab Air di sela isak tangis kecilnya.
"Kakak dari mana? kenapa gak di ajak?" tanya omma sambil mengusap lengan cucunya yang masih dalam dekapan sang suami.
__ADS_1
"Kakak abis main"
Ketiganya terus mengobrol Sampai jam makan malam dan setelahnya Air berpamitan untuk masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri.
CEKLEK..
Air membuka pintu kamarnya di lantai dua, kamar yang berukuran sangat besar melebihi kamarnya di apartemen. Ia melangkah kan kakinya menuju tempat tidurnya membaringkan tubuh lelahnya disana.
Air merogoh ponsel di saku celana, ia tersenyum kecil saat ada ratusan missed call dan ratusan juga pesan dari istrinya yang ia tinggal hari ini.
Tapi Air masih mengabaikannya, Ia memilih mengirim pesan lebih dulu pada adiknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bu... bawain Pisang kakak kerumah Oppa ya!
Emang cuma si pisang ya kak yang selalu ada π€π€ dalam suka dan duka.
Awas tuh bini di gondol biawak ππ
Laganya gak mau pulang.
Cih.. pundungan ππ
Mirip siapa?
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan β€οΈπβ€οΈ