Air Hujan

Air Hujan
Manis


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Bayinya bobo mulu, dede cium gak bangun bangun" keluh Sam pada Gajahnya yang baru masuk kedalam kamar Awan dan Senja.


"Bayinya capek abis begadang" Jawab Reza sambil mendudukkan sang Tutut di atas pangkuannya. Keduanya langsung mengobrol seperti biasa, saling bercerita dan bercanda bagai dunia milik berdua.


"Tutut markentut mau jus belly gak?" tawar Cahaya.


"Nda, dede udah minum susu belly" tolak nya yang malah mengeratkan pelukan. Ia akan mematenkan Appanya jika onty Cahaya sudah datang mendekat. Anak bungsu dan cucu pertama yang tak pernah akur sama sekali.


.


.


Dua hari menginap di kediaman Biantara membuat Sam banyak membawa cerita untuk orangtuanya. Ia yang tak sabar terus merengek meminta pak supir lebih cepat melajukan kendaraan yang ia tumpangi bersama Amma dan Appanya.


"Sabar de' kan harus hati-hati." kata Reza memberi pengertian.


"Kalo papAy dede yang bawa mobil pasti sudah sampai rumah utama, papAy kan bawanya kaya terbang."


Wwwuuuussshhhhhh....


Reza dan Melisa pun langsung tertawa, celoteh Tutut Jajah memang selalu mengundang gelak tawa. Sam adalah dunia paling indah di penghujung hari tua sang Tuan dan Nyonya besar Rahardian.


"Yeee.. sampai di rumah. Dede kangen Moy loh sama papAy juga" ucapnya tak sabar ingin segera turun..


Bocah tampan itu segera masuk kedalam rumah utama dengan sedikit berlari, menaiki lift agar cepat sampai di lantai dua.

__ADS_1


Tok... tok... tok..


"Moy, dede pulang loh"


Teriakan Sam membuat Hujan menoleh dan cepat bangun dari duduknya. Jika itu benar anaknya tentu ini lebih cepat dari perkiraan awal yang akan kembali malam nanti.


Cek lek..


"Dede udah pulang, Sayang" pelukan hangat pun mereka rasakan, dua hari tak bertemu tentu menyisakan rindu yang teramat dalam di hati ibu dan anak tersebut.


"Udah, bayinya bobo terus, dede mainya sama Jajah lagi, sama jajah lagi" jawab Sam mengawali ceritanya dengan lumayan heboh.


"Kalau gitu gak usah jauh jauh kerumah Onty dong kalau main sama Appa, iya kan?"


Hujan menggandeng tangan Sam untuk masuk kedalam kamar, anak itu sempat celingukan saat tak melihat sosok pria kebanggaannya.


"Pay mana?" tanya Sam yang sudah sangat penasaran.


Sam hanya mengangguk paham, seperti biasa ia akan naik keatas paha Hujan saat ingin bercerita. Wanita cantik si calon dokter itu pun sudah siap dengan melebarkan telinganya.


"Dede mahu bayi, boleh?"


"Loh, kan itu udah ada empat" jawb Hujan.


"Tapi dede mahu disini, Moy" rengek Sam. Dan ini bukan yang pertama kalinya si tampan ribut soal bayi.


"Bayi kucing dede kan banyak di rumah Bunda" ledek Hujan sambil tertawa.

__ADS_1


Cek lek.


Air tersenyum saat masuk kedalam kamar, langkah kakinya sedikit tergesa saat melihat Sam ternyata sudah pulang.


"Jagoan papAy ada disini, kapan dateng?"


"Tadi, barusan" jawab Sam dengan kedua mata melirik kearah meja.


"Pay, bawa apa?"


"Bawa kue nanas, tadi pagi dapet di kasih dari onty yayang, enak deh" Ucap Air yang lalu memberikan sepotong kue berwarna kuning itu pada putranya.


"Asem nda?"


"Enggak, de' masa iya asem sih" timpal Hujan yang malah sibuk melakukan sesuatu pada rambut anaknya.


"Kan nanas suka asem, Pay"


"Tapi ini manis, coba gigit dulu" titah Air.


.


.


.


Hem... iya. Manis banget kaya omongan papAy...

__ADS_1




__ADS_2